Pernikahan Tanpa Cinta

Pernikahan Tanpa Cinta
85


__ADS_3

═════════•❁❁•═════════


“Mungkin di dalam takdir yang tidak kita sukai, terdapat kebaikan yang tidak kita ketahui.”


Catatan Muslimah


═════════•❁❁•═════════


Cinta adalah anugerah yang dititipkan oleh Allah kepada setiap insan yang mampu memahaminya. Dengan cinta ketenangan hati pun akan terbuka.


Setelah sampai rumah Jessika tidak mengeluarkan sepatah kata kepada siapa pun dengan anggota keluarga Wijaya. Gadis ini langsung berlari ke kamarnya.


Mama Ani dan Papa Andi yang melihat tingkah putrinya itu mengerutkan keningnya di depan pintu rumah. Mereka sudah teramat rindu, meski Jessika hanya anak angkat, mereka sudah menganggap Jessika anak kandung sendiri.


"Jessika ... kamu marah sama kakak?" tanya Anita yang duduk di tepi ranjang. Anita menyusul adik perempuannya itu ke dalam kamar. Ada kesalahpahaman yang terjadi antara mereka berdua.


Tangisan Jessika kian histeris, gadis ini tidur dengan posisi tengkurap dan menyembunyikan wajahnya di bantal guling.


"Kak Anita jahat, Kak tahu kan Jessika sudah mencintai kak Rendi dari dulu. Kenapa Kak Anita rebut kak Rendi dari aku hiks ...," Bulir air mata kian jatuh di pelupuk mata Jessika.


Anita tersenyum tipis, jadi Jessika tidak mau berbicara dengan dirinya sejak dalam mobil karena hal itu.


"Mana mungkin kakak merebut pria yang adik kakak sendiri juga mencintainya." Anita mengelus rambut panjang Jessika, "kakak tidak ada hubungan apa pun dengan Rendi," tuturnya lagi penuh keyakinan dan tidak ada kebohongan pun.


Jessika beringsut duduk mengelap air mata di pipinya setelah mendengar ucapan itu.


"Kak Anita benar nggak ada hubungan apa pun dengan kak Rendi? Kak Anita nggak bohong, kan?" Pertanyaan bertubi-tubi keluar dari bibir Jessika.


Anita menggeleng kepalanya cepat. "Nggak ada, Dek. Kakak sudah menganggap Rendi seperti adik kakak sendiri."


Jessika langsung memeluk tubuh Anita dengan erat. "Jessika pikir, Jessika akan bersaing dengan kakak sendiri. Ternyata tidak ...," ucapnya penuh kebahagiaan.


"Tapi kenapa Kila memangil Rendi calon papa?"


"Kamu seperti tidak mengenal sifat Kila saja, dia dan Rendi cukup dekat. Kamu nggak perlu khawatir."


Senyum kembali merekah di bibir Jessika, gadis yang menggunakan rok selutut ini merapikan rambutnya.


"Kak Rendi, masih ada?"


"Masih, sepertinya sedang bermain dengan Kila."


"Penampilan Jessika udah cantik nggak?" tanya Jessika sambil menyisir rambutnya

__ADS_1


karena agak berantakan di depan cermin rias. Sebelum pergi keluar dari kamar penampilannya harus sudah sempurna.


"Kamu sudah cantik."


"Adikmu memang cantik Kak, Jessika mau ketemu sama kak Rendi dulu," bangga Jessika dengan riang. Dia melangkahkan kakinya dengan penuh semangat turun ke bawah.


Anita menggeleng kepalanya pelan melihat tingkah Jessika yang masih seperti anak-anak.


Jessika menghampiri Rendi yang sedang bermain di samping rumah bersama Kila.


"Kak Rendi," ucap Jessika meraih lengan tangan Rendi.


"Apa?" tanya Rendi ketus mencoba menyingkirkan tangan Jessika dari tubuhnya.


Kila yang lagi-lagi melihat Jessika memeluk Rendi tampak tidak suka.


"Kila sini, Nak ...," panggil Anita. Anita hanya ingin memberikan waktu berdua antara Rendi dan Jessika.


"Nggak mau, Ma!" Anak kecil itu menyahut dengan cepat. Tidak mengindahkan perintah Anita.


"Om Andre ajak video call, Kila nggak mau ngomong?" tanya Anita menawar kepada putrinya.


"Mau banget, Ma." Kila langsung berlari ke arah Anita dan meraih handphone di tangan mamanya.


"Kak Rendi, Jessika kurang apa sih? sampai-sampai Kak Ren nolak Jessika terus?" tanya Jessika menggoyangkan lengan Rendi saat pemuda itu tidak merespons apa pun.


