Pernikahan Tanpa Cinta

Pernikahan Tanpa Cinta
63


__ADS_3

━━━━━━━━━⊰✿✿⊱━━━━━━━


“Allah selalu memberikan yang terindah, meski dibalut air mata. Allah selalu memberikan yang terbaik, meski diselimuti rasa sakit. Allah tak pernah kurang memberi, hanya saja kita tak pernah peduli.


[ Ustadzah Syarifah Fatima Munzir Al-Musawa ]


━━━━━━━━━⊰✿✿⊱━━━━━━━


Hidup dalam keyakinan lurus


Tidak harus mengikuti arus


Semuanya pasti ada maksud dan tujuan


Tidak sekedar ada tanpa membawa makna


"Siapa yang berani menyentuh bahkan melukainya?" hardik pria itu saat melihat ada bekas tamparan keras di pipi Famira. Dia sempat pergi ke luar sebentar untuk membelikan sesuatu dan saat dia balik, dia sudah melihat Famira yang merintih kesakitan.


"Saya yang melakukan, Tuan. Maafkan saya, Tuan Rafa---el!" jawab salah anak buahnya yang berbadan tambun. "Wanita itu ingin melarikan diri tadi, Tuan!" aduhnya lagi.


"Beraninya, tangan kotor lo melukainya!" Nada suara Rafael melengking tinggi.


Dor!


Rafael menembakkan pistol revolvernya, tepat mengenai sisi dada pria tambun itu.


Rafael berdecih sinis dan kembali memasukkan pistol revolver-nya ke dalam saku celananya. "Gue nggak suka kalian semua membantah perintah gue!" ujarnya.


Para anak buah lainnya bergedik ngeri, dan bergetar ketakutan. Mereka tidak bersuara, mereka tidak ingin mati naas seperti pria tambun yang sudah tergeletak di lantai dengan darah segar keluar dari bekas tembakan di tubuhnya.


"Bereskan dia!" titahnya untuk mengurus mayat pria tambun yang sudah tidak bernyawa itu.


Dengan secepat kilat para anaknya buahnya menuruti perintah tuannya.


Famira yang mendengar suara tembakan dari luar ruangannya kaget dan bergetar ketakutan juga. Suara hentakan kaki masuk dalam ruangannya.


Rafael berjongkok lalu melepaskan ikatan tali di tangan dan kaki Famira. "Apakah pipimu masih sakit?" tanyanya setelah melepaskan ikatan tali itu.


Famira menggelengkan kepalanya pelan. "Sudah mendingan," sahut Famira. Wanita berjilbab itu bernapas lega, kelihatannya pria di hadapannya memang orang baik. Tapi apa alasan pria itu menculik dirinya? Pertanyaan itu berputar di kepala Famira.


"Aku membelimu makanan, makanlah! aku melihat wajahmu cukup pucat dan semalaman kamu tidak makan juga." Suara Rafael, sudah kembali ke nada suara biasa. Pria ini tersenyum tipis ke arah Famira, supaya wanita yang berdiri tidak jauh di hadapannya tidak merasa takut dengan dirinya.


"Tuan, a—" ucapan Famira terpotong.


"Panggil aku, Rafael saja!"

__ADS_1


"Ba--iklah," jawab Famira terbata-bata, Famira tidak biasa ada dalam suatu ruangan dengan pria asing, "aku melihat, kamu memang orang baik walaupun sedikit kelihatannya kejam. La--lu ... apa alasanmu menculikku?" tanya Famira.


"Aku tidak menyukai wanita yang terlalu banyak bicara, makan dan habiskan makanan kamu!" titah Rafael.


Famira hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam saat melihat netra milik Rafael menatapnya dengan tatapan seperti singa ingin menerkam mangsanya.


•••


"Kita mau ke mana?" tanya Famira saat melihat Rafael menggengam tangannya saat turun dari mobil. Famira memberontak melepaskan genggaman tangan itu, "lepaskan tanganku ...," ucapnya lagi.


"Kamu tidak perlu tahu," jawab Rafael dingin. Pria yang menutupi kepalanya dengan tudung hoodienya tetap keras kepala menarik tangan Famira untuk mengikutinya. Bahkan dia semakin erat menggenggam tangan Famira agar wanita itu tidak memberontak.


Famira sadar sekarang dia berada di pusat perbelanjaan, banyak orang lalu lalang di situ. Netra hitam Famira melihat ada Erwin dan sekretaris Max di sekitar situ.


"Kak Erwin, ban—" teriak Famira terpotong karena Rafael langsung menutup mulutnya dengan tangannya.


