Pernikahan Tanpa Cinta

Pernikahan Tanpa Cinta
79


__ADS_3

━━━━━━━⊰✿✿⊱•━━━━━━━


“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”


[ Surah Ar- Rum ayat 21 ]


━━━━━━━⊰✿✿⊱•━━━━━━━


Erwin menahan tawa melihat perdebatan sengit Dilla dengan bendahara keuangan di depan pintu masuk perusahaan dari laptop yang sudah terhubung langsung dengan Cctv di perusahaannya.


"Kenapa Ibu yang nyolot sih, Ibu yang jalan nggak pake mata. Udah salah nyolot lagi!" Kesabaran Dilla sudah habis menghadapi wanita yang menggunakan rok selutut dihadapannya itu. Perdebatan kedua wanita itu mengundang perhatian seluruh karyawan, Dilla dan bendahara keuangan itu menjadi tontonan yang menarik bagi karyawan siang itu.


Dilla siang ini datang ke perusahaan atasan yang sudah sah sebagai suaminya itu untuk membawa makan siang. Dilla sudah memasak susah payah makanan kesukaan Erwin, dia mendapat resep masakan dari Famira. Namun, usahanya gagal, saat makanan yang dia bawa sudah berserakan di lantai akibat bertabrakan dengan wanita yang berstatus bendahara keuangan di perusahaannya suaminya.


"Dasar OB nggak tahu diri!" hardik wanita yang umurnya tiga tahun lebih tua dari Dilla, "lihat baju aku sudah jelek terkena makanan miskin kamu, minta maaf sekarang. Berlutut sekalian!" cibirnya dengan nada suara menjatuhkan. Wanita itu mengibaskan pakaian yang terkena makanan.


"Tidak akan pernah terjadi, Anda bukan Tuhan untuk aku berlutut," jawab Dilla. Gadis yang menggunakan jilbab pashmina warna army itu terus melawan. Dia tidak akan minta maaf karena dia tidak salah, "seharusnya Ibu yang minta maaf, kalau nggak bisa pakai high heels hak tinggi ... nggak usah pakai!" Dilla berkata sambil tertawa mengejek dan menunjuk high heels yang di pakai wanita dihadapannya itu.


Bendahara keuangan yang bernama Fitri itu tertunduk malu dengan ucapan Dilla. Dia tidak akan memberikan ampunan kepada gadis yang sedang menertawakannya.


Plak!


Tamparan keras mendarat di pipi mulus milik Dilla.


"Sakit? aku tebak hari ini, hari terakhir kamu bekerja OB nggak tahu diri!" Fitri tertawa jahat.


Erwin yang melihat itu masih bergeming ditempat duduknya. Tangannya tampak mengepal.


"Tuan, apa Anda tidak ingin membantu nona Dilla?" Max bertanya sopan.


"Biarkan dulu, aku ingin tahu seberapa besar kemampuan bendahara keuangan itu menghina istriku." Erwin masih menonton antusias.


Dilla mengangkat lengan bajunya, menantang wanita yang memakai rok selutut dihadapannya itu. "Tamparan Ibu nggak ada apa-apanya!" sahutnya tersenyum masam.


"Kamu semakin ngelunjak juga, mentang-mentang kamu dekat dengan pak Erwin. Sadar .... pak Erwin nggak suka sama kamu, gadis miskin!" hina Fitri mendorong tubuh Dilla.


"Hm." Deheman Erwin dari arah belakang mengalihkan seluruh karyawan yang diikuti oleh sekretaris Max. Erwin tidak tahan lagi melihat Dilla dicaci maki oleh bawahannya.


Para karyawan kembali ke pekerjaannya masing-masing saat melihat tatapan mematikan dari Max. Mereka menundukkan kepalanya dalam-dalam.

__ADS_1


"Sayang," ucap Erwin dengan suara yang keras supaya para karyawan tahu siapa Dilla sebenarnya, "kamu tidak apa-apa?" Erwin bertanya khawatir. Meraih tangan Dilla lalu menggengamnya erat.


Semua karyawan terkejut, tak percaya. Apalagi bendahara keuangan yang mendengar itu. Pernikahan Erwin memang belum dipublikasikan kepada para karyawannya.


"Max, bereskan semuanya!" Erwin berjalan kembali ke ruangannya dengan Dilla di sampingnya.


"Saya mengerti, Tuan!" jawab sekretaris Max menundukkan kepalanya.


Setelah kepergian tuan mudanya, sekretaris Max menjalankan tugasnya.


"Bereskan barang-barang kamu, kamu dipecat!" Sekretaris Max memberikan tamparan di pipi bendahara keuangan itu, saat selesai berbicara, "kesalahanmu fatal sekali! pergi sekarang, sebelum aku benar-benar menyeretmu dengan paksaan!"


