Pernikahan Tanpa Cinta

Pernikahan Tanpa Cinta
74


__ADS_3

━━━━━━━⊰✿✿⊱•━━━━━━━


 كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ


“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang–pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.”


[ Surah Az- Zariyat Ayat 49 ]


━━━━━━━⊰✿✿⊱•━━━━━━━


"Kamu mau kemana, Ra?" Bara berbisik pada Famira yang beranjak bangkit dari duduknya.


"Mau jemput istri kak Erwin ke kamar atas, Mas," jawab Famira antusias. Wanita yang menggunakan gaun brokat warna pastel ini mencebik kesal pada suaminya karena selalu saja menahan tangannya.


"Nggak-nggak! kamu duduk aja samping Mas. Kamu masih sakit!" Bara melarang keras Famira untuk pergi ke mana pun. Pria yang menggunakan jas hitam itu makin mempererat genggaman tangannya.


Famira menggembungkan pipinya, membuat Bara merasa gemas dengan tingkah istrinya.


"Cuman ke atas Mas, Famira udah sehat kok." Famira berucap memohon.


"Nggak boleh, Ra!" Bara tetap kukuh.


"Ayah ...." aduh Famira pada Vernandes yang duduk di hadapannya.


Vernandes membalikkan badannya menghadap putrinya. "Iya, Nak. Ada apa?"


"Mas Bara semakin hari, semakin kejam pada Famira. Nggak izinin Famira pergi ke mana-mana walaupun itu di dalam rumah. Huft ...," Famira mengembuskan napas berat melihat suaminya semakin posesif terhadap dirinya.


Vernandes tersenyum kecil, baru pertama kali melihat sisi manja dari sosok Famira.


"Biar Ayah hukum nanti," sahut Vernandes lalu mengecup kening putrinya.


"Khem ..." Bara berdehem melihat Vernandes mencium kening istrinya, "kita main secara laki, Yah. Bagaimana?" tawar Bara menantang.


Vernandes menggelengkan kepalanya pelan, terlihat sekali bahwa menantunya itu sedang cemburu kepada dirinya.


"Baiklah, Ayah terima tantangan kamu. Nanti malam, awas saja kamu kalah, Ayah nggak akan izinin kamu tidur dengan Famira selama tiga malam," jawab Vernandes diakhiri elak tawanya.


"Bara pasti menang dari, Ayah."


Famira tidak mengerti permainan apa yang sedang dibicarakan kedua pria itu.

__ADS_1


"Jangan lama, Ra. Mas nggak akan tahan jauh-jauh dari kamu." Bara menarik lembut tangan Famira sebelum bangkit berdiri.


"Nggak akan lama kok, Mas."


Satu kecupan mendarat di pipi Famira, membuat Famira malu karena sudah banyak orang yang hadir. "Jaga sikap, Mas. Bagaimana pun banyak orang yang lihat disini."


"Mas nggak peduli, sayang!" jawab Bara.


"Mas memang keras kepala," tutur Famira mencubit pinggang suaminya itu sebelum bangkit berdiri.


"Kalau badan kamu sampai kenapa-kenapa dan lecet, jangan salahkan Mas untuk menghancurkan apa pun yang kamu lewati!" Bara berteriak mengancam. Famira tidak menanggapinya ancaman suaminya.


"Bara, Bara." Mama Ani dan Papa Andi yang sudah hadir tersenyum tipis mendengar ancaman Bara.


"Persis seperti, Papa waktu dulu," ucap Mama Ani kepada Papa Andi.


****


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


“Menikah adalah sunnahku, barangsiapa tidak mengamalkan sunnahku berarti bukan dari golonganku. Hendaklah kalian menikah, sungguh dengan jumlah kalian aku akan berbanyak-banyakkan umat. Siapa memiliki kemampuan harta hendaklah menikah, dan siapa yang tidak hendaknya berpuasa, karena puasa itu merupakan tameng.”


"Saya nikahkan dan kawinkan kau Erwin Martadinata dengan putriku, Mufdilla Dzakiyah dengan seperangkat alat sholat dibayar tunai." Suara bapak Hamid memecahkan keheningan yang sempat terjadi di ruangan tempat dilaksanakan ijab qobul.


"Bagaimana para saksi?" tanya penghulu.


"Sah!"


"Sah!"


"Sah!"


Sahutan demi sahutan dari para saksi-saksi terdengar. Erwin bernapas lega akhirnya dia mengucapkan ijab qobul dengan sekali tarikan napas. Iringan doa sejenak dan tak lupa mengucapkan alhamdulillah atas kelancaran proses ijab qobul.


Acara ijab qobul dilaksanakan di kediaman keluarga Martadinata. Di hadiri keluarga inti Martadinata. Keluarga besar Wijaya diundang dalam proses ijab qobul dan beberapa kolega bisnis turut menghadiri acara yang sakral antara Erwin dan Dilla.


