Pernikahan Tanpa Cinta

Pernikahan Tanpa Cinta
45


__ADS_3

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam bersabda ;


"Jika seorang wanita melaksanakan shalat lima waktunya, melaksanakan shaum pada bulannya, dan menaati suaminya. Maka, ia akan masuk surga dari pintu mana yang ia kehendaki."


[ HR. Ibnu Hibban ]


"Paman Rendi, kenapa mata Kila di tutup sih?" tanya Kila kesal.


"Anak kecil nggak boleh lihat gituan." Rendi menutup mata Kila pada saat Bara mencium bibir Famira. Rendi benar-benar kesal dengan Bara, seenak jidatnya main ciuman di depan semua orang. Rendi tahu sudah halal, tapi seenggaknya hormatilah dirinya yang belum punya pasangan dan masih ada anak kecil juga yang hadir.


Kila tiba-tiba saja menangis sesenggukan, membuat Rendi kebingungan.


"Paman tidak melukaimu, Kila." Rendi menelan saliva-nya saat ekor mata Bara menatapnya dengan tatapan sangat tajam.


Semua orang yang ada di situ beralih menatap Rendi dengan Kila.


"Kila rindu sama Papa." Anak kecil itu menangis sejadi-jadinya, Rendi berjongkok lalu memeluk tubuh kecil Kila. "Kila nggak boleh nangis gini, Papa Kila baik-baik di sana. Kila nggak boleh sedih yah, Paman ada untuk Kila." Rendi mengusap lembut pipi Kila dan menghapuskan bulir air di pipi anak kecil itu.


Anita yang tidak jauh berdiri, mengambil alih tubuh putrinya ke dalam dekapannya. "Masih ada Mama di sini, Nak."


Kila mengusap air matanya. "Papa orang jahat yah, Ma? makanya di bawa oleh Pak polisi tadi sore. Kila jadi benci sama Papa, Papa Kila penjahat ... Kila nggak suka Ma. Hiks ... hiks ..." Anak kecil itu kembali menangis, dia sempat melihat Doni di bawa paksa oleh pihak kepolisian.


Anita mengusap lembut rambut milik putrinya. "Papa melakukan itu ada alasannya, sayang. Anak Mama nggak boleh benci sama Papa, Papa sangat sayang sama Kila. Papa nanti balik jadi orang baik kok," jelas Anita. Anita memang sangat membenci Doni. Tetapi, dia juga tidak mau putrinya menyimpan benci di hatinya kepada ayahnya sendiri. Bagaimanapun Kila juga darah daging dari Doni.


Kila beralih menatap Rendi. "Paman Rendi, Kila mau Paman menjadi Papa Kila aja. Paman orang baik, dan cocok sama Mama. Kila nggak mau, Mama balik lagi sama Papa Doni." Kata itu terucap saja di bibir mungil anak kecil itu.


Rendi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Bagaimana tidak aku bisa mencintai kakak sahabat dan atasanku sendiri," gumam Rendi lalu tersenyum kikuk ke arah Anita.


Mama Ani dan yang lainnya hanya tertawa kecil mendengar penuturan konyol Kila.


Erwin menyenggol lengan Rendi. "Gue ngedukung seratus persen. Anaknya aja sudah merestui lo. Tinggal hati ibunya aja, kesempatan tidak akan datang dua kali. Bang," bisik sengit Erwin di telinga Rendi yang berkesan mengejek.


Rendi menendang tulang kering Erwin. "Biang rusuh lo!" hardiknya dengan suara pelan, melototi Erwin.


Umur Anita berbeda dua tahun dari Bara namun, kecantikannya tetap terawat. Siapa saja yang melihatnya, pasti mengira belum menikah. Rambutnya hitam lurus, hidungnya yang runcing membuat banyak pria mengagumi sosok Anita.


"Kila tidak boleh bicara seperti itu lagi," tutur Anita pada putrinya semata wayangnya itu.


Famira berjalan mendekati Kila. "Kila, nggak rindu sama, Bibi?" tanyanya lembut dan melemparkan senyum tipis. Kila berlari kecil ke arah Famira lalu memeluk tubuh Famira dengan erat.


"Kila sangat rindu sama, Bibi. Maafkan Papa Kila yah Bi, gara-gara Papa Bibi di marahin sama Nenek dan Kakek pada waktu itu."


"Bibi sudah memaafkan Papa kamu sayang, jangan sedih lagi yah. Masih banyak yang sayang sama Kila di sini," tutur Famira lembut mengusap bulir air mata yang masih jatuh di pipi anak kecil itu.


"Bibi memang wanita sangat baik," jawabnya sambil mencium pipi kanan Famira. "Kila mau tidur sama Bibi malam ini. Bolehkan?"


"Tentu saja sayang, Bibi juga mau istirahat." Famira menarik tangan mungil Kila ke kamarnya.


Bara melangkahkan kakinya mendekati Anita. "Kila tidur sama kakak aja," pinta Bara.


"Kenapa dek? biarkan saja Kila sama Famira. Kila sangat rindu dengan Famira."


Bara mengembuskan napas berat. "Masa kakak ngerti maksud Bara," ucapnya kesal.

__ADS_1


"Bang Bara, mau olahraga malam kakak Anita, nggak mau ke ganggu hahaha ... " celetuk Rendi. Rendi paham betul omongan Bara mengarah ke mana.


