
"Mas Erwin," panggil Dilla dari ambang pintu kamar. Dilla tampak tersenyum kecil melihat suaminya memijat pundak mertuanya.
Erwin yang sedang fokus memijat pundak Vernandes menoleh ke arah Dilla. "Ada apa, Sayang?" tanya Erwin langsung bangkit berdiri menghampiri pujaan hatinya.
"Aku sudah ngantuk, Mas." Dilla sudah puas berbincang-bincang dengan Famira dan ummi Hana. Jarum jam juga sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, wajar dia sudah lumayan ngantuk berat.
Erwin tidak segan-segan mengecup puncak kepala Dilla yang dilapisi jilbab itu dihadapan Bara dan Vernandes. "Ya udah, kita pulang sekarang." Erwin menggandeng mesra tangan Dilla.
"Yah, Erwin pulang dulu. Assalamu'alaikum," pamit Erwin mencium punggung tangan Vernandes begitu pun dengan Dilla.
"Wa'alaikumussalam ...."
Erwin tersenyum mengejek ke arah
Bara. "Semangat adik ipar, aku bantu doa aja," ucapnya menepuk pundak Bara sebelum benar-benar pergi.
"Terserah lo!" sahut Bara.
Vernandes beringsut duduk, pegal-pegal di tubuhnya lumayan sudah hilang.
"Boleh ayah tidur di kamar kamu, Nak?"
"Kenapa harus tidur dengan Bara, Yah?" Bara bertanya balik.
Vernandes cengir kuda, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Nggak ada teman buat ngobrol aja saat tidur. Kamu juga nggak punya teman tidur. Biar ayah temenin."
Bara menaikkan sebelah alisnya mendengar hal itu. "Ayah sepertinya kesepian, menurutku mendingan Ayah nikah, deh!" Bara memberikan saran.
Vernandes kembali tersenyum kecil mendengar penuturan menantunya itu. "Ada-ada saja kamu Bara. Ayah tidak niat nikah lagi. Umur ayah tidak muda lagi."
"Becanda, Yah. Siapa tahu Ayah minat nikah lagi."
"Cukuplah dua wanita hebat dalam hidup ayah. Walaupun mereka sudah kembali ke sang pencipta terlebih dahulu."
Bara memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap Vernandes, pria ini jadi tertarik mengobrol dengan ayah mertuanya itu.
"Bagaimana rasanya punya dua istri, Yah? Bara ingin mencoba juga ..." Ucapan Bara tergantung saat melihat kehadiran Famira di kamarnya. Bara sudah menunduk ketakutan melihat kemarahan di wajah Famira.
__ADS_1
"Hm, Mas Bara mau nikah lagi? Silahkan Mas. Tapi, ingat! Ceraikan Famira dulu," tegas Famira, Famira tidak sengaja mendengar ucapan Bara. Famira berjalan ke almari mengambil sebuah buku tentang kehamilan. Hitung-hitung menambah wawasannya. Dia ingin membacanya sebelum tidur.
"Kalau kamu sampai menikah lagi Bara! Siap-siap ayah akan mematahkan tulang kamu sampai remuk." Vernandes mengangkat kepalan tangannya yang sudah mulai keriput itu. Emosi cukup naik.
"Eh, bukan gitu maksud Bara, Yah." Bara segera bangkit menyusul Famira yang sepertinya sudah terisak.
"Ra, mas cuman becanda kok. Mana mau mas nikah lagi," ujar Bara menahan tangan Famira. Menarik tubuh istrinya ke dalam dekapannya. "Becanda, Sayang," tegasnya kembali.
Famira tidak menjawab apa pun.
"Sayang." Bara mencakup pipi Famira menghapus jejak air mata yang masih jatuh di pipi Famira.
Famira menatap netra cokelat milik suaminya. "Iman Famira masih lemah, Famira tidak sanggup di poligami, Mas. Hiks ...." Famira menggelengkan kepalanya, Famira benar-benar takut kehilangan sosok suaminya itu.
"Mas sudah bilang, cuman becanda, Sayang. Kamu istri mas satu-satunya sampai maut memisahkan kita," jelas Bara penuh keyakinan.
Famira mengeratkan pelukannya. "Famira begitu pun sebaliknya."
"Sekarang kamu harus istirahat, Sayang." Bara menuntut Famira ke dalam kamar ummi Hana. Famira membaringkan tubuhnya, Bara menyelimuti tubuh Famira dengan selimut. Kecupan singkat mendarat di kening Famira.
"Jangan minta yang aneh-aneh dan membuat bunda kecapean, Nak." Bara mencium lembut perut Famira.