Haru, bahagia menyelimuti suasana di ruangan yang sudah di desain khusus dengan pernak-pernik pernikahan.


Dilla menatap langit-langit kamar saat ijab qobul sudah terucap. Beberapa kali dia mencoba menahan air mata namun, berkali-kali pula ia merasa gagal. Dengan gerakan cepat ia menghapusnya kemudian tersenyum pahit.


'Kamu bisa, Dilla, kamu bisa. Jangan menangis, jangan menangis,' ucap Dilla dalam hatinya mencoba menerima semua takdir Tuhan yang terjadi pada dirinya

__ADS_1


"Ayo kita turun." Famira meraih tangan Dilla, Famira tersenyum tipis. Dia memang tidak mengenal gadis di hadapannya itu namun, Famira yakin Dilla adalah gadis yang baik. Dengan senang hati Dilla mengaguk kecil.


Netra hitam milik Erwin jatuh pada gadis yang sudah sah menjadi istrinya yang sedang menuruni tangga bersama Famira. Tak terkecuali Erwin seluruh tamu undangan yang hadir menatap penuh kagum pada mempelai wanita.


Dilla sungguh cantik dan elegan menggunakan gaun pengantin muslimah dengan paduan broken white dan khaki dan tak lupa mahkota kecil menghiasi kepalanya.


"Ini cincin kawinnya, Nak." Vernandes memberikan kotak bludru merah ke tangan putranya.


Erwin menerimanya, netranya tak henti-henti menatap wanita yang duduk di sampingnya.


Dilla menundukkan kepalanya, desiran aneh di rasakan saat Erwin meraih tangannya. Erwin berkeringat dingin memasangkan cincin itu di tangan gadis yang sudah sah menjadi istrinya itu.


Jantung Dilla bertalu-talu tak karuan, bening air mata jatuh saat Erwin berhasil memasangkan cincin berlian di jari manisnya. Dilla pun melakukan yang sama memasangkan kembali cincin berlian di tangan suaminya.


"Cium kening lagi ...." Gilang berucap semangat dengan nada suara cukup keras, membuat tamu undangan tertawa kecil mendengarnya. Dia turut bahagia melihat sahabatnya itu menikah.


Erwin menghela napas gugup, Dilla menundukkan wajahnya tak kuasa menatap manik kehitaman milik pria di depannya. Jemari kokoh Erwin menangkup wajahnya. Kecupan di kening membuat jantungnya bertalu-talu. Napasnya tersengal hebat merasakan benda kenyal masih setia menempel di keningnya.


Setelah Erwin melepas ciuman di kening Dilla, giliran Dilla meraih punggung tangan Erwin dan menciumnya.


Bening air kembali jatuh dan jatuh di pelupuk mata Dilla. Erwin mengangkat dagu wanitanya, menghapus bening air mata di wajah istrinya itu.


"Ana uhibbuki fillah, Mufdilla Dzakiyah."


Dilla terdiam sejenak, mencoba mengatur detak jantungnya yang tak karuan. Sungguh Dilla tidak percaya apa yang terjadi padanya saat ini. Apalagi dengan sikap atasannya itu yang kadang menyebalkan dan dingin sekarang berubah drastis.


Erwin bernapas gusar, saat belum mendengar sahutan dari istrinya itu.


"Ana uhibbuka fillah, Erwin Martadinata."


Dilla menjawabnya dengan gugup, menundukkan kepalanya dalam-dalam karena masih malu.


"Yeah ... Paman ganteng Erwin udah nikah." Kila yang turut hadir berteriak bahagia.


"Bang Erwin akhirnya nikah juga ...." giliran Rendi yang berteriak. Pria yang menggunakan jas hitam itu hanya diam sedari tadi, kini bersuara. Meski sakit saat melihat gadis yang dicintai menikah dengan pria lain. Rendi tetap menyinggung senyum tipis, entah alasan apa yang membuat dia berhenti memperjuangkan Dilla.


Dilla mendogak kepalanya setelah mendengar suara Rendi, menatap lekat wajah Rendi yang sedang mengedipkan sebelah matanya ke arah dirinya. Sorot kesedihan masih dapat Dilla lihat meski pria yang duduk tak jauh itu berusaha menyembunyikan dengan senyuman.


"Aku tunggu cerita malam pertama kamu Dilla, sama Bang Erwin, hahaha ..." kalimat jeneka keluar dari bibir Rendi. Orang-orang yang mendengar itu merasa terhibur dengan guyonan dari Rendi.


Dilla yang mendengar itu mengangkat kepalan tangannya.

__ADS_1


'Kamu menyebalkan, Ren ..." gumam Dilla.


__ADS_2