Pernikahan Tanpa Cinta

Pernikahan Tanpa Cinta
Epilog


__ADS_3

"Famira." Suara berat menghentikan keasikan kedua anak kecil itu. "Abi sudah sangat khawatir, mencarimu ke mana-mana. Rupanya kamu disini," ujar pria paruh baya yang menggunakan baju koko itu.


Famira menoleh seraya berkata, "Maaf, Bi. Famira tidak sempat minta izin tadi," ucap Famira merasa bersalah. Gadis berjilbab ini bangkit berdiri.


"Tidak apa-apa, Sayang. Itu siapa yang bersamamu?" Tunjuk Abi Famira kepada anak kecil laki-laki yang seumuran dengan putrinya.


"Dia adalah teman baruku. Dia mempunyai keistimewaan sendiri, Bi," sahut Famira. Famira membantu Bara untuk berdiri. Ia mengambil tangan kanan Bara lalu diperkenalkan dengan Abinya. "Ini Abiku."


Bara mengangguk, menyalami tangan pria paruh baya itu.


"Kenapa kamu sendiri disini, Nak?" tanya ramah Abi Famira lalu mengusap lembut kepala Bara.


"Aku tadi main sama teman-temanku, Om. Tapi mereka meninggalkanku sendiri, tongkatku juga mereka sembunyikan." Bara menceritakan apa yang dialaminya.


"Kami akan mengantarkanmu pulang, sebentar lagi mau magrib kita harus cepat-cepat pulang," ujarnya.


Niat ingin mengantarkan Bara pulang itu gagal, karena asisten rumah tangga dari keluarga Wijaya datang menjemput tuan mudanya ke danau tersebut.


"Aku ada sesuatu untukmu." Bara mengambil sesuatu dari saku celananya, ia ingin mengucapkan terima kasih kepada teman barunya itu, "Ini." Bara menyodorkan sepasang gelang tali. Satu untuknya dan satu teman barunya itu.


"Terima kasih." Famira menerimanya dengan senang hati.


"Itu gelang buatan dari tuan muda sendiri," kata Pak supir yang berdiri di samping tuan mudanya.


"Wah kamu hebat," puji Famira kagum. Famira mengambil sapu tangan bermotif bunga di dalam saku gamisnya. "Aku hanya punya ini untukmu. Anggaplah itu sebagai tanda persahabatan kita."


Pak supir menerimanya, lalu diberikan ke tangan tuan mudanya.


"Untuk apa ini?" tanya Bara.


"Tidak untuk apa-apa. Aku harap kita bisa bertemu kembali. Janji padaku simpan baik-baik sapu tangan itu." Famira menarik tangan Bara. Kedua kelingking berbeda ukuran saling terkait.


"Yeah." Bara menjawab singkat.


Lambaian tangan memisahkan kedua anak kecil itu.

__ADS_1


"Mau Abi gendong?" tawar Abi Famira. Ia tidak ingin putri kesayangannya kelelahan. Kecupan singkat mendarat di puncak kening putrinya itu.


"Boleh, Bi. Tapi Famira tambah berat sekarang. Nggak jadi deh," tolak Famira halus.


"Abi masih kuat, Sayang. Ayo naik." Abi Famira menepuk-nepuk punggungnya.


Famira melingkarkan tangannya di leher Abinya. "Siapa nama teman barumu itu?"


"Umm, Famira tidak sempat menanyakannya. Hehehe." Famira tertawa kecil. Keasikan bercerita ia sampai lupa menanyakan nama dari teman barunya itu. "Famira tadi menceritakan kisah nabi Ayyub kepada dia, Bi ...." Cerita berlanjut panjang mengiringi perjalanan mereka pulang.


...* * *...


"Jadi ini maksud Mas membawa Famira ke danau ini?" Famira bertanya setelah selesai membaca semua isi buku diary suaminya. Persis seperti awal pertemuannya. Keduanya berada di bawah pohon rindang di danau tersebut. Mata Famira berair, terharu sekaligus bahagia. Ia tidak mengingat sama sekali pertemuan dengan Bara. Bahkan wajah Bara sekalipun. Setelah membaca buku diary suaminya itu, ia baru mengingat semuanya.


"Iya, Ra. Kau tahu? Bertahun-tahun aku mencari keberadaan gadis kecil yang menurutku sangat sok akrab dan pandai sekali bercerita kisah nabi Allah. Tapi, aku tidak pernah menemukan keberadaanmu sampai aku lulus kuliah," ucap Bara ia menarik kepala Famira untuk bersandar di bahunya.


"Aku pindah ke kota lain, Mas. Setelah pertemuan itu," jawab Famira.


"Pantaslah, walaupun saat itu aku tidak bisa melihat wajahmu. Aku yakin kamu gadis yang cantik dan sangat baik," tutur Bara mengusap lembut pipi istrinya. Setelah umur sepuluh tahun, kehidupan Bara sudah kembali normal. Ia sudah dapat melihat kembali setelah mendapatkan donor mata dari seseorang.