"Seker---taris Max, saya minta maaf ...," ucap Fitri terbata-bata, kakinya sudah bergetar ketakutan, "saya benar-benar tidak tahu–" ucapan Fitri tergantung.


"Security!" panggil sekretaris Max.


Setelah membereskan bendahara keuangan itu untuk angkat kaki dari perusahaan Martadinata grup, sekretaris Max berjalan ke ruangan karyawan.


"Siapa saja yang menonton adegan tadi, temui saya sebelum pulang!" titahnya dengan suara menggelegar. Terdengar saat menakutkan bagi siapa saja yang mendengarnya.


"Ba---ik, Pak!" jawab para karyawan ketakutan, entah apa yang akan terjadi pada diri mereka setelah pulang nanti.


****


"Kenapa Pak, maksudku Mas harus datang sih. Aku belum balas juga tuh nenek sihir," ucap Dilla kesal. Dilla ingin berikan tonjokan tadi ke muka bendahara keuangan itu kalau Erwin tidak datang.


Erwin tidak peduli, dia membersihkan bekas cakaran di tangan Dilla.


"Ini cuman luka sedikit, Mas. Aku nggak apa-apa." Dilla memerhatikan Erwin yang sangat serius sekali dengan tangannya.


Erwin sudah selesai membersihkan luka ditangan istrinya itu, pria ini mendogak kepalanya.


"Walaupun dikit, aku nggak mau kamu kenapa-kenapa." Tangan Erwin mengelus lembut pipi Dilla, "masih sakit, aku panggil dokter aja?" tawar Erwin saat melihat pipi istrinya itu masih memerah.


Dilla menggelengkan kepalanya cepat. "Aku nggak apa-apa, Mas." Dilla tampak frustrasi melihat kekhwatiran yang berlebihan di wajah suaminya itu. Padahal dia nggak merasa sakit apa pun.


Erwin manggut-manggut mengerti, dia membaringkan tubuhnya di atas sofa dan tidur di pangkuan Dilla. Membuat Dilla gugup.


"Kamu masak apa? tadi kamu bawa rantang sepertinya?" Erwin bertanya santai.

__ADS_1


Dilla menaruh wajah sedih, "Mas sudah makan siang?" Dilla bertanya balik.


"Belum."


Dilla mengembuskan napas panjang. "Aku sudah masak makanan kesukaan Mas tadi. Ee tuh nenek sihir main nabrak aja, padahal aku sudah susah payah masak dan minta bantuan pada kak Famira pula." Dilla refleks mencubit lengan Erwin karena masih kesal dengan bendahara keuangan itu. Erwin merintih kesakitan mendapat cubitan ganas dari Dilla.


"Maaf, Mas. Nggak sengaja hehehe ..." Dilla tertawa kikuk.


"Emang kamu bisa masak?"


"Bisalah, Mas meremehkan masakanku?"


"Nggak," sahut Erwin tersenyum tipis. Erwin menarik sebelah tangan Dilla lalu menciumnya, "sayang ...," panggil Erwin saat melihat Dilla membuang wajahnya.


"Apa? nggak usah panggil gituan, aku nggak suka, Mas."


"Hm."


'Mulai deh,' gumam Dilla mendengar deheman Erwin.


"Biarkan seperti ini!" Erwin memperingati Dilla untuk tidak melepaskan genggaman tangannya. Erwin menggengam erat tangan Dilla di atas dadanya, "aku ingin tidur sebentar, Sayang."


"Dengan posisi seperti ini?"


"Ya."


"Terserah, Mas." Dilla pasrah, menuruti keinginan suaminya.


Setelah lima menit, Erwin benar-benar sudah terlelap di pangkuan Dilla.


Dilla tersenyum tipis, melihat tangan Erwin yang menggenggam tangannya dengan erat.


Dilla menundukkan kepalanya, kenapa dia jadi tergoda dengan bibir milik pria yang sudah tertidur pulas itu.


'Aku terkena bisikan setan sepertinya,' batin Dilla. Satu kecupan singkat mendarat di bibir Erwin, Dilla membulatkan matanya saat Erwin membalas ciumannya dan menahan tengkuk lehernya.


Cklek!


Pintu ruangan Erwin terbuka, terlihat sekretaris Max yang baru masuk. Sekertaris Max yang melihat adegan itu membuang wajah ke arah lain.

__ADS_1


Dilla segera melepaskan ciuman Erwin dengan paksa dan berlari ke kamar mandi karena malu saat mengetahui kehadiran sekretaris Max.


"Max, kau peganggu!" Erwin menendang sisi meja karena kesal.


__ADS_2