Bara menjitak kepala Rendi. "Mulut lo sensor sedikit kalau bicara, Ren!" ucapnya penuh penekanan.


"Sudah-sudah jangan ribut, kakak ngerti dek." Anita segera bergegas pergi menyusul Famira.


Erwin menepuk pundak Bara. "Ingat adik gue lagi hamil. Gue nggak mau keponakan gue kenapa-kenapa, adik ipar gue yang terhormat," kata Erwin.


"Cih ... gue nggak suka lo panggil gue adik ipar."


Erwin mengangkat bahunya acuh. "Lo harus bersyukur, dan hormat kepada gue," ujarnya dengan nada songong.


"Terserah lo ..." Bara meninggalkan Erwin dan menyusul Famira ke dalam kamar.


Di sisi lain Ani, Andi, dan Vernandes mengobrol ringan di salah sudut ruangan.


"Aku tak menyangka Ver, kita akan besanan dan menjadi keluarga besar." Andi tersenyum simpul ke arah Vernandes yang duduk berhadapan dengannya.


"Hal yang patut kita syukuri, Ndi. Aku juga tak menyangka," jawab Vernandes lalu menyeruput secangkir kopi. "Aku dengar kalian berniat menjodohkan Bara dengan anak keluarga Agatha?" tanya pria paruh baya itu lagi.


"Kamu tenang aja, Ver. Kami akan membatalkan perjodohan itu, besok kami akan berbicara baik dengan Silvi dan Wilson. Aku yakin mereka pasti mengerti," sahut Mama Ani.


"Baguslah." Vernandes tersenyum lega.


"Putrimu sungguh wanita yang sangat baik dan hebat Ver, berkat menikah dengan Famira Bara menjadi lelaki yang lebih baik."


"Famira sangat mewarisi sifat almarhumah ibunya, aku bersyukur bisa menemukannya dalam keadaan baik-baik."


***


"Ra, mas ada sesuatu untukmu." Bara yang baru masuk dalam kamar langsung duduk di samping Famira.


"Apa mas?"


"Tutup mata dulu," titah Bara.


"Hm, baiklah." Famira menuruti perintah Bara.


Bara mengambil sesuatu dari


lemari. "Buka matamu."


"Ini cincin berlian mas, kelihatannya sangat mahal." Kagum Famira.


"Tidak juga, Ra. Mas membelinya saat pulang dari Australia." Bara memasukkan cincin itu di jari manis Famira.


"Terus cincin pernikahan ini?"


"Simpan aja di dalam lemari."


"Tapi cincin ini lebih berharga bagi Famira."


"Mas nggak suka desainnya jelek, merusak mata. Cincin ini lebih bagus di jari manis kamu."

__ADS_1


Famira hanya mengaguk.


"Kamu suka kan?" tanya Bara yang tidak melihat eskpresi senang di wajah Famira.


"Tentu saja mas," jawab Famira antusias.


Famira membaringkan tubuhnya di atas kasur king size itu di susul oleh Bara di sampingnya.


Bara menarik tubuh Famira ke dalam dekapannya.


"Mas menginginkannya?" Famira bertanya gugup.


"Emang boleh?" Bara bertanya balik. Bara mendekatkan wajahnya ke Famira.


Famira menggelengkan kepalanya. "Tidak boleh! Mas mau anak kita kenapa-kenapa?" Famira menarik selimut membungkus seluruh tubuhnya. Bulu kuduk Famira berdiri melihat tatapan mata Bara yang sangat ingin memakannya. "Famira capek, mau istirahat," ucapnya lagi.


"Ra ... " mohon Bara.


"Nggak, mas."


"Mas akan melakukannya pelan-pelan kok, mau ya ..." melas Bara, dia terus merayu Famira.


"Famira ca--pek mas." Famira tetap keukeh.


"Ya udah, kalau nggak mau." Bara langsung membalikkan badannya membelakangi Famira.


Famira memeluk tubuh Bara dari belakang. "Mas marah, yah?"


Bara tidak menjawab.


Famira mengembuskan napas


gugup. "Baiklah ... Famira mau," jawabnya pasrah.


Bara masih tidak bergeming, ia tetap pura-pura marah. Padahal dia senyum penuh kemenangan sekarang. Bara mau Famira sesekali menggodanya malam ini.


"Maafkan Famira, mas." Famira terus menggoyang tubuh Bara pelan.


Bara masih dengan pendiriannya.


Famira bangkit lalu duduk di atas perut Bara. Wajahnya bersemu merah karena baru kali ini Famira seperti ini.


Bara menahannya tawanya, ingin tertawa terbahak-bahak melihat wajah Famira malu-malu kucing.


"Mas, jangan marah." Famira langsung mencium bibir Bara.


"Hahaha ... kamu memang tidak pandai menggoda mas, Ra." Bara tidak dapat lagi menahan tawanya melihat ekspresi wajah Famira. "Biarkan mas saja yang melakukannya, sayang." Bara tersenyum jahil lalu menindih tubuh Famira.


Keringat dingin membasahi wajah Famira.


"Kamu ikhlas, kan?" tanya Bara sebelum melanjutkan aksinya, Famira hanya mengangguk.


Malam yang begitu panjang bagi kedua insan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2