"Karena aku menyukaimu sejak awal kita bertemu, Ra. Di usiaku waktu itu pernah mengatakan kamu harus menjadi istriku suatu hari kelak. Hahaha, sangat konyol, Ra. Bahkan aku menceritakan semuanya pada Mama dan Papa impian konyolku itu." Bara menggengam kembali tangan Famira dengan erat.


Famira ikut tertawa mendengarnya. "Ucapan Mas itu adalah doa. Sekarang terbukti bukan?" tanyanya.


"Hm, iya, aku sangat bersyukur sekali. Ternyata gadis kecil yang selama ini aku cari adalah istriku sendiri. Menyesal dulu di awal pernikahan aku pernah menyiksamu, Ra. Aku benar-benar minta maaf." Bara mengusap wajahnya secara kasar.


Bara baru mengetahui bahwa Famira adalah gadis kecil yang selama ini dicari, saat ia membawa Famira ke kediaman keluarga Wijaya, untuk bertemu dengan Papa dan Mamanya untuk pertama kalinya. Bara sempat tidak percaya infomasi yang didapatkan dari Rendi waktu itu, namun bukti gelang tangan yang sempat ia kasih, memperkuat bukti. Ia jadi percaya sekali.


Saat itu Bara masih malu untuk menceritakan semua kepada Famira. Apalagi kesalahan menghantuinya, ia benar-benar kecewa dengan dirinya sendiri pernah berbuat kejam dan hampir membuat istrinya mati di tangannya. Saat itu juga Bara berjanji dengan dirinya sendiri untuk berubah, menyayangi, dan mencintai Famira.


"Lupakan saja, Mas. Itu sudah menjadi masa lalu kita. Aku juga bersyukur bisa bertemu dengan teman kecilku waktu dulu dan sekarang menjadi suamiku," tutur Famira, memeluk tubuh kekar milik suaminya, "Oh ya, baru ingat. Sapu tangan yang Famira kasih masih Mas simpan?"


"Tentu saja, itu sebagai aset berharga bagiku, Ra," jawab Bara lalu mencium singkat puncak kening Famira, "Aku mencintaimu, Ra."


"Aku pun sebaliknya, Mas."

__ADS_1


"Tapi aku lebih dan lebih mencintaimu!" jawab Bara penuh penekanan.


"Iya, Mas. Nggak usah marah gitu." Famira mengacak-acak rambut suaminya.


Keduanya larut dalam kebahagiaan. Menyaksikan matahari yang sebentar lagi tenggelam di ufuk barat. Sangat indah, sehingga memberikan pemandangan yang sungguh menakjubkan. Maka, nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?


"Ayah, Bunda ...."


"Huft ... capek Paman!"


Kila dan Atha yang juga ikut bersama Famira terlihat kelelahan karena saling kejar-kejaran di tempat itu. Mereka sangat asik bermain. Atha tetap bersama Famira dan Bara. Rafael sudah menyerahkan putranya itu sepenuhnya kepada Bara.


Atha mencium perut Famira yang sudah semakin besar. "Dek, nanti kalau kamu udah lahir dan besar kita main bareng yah, pasti seru," ucapnya lalu mencium pipi Famira lagi. Famira tersenyum tipis mendengarnya.


"Sama aku juga," sahut Kila ikut-ikutan mencium perut Famira.


"Atha ayo kita main lagi!" ajak Kila menarik tangan Atha. Atha mengangguk kecil.


"Jangan main jauh-jauh kalian," ujar Bara memperingati.


"Siap!" sahut keduanya bersamaan, mengacungkan jempol pertanda paham.


Bara dan Famira tersenyum bahagia. Sungguh takdir cinta mereka penuh dengan lika-liku. Mereka jadi sadar bahwa apapun yang menjadi takdir yang sudah ditetapkan oleh-Nya, akan ada setiap jalan untuk menemukannya. Antara keduanya masih banyak kekurangan masing-masing, namun mereka percaya Allah menyatukan mereka melalui hubungan pernikahan untuk menyempurnakan satu sama lain.


-TAMAT-


......................


~Author berbicara


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Alhamdulillah akhirnya selesai juga aku menulis cerita Bara dan Famira. Aku ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada kalian yang selama ini udah ngedukung aku sampai detik ini. Tidak ada kata lain yang bisa aku ucapkan selain TERIMA KASIH. Tanpa dukungan kalian author, dan cerita Bara dan Famira bukanlah apa-apa.


Cerita ini jauh dari namanya SEMPURNA. Typo masih ada di mana-mana. Yah, karena dasarnya aku sendiri bukanlah penulis profesional. Aku masih awam akan ilmu tentang kepenulisan. Masih banyak belajar gaes:)

__ADS_1


Akhir kata, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


__ADS_2