"Kamu masih kecil!" sahut Rendi tanpa menoleh.


"Jessika sudah besar, Kak Rendi selalu menolak Jessika dengan hal itu dari dulu. Kak Ren harus tahu, Jessika menolak bule di Inggris demi Kak Ren."


"Aku nggak peduli," balas Rendi dengan nada ketus.


"Apa kak Ren, masih menyukai Adel? kak Ren menolak aku karena Adel?" Pertanyaan terus terlontar dari bibir Jessika. Membuat Rendi kian muak berada di sisi Jessika.


"Bukan urusanmu ... aku sibuk, lepaskan tangan kamu, Jes!"


"Nggak mau, nggak mau," sahut Jessika keukeh.


'Cih sialan, kalau kamu bukan adik sahabat aku sendiri. Aku sudah menyingkir kamu dengan kekerasan, Jes!' batin Rendi merasa kesal. Dengan pasrah pemuda ini menurut saat Jessika menarik tubuhnya untuk bergabung dengan mama Ani dan papa Andi yang sedang duduk di ruang tengah.


•••


Erwin menghampiri Dilla yang sedang duduk di kursi besi belakang rumah. Rambut pria ini sedikit berantakan, tapi tidak menghilangkan ketampanannya. Erwin baru saja bangun tidur, saat tidak menemukan istrinya di samping dirinya, dia segera turun dari kamar.

__ADS_1


Satu kecupan lembut mendarat di pipi Dilla dari Erwin. Dilla yang mendapatkan ciuman tiba-tiba dari Erwin cukup kaget.


"Hm, kenapa duduk sendirian di sini, Sayang?" tanya Erwin menarik tubuh istrinya itu untuk lebih dekat duduk dengannya.


"Bosan nemenin Mas mulu. Kok Mas nggak pergi ke perusahaan?" tanya Dilla penasaran. Hari ini, hari yang paling membosankan bagi Dilla. Erwin mengurungkan di dalam kamar terus, tidak memberikan celah terhadap dirinya sedikit pun untuk kabur. Saat Erwin sudah tertidur pulas, Dilla segera keluar dari kamar. Dia duduk di belakang rumah menikmati semilir angin sore yang sepoi-sepoi.


Erwin tidak menjawab pria yang menggunakan kaos oblong itu menikmati buah apel segar yang sudah di potong di tangannya.


Dilla menoleh ke arah Erwin. "Aku mau dong, Mas." Dilla menelan saliva-nya saat melihat cara makan Erwin yang berhasil membuat dia tergiur untuk memakan buah itu juga.


Erwin tersenyum kecil. "Mau disuap pakai mulut atau tangan?" tanyanya menggoda, menaiki sebelah alisnya.


"Aku bisa makan sendiri," sahut Dilla tidak mau menerima tawaran tersebut. Erwin langsung menjauhkan piring yang berisi buah apel itu saat Dilla ingin merebutnya.


"Biar aku suapin." Erwin menyuapi Dilla dengan hati senang. Menatap wajah istrinya itu dengan lekat.


"Ada yang salah dengan penampilanku?" Dilla merasa risih dengan tatapan Erwin.


"Nggak ada," jawab Erwin. Erwin kembali memberikan kecupan di pipi istrinya itu.


"Hm."


"Hm."


Erwin berdehem pelan, ingin menanyakan sesuatu hal kepada Dilla.


"Apa sih, Mas? berdehem terus sih."


"Kapan kamu selesai haid?"


"Masih tinggal enam hari." Dilla menjawab gugup. Semalam Erwin meminta hak sebagai suami namun, semua itu gagal. Karena Dilla datang tamu bulanannya.


"Kok lama sekali?" Erwin mengacak-acak rambutnya frustrasi. Pria ini menendang kerikil dengan kakinya, meluapkan kekesalannya.


"Memang seperti itu, aku biasanya sih lebih dari itu."


"Kamu tidak membohongiku untuk menghindariku, Dilla?" Erwin bertanya sengit, "kenapa lama sekali?" tanyanya lagi.


"Aku nggak bohong, Mas. Buat apa juga."


"Nunggu lagi dan lagi huh ..." gerutu Erwin kesal.


Dilla tampak mengukir tersenyum kemenangan melihat ekspresi kesal di wajah suaminya. Apalagi kalau dirinya mengingat semalam wajah kekecewaan dari Erwin membuat dirinya tidak berhenti tertawa hingga pagi.

__ADS_1


"Berhenti menertawakanku! apa yang lucu?" Erwin yang sudah frustrasi kian frustrasi melihat Dilla tertawa cekikikan nggak jelas di sampingnya. Dilla pura-pura tidak mendengar, dia memegang perutnya semakin tertawa lepas.


__ADS_2