
═════════•❁❁•═════════
Menjadi wanita yang terbaik
Rasullullah Saw pernah ditanya :
"Siapkah wanita yang paling baik?"
Beliau menjawab ; 'Yang paling menyenangkan ketika dilihat suaminya, taat jika diperintah suaminya, dan tidak menyelisihi dalam diri dan hartanya dengan apa yang dibenci suaminya."
[ HR. An-Nasai, Shahih ]
═════════•❁❁•═════════
Setelah menceritakan kisah-kisah teladan nabi kepada Atha dan Kila akhirnya kedua anak kecil itu sudah tertidur pulas. Famira mengecup kening kedua anak kecil itu secara bergantian dan menyelimutinya.
Bara berdehem pelan di ambang pintu, tersenyum bahagia. Istrinya itu memperlakukan Atha dengan sangat baik sekali. "Perlu jasa babysitter, Ra? kamu sepertinya kecapean mengurus Atha," ucap Bara, lalu memeluk erat tubuh Famira dari belakang.
"Nggak usah, Mas. Famira nggak capek kok." Famira menduduki tubuhnya di atas sofa, Bara pun ikut duduk di samping istrinya.
"Baiklah, aku hanya tidak ingin kamu terlalu capek."
"Mas, mempunyai masalah apa dengan, Rafael? sampai-sampai Rafael ingin menghancurkan kehidupan rumah tangga kita?" tanya Famira menatap lekat wajah suaminya.
"Hanya kesalahpahaman, Ra."
"Kesalahpahaman apa?"
Bara mengecup kening Famira. "Kamu tidak perlu tahu, Sayang."
"Iih main rahasia terus dari Famira," kata Famira mencubit pinggang Bara karena merasa kesal.
"Ceritanya terlalu 'jahat' untuk diceritakan, Sayang." Tangan kekar Bara melepaskan jilbab yang dipakai Famira.
"Mau apa? jaga sikap Mas, ada Atha dan Kila sedang tidur." Famira sudah risih dengan tatapan Bara.
"Mau bikin adik buat Atha," sahut Bara antusias.
"Famira nggak mau, Famira capek!"
"Sayang ..." Bara merengek seperti anak kecil.
Famira tetap menggelengkan kepalanya cepat pertanda 'tidak'.
"Huh ..." Bara mendengus kesal, menendang sisi meja meluapkan emosinya.
"Jangan marah ya, Mas. Famira ngantuk berat dan juga sangat capek," jawab Famira menolak halus. Famira bangkit berdiri ingin membaringkan tubuhnya di atas kasur, namun tangan kekar Bara sudah terlebih dahulu menahannya. Bara langsung mencium bibir Famira walaupun tidak mendapatkan persetujuan dari istrinya itu.
Famira terbuai dengan perlakuan Bara yang lembut, Bara tersenyum kecil mendengar desahan keluar dari bibir milik istrinya.
Famira menghirup napas secara rakus, menatap tajam ke arah suaminya yang sudah menertawakannya.
__ADS_1
"Mau bikin Famira mati karena kehabisan napas?"
"Maaf, Ra. Hilang kendali barusan." Bara menarik gemas pipi istrinya yang sedang marah itu.
"Famira mau tidur sama Atha dan Kila aja malam ini. Mau nemani mereka."
"Terserah kamu, Sayang. Jangan gitu mukanya jelek loh," ujar Bara masih dengan tawanya melihat ekspresi kesal di wajah Famira, "Senyum, Sayang."
Dengan paksa Famira menyinggung senyum tipis.
Drett ... drett ... drett ...
Handphone milik Bara bergetar di atas nakas.
[ Kenapa lo nelepon gue malam-malam, Ren? ]
[ Desi sudah gue beresin. Lo nggak mau balas dendam atas apa yang Rafael lakukan ke lo? ]
[ Hm. ]
[ Bar, gue serius nanya! ]
[ Lo tenang aja, gue sudah mempunyai rencana untuk menghancurkan Rafael. Datang ke rumah gue sekarang, ada hal yang perlu gue bicara ke lo! ]
[ Ta–] ucapan Rendi terpotong karena Bara mematikan telepon secara sepihak.
'Lo sialan, Bar!' Rendi yang sudah membaringkan tubuhnya di atas kasur segera beringsut bangkit meraih kunci mobilnya. Pemuda itu cukup merasa jengkel dengan Bara yang suka sekali menyuruh dirinya datang disaat malam yang sudah larut.
