
═════════•❁❁•═════════
“Untuk mendapatkan apa yang diinginkan, Kau harus bersabar dengan apa yang Kau benci.”
[ Imam Ghazali ]
═════════•❁❁•═════════
Sudah satu minggu Erwin berada di villa milik keluarganya yang jauh dari pusat kota. Tidak ada yang dilakukan Erwin di villa tersebut hanya berdiam diri dalam villa, sesekali Erwin berjalan disekitar villa menghirup udara segar dan menikmati keindahan alam yang di sekitar situ.
Netra hitam pekat milik Erwin menatap benda persegi yang terletak di atas kasur. Sudah satu minggu itu juga Erwin tidak pernah mengaktifkan handphonenya.
Erwin ingin menyendiri, menenangkan pikirannya mencoba menerima semua takdir Tuhan yang ditetapkan kepada dirinya.
"Tuan Erwin ... sekretaris Max ada di depan." Wanita paruh baya itu berucap sopan di ambang pintu kamar yang terbuka lebar.
Erwin mengulum senyum tipis. "Suruh masuk, Mbok."
"Baik, Tuan!"
Tidak lama kemudian, sekretaris Max yang masih menggunakan setelan jas kerjanya sudah ada di hadapan Erwin. Sekretaris Max mengucapkan salam dan menundukkan kepalanya kepada tuannya.
"Apa yang membuatmu sampai di sini, Max?" tanya Erwin tanpa menoleh. Pria itu menyenderkan kepalanya di sandaran sofa. Memang hanya sekretaris Max yang mengetahui tempat yang biasa di kunjungi oleh Erwin kalau suasana hatinya sedang seperti ini.
"Tuan Vernandes, sangat khawatir dengan kondisi, Tuan," jawab sekretaris Max.
"Hm, kamu baliklah ke perusahaan. Aku masih ingin menyendiri di sini."
"Tapi Tuan, nona Dilla ..." Ucapan sekretaris Max tergantung.
"Aku tidak ingin membahasnya, aku menyuruhmu balik ke perusahaan, Max!" tegas Erwin penuh penekanan.
"Ba–ik, Tuan." Sekretaris Max menuruti perintah Erwin, pria itu segera bangkit berdiri dan kembali lagi ke perusahaan.
****
Famira ikut khawatir dengan kakaknya, setelah mendengar kabar dari Vernandes bahwa Erwin tidak pernah pulang ke rumah.
Sudah beberapa kali Famira mencoba untuk menelepon handphone Erwin namun, hanya suara operator yang terdengar.
'Aku coba sekali lagi untuk menelepon kak Erwin, siapa tahu handphonenya sudah aktif,' batin Famira mengambil kembali handphonenya di atas meja.
Tutt ....
Sambungan telepon Famira sudah terhubung dengan Erwin.
[ Assalamu'alaikum, Kak. Kak Erwin dimana? ] Famira bertanya khawatir.
[ Wa'alaikumussalam, Dek. ] Erwin baru saja mengaktifkan handphonenya. Cukup banyak telepon yang tidak terjawab, dan pesan yang belum dia baca dari Dilla.
[ Kak Erwin punya masalah apa? Sampai nggak pulang ke rumah. Sama Dilla? ]
__ADS_1
[ Tidak ada apa-apa, Dek. Kamu tidak perlu terlalu khawatir begini. ] Erwin dapat mendengar suara kekhwatiran yang berlebihan dari adiknya itu.
[ Kak Erwin, jangan bersikap seperti ini. Kalau ada masalah itu selesaikan dengan baik-baik, bukan malah pergi. ]
Erwin terdiam.
[ Kak, pulang ke rumah, ayah sangat khawatir. Dilla sudah pulang ke rumahnya, apa sebenarnya masalah Kak Erwin dengan Dilla? ]
[ Hm. ]
[ Kak ... ] Famira sudah berucap memohon, bulir air wanita itu sudah jatuh di pipinya.
[ Aku akan pulang, Dek. Jangan menangis! Aku baik-baik saja. ]
[ Baiklah, Kak Erwin harus pulang! ]
[ Iya-iya, cerewet punya adik! ]
Percakapan singkat itu pun berakhir. Famira menduduki tubuhnya di samping Bara. Wanita berjilbab ini masih penasaran apa masalah kakaknya itu sampai-sampai tidak pulang ke rumah dan Dilla yang sudah memilih balik ke rumah dirinya sendiri.
"Mas, pasti tahu masalah kak Erwin, kasih tahu Famira, Mas ....," ucapnya memohon menggerakkan lengan Bara.
"Hanya kesalahpahaman yang terjadi antara Dilla dan Erwin, Ra," sahut Bara lalu mengecup kening istrinya itu, "Ra, mas ingin tahu. Sebelum menikah dengan mas kamu pernah menjalin hubungan dengan pria lain?" tanya Bara penasaran. Bara jadi ingin tahu bagaimana hubungan asmara istrinya itu sebelum menikah dengan dirinya.
"Pernah ta'aruf, terus ingin ke jenjang khitbah dulu. Tapi, Mas sudah terlebih dahulu menikahi Famira."
"Hah?"
"Kenapa, kaget gitu, Mas?"
