
━━━━━━━━━⊰✿✿⊱━━━━━━━━
"Untuk menyelamatkanmu dari orang yang salah. Allah mematahkan hatimu."
[ Imam Al-Ghazali ]
━━━━━━━━━⊰✿✿⊱━━━━━━━━
Sudah satu minggu ini Bara sangat berubah sekali kepada Rendi. Mulai dari cara bicaranya, sikap, dan tingkah lakunya kepada Rendi. Membuat Rendi kebingungan dengan perubahan drastis sahabat sekaligus atasannya itu.
“Gue punya salah sama lo, Bar. Kenapa lo bersikap seolah-olah gue orang asing di kehidupan lo beberapa hari terakhir ini. Apa salah gue pada lo?” tanya Rendi menatap lurus pria yang sedang duduk di sofa itu.
Bara menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. “Terkadang kita tidak tahu, banyak orang yang ingin menjatuhkan kita dari belakang. Berbuat seolah-olah baik di depan namun nyatanya orang itu bermain api di belakang kita. Hahaha lucu juga, gue hanya melakukan hal yang sama. Menjaga jarak! dari mereka yang ingin jatuhkan gue!” Bara melakukan penekanan di setiap kata-katanya. Ucapan yang di iring tawanya, membuat Rendi merinding mendengarnya. Rendi merasa tertampar keras dengan ucapan Bara itu.
“Apa Bara sudah tahu rencana gue dan Adel. Ah, bisa habis gue kalau Bara tahu,” batin Rendi mulai frustrasi. Dia membuang wajahnya dari hadapan Bara, Rendi kembali fokus dengan laptopnya memeriksa kinerja dan perkembangan proyek perusahaan dari perusahaan di bawa pegangan Wijaya grup.
“Bagaimana menurut lo dengan orang seperti itu, Ren?” tanya Bara menatap tajam ke arah Rendi yang berpura-pura sibuk dengan pekerjaannya.
“Cih ... gue benar-benar jijik lihat wajah lo yang tanpa dosa itu,” gumam Bara penuh kebencian.
Rendi menutup laptopnya, memberikan senyum tipis ke arah Bara. “Menurut gue sih orang seperti itu, adalah orang munafik Bara. Gue sih akan benar-benar benci dan akan tendang di sejauh mungkin dari kehidupan gue, Bara.” Rendi menelan ludah susah payah dengan perkataannya sendiri.
“Hahaha.” Bara kembali tertawa, bukan tertawa lucu melainkan Bara memberikan peringatan melalui tertawanya itu kepada Rendi untuk berhenti bermain di belakangnya. Bara akan memaafkan Rendi, bila Rendi mengakui kesalahannya sebelum Bara sendiri yang akan mengungkap semua rencana busuk antara Rendi dan Adel. Bulu kuduk Rendi berdiri mendengar tawa yang sungguh ngeri untuk di dengarkan.
Tak lama Rendi bernafas lega, karena handphonenya berdering. Dia bisa mengusir kecanggungan dan suasana mencekam di ruangan kerja Bara.
“Sebentar lagi, kita akan pergi ke menemui klien Bara,” ucap Rendi.
“Hm.” Bara hanya berdehem menanggapinya.”
Bara segera bangkit dari duduknya, saat menerima telepon dari Famira.
[ Assalamu’alaikum mas ... ]
[ Wa'alaikumussalam, Ra. Tumben telepon mas siang-siang, ada apa? ]
[ Mas nggak suka ya, kalau Famira telepon. ] Famira mencebik kesal.
[ Bukan gitu maksud mas, Ra. ]
[ Mas lanjuti aja kerjanya, Famira nggak jadi ngomong sama mas. ]
__ADS_1
Tutt ...
Famira mematikan telepon secara sepihak, membuat Bara bingung dengan sikap istrinya itu.
Bara menggelengkan kepalanya pelan, senyum terukir di bibir pria itu. “Mas ingin memakanmu Ra, bila kamu bersikap seperti itu.”