****
Ketika hijrahmu begitu sulit, coba pelan-pelan yang penting istiqomah.
"Maka, beristiqomahlah ( tetaplah ) pada jalan yang lurus menuju kepada Allah dan mohonlah ampun kepada-Nya. ~ QS. Fushshilat : 6
Beberapa hari kemudian, Jessika akhirnya diizinkan untuk pulang oleh pihak rumah sakit karena kondisinya sudah benar-benar pulih.
Jessika menatap dirinya di depan cermin besar di dalam kamarnya. Tersenyum tipis melihat penampilannya yang benar-benar sudah berubah. Tubuhnya sudah tertutup rapi dengan gamis yang menjuntai ke seluruh tubuhnya. Tak lupa jilbab pashmina senada dengan gamisnya. Benar-benar berubah dari penampilannya sebelumnya.
'Bismillah, semoga aku bisa istiqomah ya Allah.' Jessika mengambil tas selempangnya, dia sore ini akan pergi ke kediaman Bara. Ingin menemui kakak iparnya. Perubahannya yang sekarang tak luput dari bantuan Famira yang selalu membantu dan mengajari berbagai hal tentang ilmu agama. Hijrah itu gampang tetapi istiqomah yang sulit. Semua orang bisa berhijrah tetapi tidak semua orang bisa istiqomah. Semua kembali ke diri setiap orang-orang masing-masing.
Jessika menuruni tangga dengan hati penuh kegembiraan, senyum tipis terus terukir di bibirnya mungilnya.
Mama Ani, papa Andi yang sedang duduk di sofa menatap penuh kagum dan kebanggaan tersendiri melihat perubahan putrinya itu.
__ADS_1
"Ma, Pa. Jessika cantik nggak, pakai pakaian seperti ini?" tanya Jessika antuasias.
"Tentulah cantik Sayang, adem mama lihatnya." Mama Ani menarik pipi putrinya itu.
"Kalau papa masih muda, papa langsung ngelamar kamu, Nak. Baru ini anak papa." Papa Andi mengusap lembut kepala putrinya itu.
"Jessika minta Papa dan Mama doain Jessika. Agar Jessika tetap istiqomah."
"InsyaaAllah, selamat niatmu karena Allah semua akan akan berjalan dengan penuh nikmat. Walaupun kadang-kadang merasa sulit di awalnya, Sayang. Mama yakin kamu bisa menghapi semuanya," tutur lembut mama Ani.
"Oke, Ma. Jessika ke rumah kak Bara dulu, assalamu'alaikum," pamit Jessika mencium punggung tangan mama Ani dan papa Andi.
"Wa'alaikumussalam, Nak. Hati-hati ....," kata papa Andi, Jessika mengaguk kecil. Mama Ani memeluk tubuh suaminya, "Mama bahagia melihat Jessika sudah berubah, Pa."
"Papa juga, Ma."
Mama Ani dan papa Andi saling berpelukan penuh kebahagiaan, menatap punggung putrinya itu yang sudah mulai hilang di depan pintu.
Selang beberapa menit kemudian mobil milik Jessika tiba di kediaman Bara.
"Non Jessika, cantik sekali," puji bibi Ina yang sedang menyapu halaman rumah.
"Bisa aja, Bi. Jessika jadi malu loh di puji," sahut Jessika tersenyum tipis. Jessika kembali melangkahkan kakinya menuju dalam rumah.
Deg!
Langkah Jessika terhenti seketika saat berpapasan dengan Rendi. Begitu pun dengan Rendi.
Saling memandang satu sama lain, tanpa ada tegur sapa. Rendi memandang dengan intens wajah Jessika yang sudah menunduk di hadapannya itu. Jantung pria ini bertalu-talu tak karuan melihat perubahan drastis dari Jessika.
'Cantik.' pujian itu meluncur saja dalam benak Rendi.
"Khem." Bara berdehem dari belakang melihat kedua insan yang masih terdiam itu.
"Jangan pandang terus adik gue Ren, kalau mau bawa ke KUA langsung. Biar halal di pandang." Bara menepuk pundak Rendi, "Gue sudah merestui lo," sambungnya lagi.
Jessika mencebik kesal. "Kak Bara, jangan buat Jessika malu, ih!" ucap Jessika, dia langsung berlari kecil ke dalam rumah. Pipinya sudah bersemu merah.
__ADS_1
Rendi tersenyum tipis. "Gue masih perlu banyak restu dari keluarga lo, sebelum ke KUA."
"Itu urusan gampang, gue akan bantu lo!"