"Nggaklah, kan Mas sudah menjadi suami Famira. Dulu sebelum kita nikah memang iya, tapi sekarang nggak kok," jawab Famira jujur.
Bara bernapas lega. "Syukurlah ...." Tangan kekar Bara memeluk erat tubuh Famira.
Bara mencakup pipi Famira, ingin mencium bibir istrinya itu yang selalu saja menggoda dirinya.
"Ayah, Bunda ....," panggil anak kecil laki-laki itu dari arah belakang mereka.
Bara dan Famira terbelalak kaget atas kehadiran Atha, mereka segera menjauh diri masing-masing.
"Bunda gendong," pinta Atha merentangkan kedua tangannya ke arah Famira. Dengan sigap Famira menuruti keinginan Atha.
"Bunda aku pengen es klim."
"Nggak boleh, Atha. Makan es krim terus." Bara mencegah cepat. Mencium pipi Atha di dalam gendongan istrinya itu.
Atha tampak kecewa, anak kecil laki-laki itu mencium pipi Famira. Memohon kepada Famira, "Bunda boleh kan aku makan es klim?" tanyanya merengek manja.
Famira mengaguk kecil. "Boleh, tapi sedikit aja."
"Ye ... makasih Bunda." Atha girang bahagia. "Sayang sama Bunda, nggak sama Ayah." Atha mendorong tubuh Bara untuk jauh-jauh dari dirinya.
__ADS_1
"Benaran nggak sayang sama ayah, Atha?"
"Nggak ... soalnya Ayah jahat, nggak izinin aku makan es klim, Bunda ayo pergi ambil es klimnya," ajak Atha.
"Iya, Sayang." Famira tak henti-hentinya mencium pipi Atha yang sangat menggemaskan.
****
Setelah berhenti sejenak untuk melaksanakan sholat maghrib berjama'ah di sebuah masjid. Erwin kembali melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah.
Ada terbesit sakit hati saat mendengar Dilla sudah balik ke rumahnya.
Setelah menempuh perjalanan cukup lama, Erwin sampai di depan gerbang rumahnya yang menjulang tinggi. Pak satpam segera membukakan pintu setelah melihat mobil tuannya.
"Assalamu'alaikum," salam Erwin memasuki rumah. Rumahnya sudah kelihatan sepi tak seperti hari-hari sebelumnya.
"Wa'alaikumussalam, Nak ....," jawab Vernandes yang keluar dari kamarnya.
Erwin mencium punggung tangan pria paruh baya itu.
"Dari mana saja, Erwin?"
"Ayah tidak perlu tahu," jawab Erwin.
"Dilla dan adiknya sudah pulang ke rumahnya, apa masalahmu, Nak?" Vernandes mengusap lembut punggung putranya itu. Tatapan hampa dan kosong terlihat jelas dari sorot mata putranya.
"Maaf, Yah. Erwin tidak ingin bahas apa pun saat ini. Erwin mau istirahat ke kamar dulu." Erwin langsung berjalan cepat menaiki anak tangga. Meninggalkan Vernandes yang masih menunggu jawaban darinya.
Erwin membuka pintu kamar pelan, kamarnya sudah sepi tidak ada sosok perempuan yang biasa menunggu kepulangannya. Harum parfum milik istrinya itu masih memenuhi ruangan itu menusuk indera penciumannya. Erwin duduk di sisi ranjang, memejamkan matanya. Bayang-bayangan sosok Dilla memenuhi pikirannya. Perdebatan kecil yang sering terjadi antara dirinya dan Dilla mungkin akan hilang mulai detik ini juga.
'Ternyata, kamu memilih pria itu, Dilla. Baiklah aku akan menerima semuanya.' Erwin tersenyum getir, mengusap wajahnya secara kasar.
Drett .... Drett ... Drett ....
Handphone Erwin berdering di dalam saku jaketnya.
"Kenapa Intan menelepon?" Erwin bertanya pada dirinya sendiri sebelum mengangkat telepon itu.
[ Kak Erwin hiks .... ] Intan menangis sesenggukan tidak tahu akan berbuat apa.
[ Ada apa, Dek? ] Erwin bertanya khawatir.
[ Bantu kak Dilla, Kak. ]
[ Hm, ada dengan Dilla? ] Erwin tiba-tiba tidak bersemangat setelah mendengar nama 'Dilla'. Erwin belum siap bertemu dengan Dilla lagi.
[ Kak Dilla di bawa oleh bapak barusan, Kak. Intan mohon bantu kak Dilla, cuman Kak Erwin yang bisa aku harap. ] Gadis itu kian menangis sejadi-jadinya.
[ Apa? Dilla dibawa ke mana, Intan? ] Erwin langsung bangkit berdiri.
[ Aku nggak tahu, Kak. Sepertinya bapak ingin menjual kak Dilla kepada teman-temannya. ]
__ADS_1
Erwin mematikan handphonenya secara sepihak. Meraih kunci mobilnya kembali. Rasa kecewa pada Dilla hilang saat ini. Dia harus cepat-cepat pergi sebelum semuanya terlambat.
'Ck, pria tua brengs4k!' umpat Erwin penuh kebencian.