
Jessika masih terdiam dan belum juga percaya, pandangannya beralih menatap sekelilingnya. Ia baru sadar, bahwa ada di halaman rumah. Halaman rumahnya sudah dihias sedemikian rupa, memberikan kesan keromantisan. Keluarga besarnya sudah hadir semua. Melemparkan senyum tipis ke arahnya. Seolah-olah tidak terkejut seperti yang ia rasakan.
Flashback on
Bruk!
Seketika tubuh Jessika ambruk di atas tubuh Rendi, gadis itu sudah tidak sadarkan diri lagi. Fisik dan batin Jessika sudah lelah.
Bara segera menggendong tubuh adik perempuannya itu ke dalam ruang rawat.
'Tiiiiiiiiit ....' Terdengar suara panjang dari mesin sambungan alat pembantu di tubuh Rendi.
Suster berteriak histeris di samping brankar Rendi. "Jantung pasien kembali berdetak normal, Dok," ucapnya ikut senang. Dokter tersebut menghela napas lega.
"Alhamdulillah," kata Erwin, Dilla, dan Famira serentak mendengar itu, perasaan mereka bertiga campur aduk saat itu. Kaget? Tentulah mereka kaget. Maka, nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan?
Jari telunjuk Rendi bergerak pelan. Bola mata pria yang masih terbaring lemah itu terbuka pelan. Erwin, Dilla, dan Famira berjalan mendekat ke arah Rendi.
Senyum kecil terbit di bibir Rendi, dengan suara yang masih lemah ia bertanya, "Kenapa mata kalian sembap gitu?" tanyanya mencoba beringsut bangkit untuk duduk.
Erwin membantu Rendi untuk duduk. Rendi menyandarkan tubuhnya di sandaran brankar. Pria itu ingin menyingkirkan segala benda-benda yang menempel di tubuhnya.
"Ren, kondisi lo masih lemah! Nggak usah lepas itu. Lo tahu, jantung lo berhenti berdetak barusan. Lo dinyatakan meninggal Ren." Erwin mencoba mencegah. Namun, bukan Rendi namanya kalau tidak keras kepala. Ia tetap melepaskan selang impus di tangannya, alat itu tidak perlukan lagi.
"Berarti gue mati suri?" Rendi bertanya penasaran. Pria itu tidak merasa sakit apa pun ditubuhnya, ia merasa kondisinya sudah membaik.
"Iya," jawab Famira.
"Tante Ani dan Jessika pingsan gara-gara lo," ujar Erwin lagi. Rendi menyimak saja.
Rendi melihat masih tersisa cairan bening di pelupuk mata Erwin. "Lo nangis karena gue, Win? Hahaha ... baru kali ini gue lihat lo meneteskan air mata. Ternyata lo takut kehilangan gue juga, Win," ucapnya dengan tawa mengejek yang biasa ia lakukan.
__ADS_1
Dilla dan Famira menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah Rendi. Pria itu suka sekali memancing emosi Erwin. Padahal kondisinya belum terlalu membaik.
"Cih ...." Erwin berdecih sinis. Pria ini langsung menjitak kepala Rendi yang masih tertawa lepas. "Kalau lo nggak sakit, gue sudah tonjok lo!" hardiknya.
Bara kembali lagi ke ruangan tempat Rendi, ia mendengar suara tawa Rendi. Pria yang menggunakan sweater rajutan ini, merasa kaget melihat Rendi yang sudah duduk, dan mengobrol ringan dengan yang lainnya. "Bukannya lo sudah mati, Ren? Kenapa hidup lagi?"
"Ck, lo benar-benar ingin gue mati, Bar?!" Rendi bertanya sengit.
"Tidak juga. Gue jadi tambah kasihan ke lo lagi kalau lo mati padahal belum menikah," ejeknya sembari mencium puncak kepala Famira. Menarik tubuh istrinya itu untuk berdiri lebih dekat dengannya.
"Mas, nggak baik ngomong seperti itu."
"Iya, Ra."
Cerita mereka berlanjut panjang, Dilla memberitahukan kepada Rendi bahwa Jessika menolak lamaran Hafid. Rendi beriyes penuh kemenangan, ternyata ada hikmah dibalik semua kejadian yang dialaminya saat itu.