Erwin yang mendengar suara familiar itu langsung menoleh ke sumber suara yang memanggilnya. Namun, Erwin tidak melihat sosok adiknya itu. Pemuda itu berpikir kemungkinan dia salah dengar. Erwin juga tidak dapat mengenali Famira karena Famira menggunakan masker penutup wajah. Famira dipaksa oleh Rafael untuk menggunakan itu.


"Diamlah, jangan sampai aku melakukan kekerasan!" ancamnya berbisik sengit di telinga Famira.


Famira bersuara memohon, "aku rindu dengan keluargaku. Tolong lepaskan aku, Rafael." Bulir air mata jatuh di pipi Famira.


"Tidak semudah itu!" Rafael menghapuskan jejak air mata di pipi Famira, membuat Famira membulatkan matanya melihat sikap Rafael.


Rafael meraih tangan Famira lagi dan menggenggamnya erat. Dia kembali melangkahkan kakinya.


Ide pun muncul di kepala Famira.


"Aaa ... perutku sakit," jerit Famira berpura-pura merintih kesakitan lalu berjongkok memegang perutnya. Rafael otomatis menghentikan langkahnya. Pria itu ikut berjongkok, Famira dapat melihat kekhwatiran di wajah Rafael, meski wajah pria itu tertutup oleh tudung hoodienya.


"Mau aku gendong?" tawar Rafael.


Famira menggeleng kepalanya


cepat. "Nggak usah, aku cuman ingin ke toilet," cicitnya.


Rafael memasukkan kedua tangannya di saku sweaternya, dia dan anak buahnya sedang menunggu Famira ke luar dari toilet.


"Aku boleh meminjam handphone kamu, Dek?" Famira menahan tangan seorang gadis berambut panjang yang berpapasan dengan dirinya di ambang pintu toilet.


Gadis itu tersenyum tipis. "Tentu saja, Kak." Gadis itu mengambil handphonenya di dalam tas selempang yang dia pakai.


Famira membisikkan pelan ditelinga gadis itu, Famira memberitahu bahwa dia dalam keadaan bahaya. Gadis itu mengaguk mengerti dan menuruti keinginan Famira untuk menjaga situasi diluar toilet.


Dengan tangan bergetar, Famira menekan nomor telpon Bara, dan segera menghubungi ponsel suaminya itu. Untuk saja Famira hafal nomor telepon Bara.

__ADS_1


[ Mas, ba--ntu Famira! ] ucap Famira to the point saat memastikan saluran teleponnya sudah terhubung dengan Bara.


[ Ini kamu, Ra? Kamu dimana sayang sekarang? ] Suara Bara terdengar sangat khawatir.


[ Bantu Famira Mas, Famira takut. ]


[ Di mana kamu? ]


[ Pusat perbelanjaan terbesar di kota ini, Mas. ]


[ Mas segera ke sana, kamu tidak perlu takut! Mas merindukanmu, Ra ...]


Handphone yang ada di tangan Famira tiba-tiba saja mati.


"Baterainya ternyata habis." Famira segera keluar dan betapa terkejutnya Rafael sudah ada tepat di ambang pintu.


"Kamu membohongiku dan ingin mengelabuiku?" Tangan Rafael mengambil handphone ditangan Famira lalu membuangnya di sembarang tempat.


"Aku tidak membohongimu," tutur Famira. Sorot mata kemarahan tampak di netra pria dihadapannya itu.


Rafael menarik paksa tangan Famira dan membawanya kembali lagi kedalam mobilnya.


"Percepat laju mobilnya!" perintahnya pada anak buahnya yang menyetir.


'Mas Bara, Famira takut.' Famira menangis dalam diam, dia tersenyum getir saat mobil Bara berpapasan dengan mobil Rafael.


Famira menggeserkan tubuhnya dari Rafael yang duduk di sampingnya, wanita ini memberikan jarak yang aman.


Brugh!


Tubuh Famira tiba-tiba saja tumbang ke samping Rafael tepatnya di pundak kanan pria itu.


Rafael melirik lalu memangku kepala Famira di pangkuannya. Pria ini menepuk pipi Famira untuk menyadarkan wanita berjilbab itu. "Kamu jangan pura-pura pingsan!"


Tidak ada respons.


'Dia benar-benar pingsan,' gumam Rafael.


"Jangan balik ke markas, antar gue ke rumah!"


"Baik, Tuan."


Rafael menatap lekat wajah Famira yang tidak sadarkan diri itu. Telunjuknya bermain di alis Famira. "Gue ingin merebut, apa yang dulu lo rebut dari gue, Bara," ucapnya disertai seringai jahat.


Visual Rafael

__ADS_1


Siapkah sebenarnya pria ini?



__ADS_2