"Aduh," jerit Dilla kesakitan saat tak sengaja kakinya tersandung dengan sisi lemari. Kakinya mengeluarkan darah sedikit, membuat Dilla semakin meringis kesakitan.
Erwin yang sedang menghirup udara segar pagi ini di balkon kamar langsung
pergi menghampiri istrinya itu.
Erwin menelan ludah dalam-dalam saat melihat tubuh Dilla dililitkan dengan handuk saja. Baru kali ini Erwin melihat tubuh Dilla tanpa balutan pakaian. Rambut Dilla diikat ke atas memperlihatkan jenjang lehernya yang putih mulus.
Dilla baru saja selesai mandi, wanita itu kelupaan membawa pakaian ganti. Akibat buru-buru untuk mengambil pakaian sebelum Erwin masuk ke dalam kamar kembali, kakinya jadi tersandung dengan sisi lemari.
"Dasar ceroboh!" ucap Erwin mendorong pelan kening Dilla. "Duduk, biar aku obatin kakimu!" titah Erwin, kotak p3k sudah ada ditangan pria ini.
Dilla mengerucutkan bibirnya. "Sakit keningku, Mas," sahutnya dengan nada kesal lalu mengikuti instruksi Erwin, wanita itu duduk di sisi ranjang.
"Pelan-pelan obatinya, Mas. Sakit ..."
"Ya." Dengan telaten selayaknya seorang dokter Erwin mengobati kaki Dilla.
Erwin bangkit berdiri saat sudah selesai mengobati kaki istrinya itu. "Kamu menggodaku?" tanya Erwin menaiki sebelah alisnya. Aroma sabun dari tubuh Dilla menyeruak menembus penciumannya. Menimbulkan hasrat bagi pria ini.
"Ngg--ak kok, aku kelupaan pakaian ganti." Dilla menjawab gugup saat melihat tatapan penuh nafsu dari suaminya itu.
"Hm." Erwin berdehem menanggapinya.
__ADS_1
Dilla meremas ujung handuknya saat Erwin mendorong pelan tubuhnya ke atas kasur. Erwin langsung mengunci pergerakan Dilla dengan kedua tangannya.
'Bagaimana pun dia suamimu, Dilla,' gumam Dilla mencoba menerimanya.
"Jangan main-main, Mas!" Dilla semakin saja gugup.
"Kamu yang menggodaku! kamu sudah selesai haid, kan?" tanya Erwin mendekatkan wajahnya ke Dilla.
Dilla mengaguk pelan, dia tidak bisa mengelak lagi.
Erwin membenamkan wajahnya di wajah istrinya itu. Mencium setiap inci wajah Dilla.
"Aku menginginkan sekarang," bisik Erwin pelan di samping telinga Dilla. Buluk kuduk Dilla berdiri, keringat dingin membasahi dirinya.
"A--ku belum siap, M--as ...," jawab Dilla dengan nada suara terbata-bata. Dilla memejamkan matanya saat Erwin mencium lembut bibirnya.
"Aku tidak peduli, aku suamimu."
Erwin membuang bajunya sembarangan tempat lalu menindih tubuh Dilla. Erwin kembali melanjutkan ciumannya turun ke leher Dilla sehingga meninggalkan jejak kepemilikan yang begitu banyak. Erwin menggengamn erat tangan wanita yang memejamkan mata itu.
"Mas ... aku takut," ucap Dilla memohon kepada suaminya itu untuk berhenti.
Erwin tidak menghiraukan penolakan Dilla, tangan Erwin menyingkap handuk yang masih menutupi tubuh istrinya itu.
Tok ... tok ... tok ...
Suara ketukan pintu kamar terdengar namun, Erwin tidak menghiraukan.
Tok ... tok ... tok ...
Ketukan pintu kembali terdengar.
"Cih, siapa lagi yang menggangu!" kesal Erwin.
"Kak Dilla," panggil Intan dari luar pintu. Intan sudah ada janji dengan Dilla untuk pergi membeli buku pagi ini. Karena mumpung hari minggu, dia dan Dilla terkadang bisa menghabiskan waktu berdua.
Dilla mengembuskan napas lega. Akhirnya dia bisa selamat untuk pagi ini.
Erwin beringsut bangkit, memungut kembali baju yang dia buang sembarang tempat, Erwin mengacak rambutnya frustrasi, dia selalu saja gagal.
.
.
.
.
Aku up double part, karena kemarin aku nggak up. Jangan lupa tinggalkan jejak
Makasih ^_^
__ADS_1