"Bantu gue kali ini! Please!"
"Sini lebih dekat dengan gue. Takut ada yang dengar," titah Rendi.
"Gila lo Ren, rencana macam apa itu. Nggak-nggak, kami tidak mau ikut-ikutan!" Bara menolak keras setelah Rendi membisikan rencana yang menurutnya konyol dan tidak masuk akal.
"Gue juga nggak mau ikut-ikutan, Ren!" Erwin menimpali.
"Kali ini aja, gue minta bantuan ke lo berdua. Nggak senang lihat gue senang apa?"
"Buat rencana lain, Ren. Jessika bisa benci dengan kamu nantinya," kata Famira mencoba memberikan saran.
"Gue jamin rencana ini berjalan lancar, Ra."
Dengan penuh keterpaksaan mereka menyanggupi permintaan Rendi. Setelah Jessika sadar, Bara membawa Jessika pulang ke rumah sesuai dengan rencana Rendi, Jessika menurut saja, gadis itu tidak tahu apa-apa yang terjadi. Jujur Jessika tidak sanggup bila melihat Rendi yang sudah terbaring kaku itu.
__ADS_1
Informasi tentang Rendi kembali sadar benar-benar ditutup rapat dari Jessika. Tidak ada celah sedikitpun Jessika bisa mengetahuinya.
Flashback Off
Jessika melipatkan kedua lengannya di depan dada, kecewa setelah mendengar penjelasan Rendi yang menceritakan begitu panjang hal sebenarnya terjadi. Ia merasa dipermainkan. "Jadi, yang dikubur itu bukan Kak Ren?" tanyanya dengan nada suara tidak bersahabat. Gadis ini makin merasa kesal dan jengkel, melihat Rendi senyum tanpa merasa bersalah di dihadapannya itu.
Rendi mengaguk kecil.
"Mama dan Papa juga ikut-ikutan juga mengerjai Jessika?" tanya Jessika pada Mama Ani dan Papa Andi yang berdiri tidak jauh darinya.
"Rendi yang memaksa kami, Nak."
"Jahat! Jahat!" Jessika langsung memukul tubuh Rendi meluapkan kekesalannya. "Berhenti tertawa, Kak Ren. Tidak lucu!" Tanpa sengaja, Jessika memukul pundak Rendi yang terkena tembakan itu.
"Auhhh." Rendi meringis sedikit, pukulan gadis di hadapannya itu benar-benar sakit.
Jessika berhenti memukul tubuh Rendi, khawatir mendengar suara Rendi yang meringis kesakitan itu.
"Maaf, Kak Ren. Sakit yah?" tanyanya khawatir, ia mengusap lembut pundak Rendi.
"Sedikit," jawab Rendi tersenyum simpul. Ingin memeluk tubuh gadis itu, tetapi sayangnya belum halal.
Rendi mengeluarkan kotak kecil dari saku celananya lalu berlutut di hadapan Jessika, membuat Jessika dilanda kegugupan.
"Apa yang Kak Ren lakukan? Bangun, Kak Ren," pinta Jessika. Malu, gugup, cemas, semua perasaannya menjadi satu malam ini.
Rendi tidak menghiraukan keinginan Jessika, ia tetap keukeh berlutut di hadapan gadis yang dicintai itu. Ia juga mencoba menenangkan perasaannya yang sedikit gugup, sebelum melanjutkan rencana besarnya. "Maaf, mungkin ini terlalu cepat dan mengejutkanmu. Aku hanya ingin menyempurnakan separuh agamaku bersamamu ...." Rendi berhenti sejenak untuk mengambil napasnya, "Hmm ... will you marry me?" lanjutnya bersamaan dengan kotak kecil yang baru dibuka, memperlihatkan cincin berlian di dalamnya.
Mata Jessika sudah berkaca-kaca, ia benar-benar kaget. Netranya menatap wajah kedua orangtuanya. Mama Ani dan Papa Andi mengaguk kecil.
"Yes, Jes!" teriak Anita, Adel, Famira, dan Dilla, histeris di tempat duduknya.
__ADS_1