
“Jessika cinta, Jessika cinta sama Kak Ren. Ayo jawab, Kak Ren juga cinta 'kan sama Jessika?” Jessika bertanya pada Rendi yang sudah tidak bernyawa itu. Jessika menggoyangkan lengan Rendi, berharap ada sebuah keajaiban Rendi terbangun kembali. "Jawab Kak Ren, hiks ... hiks." Tangisan Jessika sudah mulai melemah, tangannya masih menggengam erat tangan Rendi.
"Jessika kamu harus kuat dan ikhlas. Tuhan lebih mencintai Rendi saat ini," ucap Dilla menarik tubuh Jessika ke dalam dekapannya. Memberikan semangat kepada gadis itu, padahal dirinya juga rapuh saat ini. Dia juga merasa kehilangan dengan sosok Rendi.
Jessika menggelengkan kepalanya cepat. "Jessika nggak rela, Kak Dilla!" Jessika kembali ke brankar Rendi menggerakkan tubuh Rendi yang sudah kaku.
"Bangun Kak Ren, aku mohon ...!" isak Jessika, tangisannya semakin pilu. Membuat orang-orang yang ada dalam ruangan tersebut kian terlarut dalam kesedihan. Jessika benar-benar tidak terima dengan kenyataan yang begitu menyakitkan ini.
Bruk!
Seketika tubuh Jessika ambruk di atas tubuh Rendi, gadis itu sudah tidak sadarkan diri lagi. Fisik dan batin Jessika sudah lelah.
Bara segera menggendong tubuh adik perempuannya itu ke dalam ruang rawat.
Bara juga sudah memberitahu kabar duka ini kepada bibi Rendi yang ada di kota B. Rendi di rawat oleh bibinya sejak umur 10 tahun, setelah kedua orang tuanya meninggal. Bahkan Rendi sudah menganggap bibinya itu ibunya sendiri.
Tentu saja bibi Rendi yang ada di seberang sana benar-benar syok, dia segera melakukan penerbangan hari itu juga, padahal baru dua jam sebelum kejadian penembakan itu dia berbicara melalui via telepon dengan keponakannya itu. Bercerita tentang banyak hal.
••••
Keesokan pagi ....
Matahari nampak bersembunyi di balik awan hitam. Gemuruh petir saling bersahutan, mengiringi langkah kaki orang-orang yang mengantarkan Rendi ke peristirahatan terakhirnya.
"Selamat jalan, Ren. Gue akan tepati semua keinginan lo yang belum terwujud. Semoga lo bahagia di sana. Berisitirahat dengan tenang, Ren," ucap Bara pada makam yang bertuliskan nama 'Arsa Rendi Chandra' setelah semua orang telah pergi, hanya tinggal keluarga inti saja dan sahabat dekat Rendi.
"Semoga kamu tenang di alam sana, Ren. Kami akan selalu mendoakanmu. Semoga tempatmu adalah surga," ucap Dilla. Wanita itu langsung menangis di pelukan Erwin.
__ADS_1
"Aamiin." Mereka mengamini ucapan Dilla.
Rintik hujan sudah mulai berjatuhan di atas tanah.
"Jessika, kita pulang sekarang." Famira menarik lembut tangan Jessika untuk bangkit.
Mata Jessika sudah sangat sembap, dengan cepat Jessika menggelengkan kepalanya. "Aku mau disini sebentar lagi," jawabnya dengan sendu.
"Jessika, jangan seperti ini. Kamu harus ikhlas. Rendi sedih bila melihatmu seperti ini, Dek," kata Bara.
"Jessika ingin disini!" ucapnya lagi tetap keukeh. Tidak peduli dengan perintah kakak laki-laki itu.
Bara mengembuskan napas panjang. "Kami tunggu di mobil," ucapnya dibalas anggukan kecil oleh Jessika.
Jessika menabur bunga di gundukan tanah yang basah itu dengan tangan bergetar. Tersenyum pahit, sungguh Jessika tidak terima dengan takdir ini! Dia merasa Tuhan tidak adil kepada dirinya.
"Baik-baik disana yah, Jessika tidak yakin bisa melupakan dan mengikhlaskan perpisahan ini. Jessika nggak bisa Kak Ren!" Jessika kembali terisak. Gadis ini tidak peduli dengan hujan yang semakin turun dengan derasnya.
Jessika mengusap air matanya secara kasar. Dia tidak boleh cengeng, harus kuat. Gadis ini berhenti menangis, dia berdoa dalam hatinya untuk Rendi. Setelah selesai berdoa, dengan penuh keterpaksaan Jessika bangkit berdiri. "Aku akan sering datang ke sini, Kak Ren. Hati Jessika masih milik Kak Ren sepenuhnya," ucapnya sembari mengusap batu nisan Rendi.
••••
Suara hewan malam melonglong di luar. Seperempat menit lagi waktu tengah malam tiba, tetapi gadis yang menggunakan piyama lengan panjang warna biru itu belum bisa menutup mata. Dia masih berdiri di balkon kamar. Entah berapa menit lagi harus menunggu kantuk tiba. Apa mungkin sepertiga menit atau bahkan jam?
Jessika mendogak kepalanya menatap bintang dengan tatapan hampa. Senyum sudah hilang di bibir gadis ini. Andaikan dia bisa mengulang waktu, dia tidak ingin merasakan semua ini.
Aku masih saja belum yakin dan percaya,
__ADS_1
Nyatanya benar, kau telah pergi selamanya.
Lalu, bagaimana janji yang kau ucapkan?
Bagaimana kelanjutannya?
Bukankah kita sudah berjanji untuk melanjutkannya?
Bukanlah rencana harus ditepati?
Kenapa? Kenapa takdir malah jadi penghalang?
Kenapa? Aku tak tahu kenapa,
Yang jelas rasa sakit ini tak terbendung,
Rasa sedih ini enggan urung.
Ya Allah, kenapa begitu cepat? Kenapa sesingkat ini?
Aku merasa dunia amat gelap.
Tapi tidak mengapa, aku yakin ini adalah, bukti
bukti bahwa Kau begitu menyayanginya.
Aku rela.
__ADS_1