Bara meraih kunci mobilnya, dia akan pulang menemui istrinya itu yang marah tidak jelas.
“Lo mau ke mana, Bara?” tanya Rendi yang melihat Bara jalan terburu-buru.
“Pulang ke rumah.”
“Ketemu sama kliennya tinggal 30 menit lagi Bara.”
“Tunda satu jam lagi.” Bara meninggalkan Rendi di dalam ruangannya.
***
“Famira mana, Ma?” tanya Bara pada Mama Ani yang sedang duduk di depan rumah bersama Kila.
“Di dalam kamar, Famira ingin ajak kamu ke mall tadi. Tapi kamu, seperti nggak suka Famira meneleponmu, kamu tahukan kalau mood orang hamil cepat sekali berubah, Famira sudah marah sepertinya. Silakan bujuk istri kamu itu,” titah Mama Ani.
“Bara belum mengatakan apa-apa pada Famira, tapi Famira langsung mematikan teleponnya, Ma.”
Bara mencubit gemas pipi Kila. “Iya sayang,” jawab Bara.
Bara membuka pintu kamar, terlihatlah Famira sedang duduk bertopang dagu di atas Sofa.
Bara langsung memeluk tubuh
Famira. “Sayang, kamu marah sama mas?”
Famira memberontak, melepaskan tangan Bara untuk menjauhi tubuhnya. “Nggak tahu,” ketusnya.
Bara melonggarkan dasinya dan membuangnya sembarangan tempat, Famira menelan saliva-nya melihat Bara. “Mas ingin memakanmu, karena sudah mematikan telepon secara sepihak. Kamu tahu kan, mas sangat tidak suka kalau seperti itu. Anggap saja ini sebagai hukuman untuk kamu.”
“Famira nggak mau.” Famira ingin berdiri namun, tangan kekar dan kaki Bara lebih dulu menahannya. Sehingga Famira kembali duduk.
“Mas em—“ Bara telah terlebih dahulu membungkam mulut Famira dengan ciumannya. Entah kenapa, Bara sangat candu dengan tubuh Famira akhir-akhir ini. Mencium aroma tubuh Famira saja membuat gairah Bara ingin terus melakukannya. Padahal dokter sudah memperingatkan.
Famira mendorong tubuh Bara karena hampir saja Famira kehabisan napas menghadapi suaminya itu. “Mas ingin membuat Famira mati sekarang,” ucapnya. Bara hanya tersenyum kecil dan kembali melanjutkan aktivitasnya.
Bara melepaskan pakaian di tubuh Famira, membuangnya sembarangan tempat.
__ADS_1
“Mas,” ucap Famira memohon untuk tidak melanjutkannya.
Bara tidak peduli, dia membenamkan wajahnya di dada Famira meninggalkan bekas kepemilikan yang sangat banyak di sana.
Bara mencium kening Famira. “Maafkan mas yang memaksakanmu.” Bara menyelimuti tubuh Famira untuk istirahat. Istrinya itu pasti kecapean menghadapi dirinya yang kurang kendali hari ini.
Famira menahan tangan Bara. “Mau ke mana?” tanyanya dengan mata sayup.
“Balik ke perusahaan, kamu istirahatlah.”
Famira menggelengkan kepalanya. “Mas jangan pergi, temani Famira,” pintanya.
“Tapi Ra.”
“Pergilah ... mas memang lebih mementingkan pekerjaan daripada Famira,” ucap Famira bersedih.
Bara langsung naik ke atas kasur king size itu, membaringkan tubuhnya di samping istrinya itu. “Jangan berfikir seperti itu, kamu adalah nomor satu di hati mas,” ucap Bara menarik tubuh Famira ke dalam dekapannya. Tak lama Famira terlelap di pelukan Bara.
Hampir saja Bara ikut terlelap, tetapi handphonenya yang berbunyi mengganggu istirahatnya dia dan Famira.
[ Bara gue udah tunggu lo di restoran dengan klien sudah satu jam, kenapa lo belum datang-datang juga. ]
[ Batalkan semua pertemuan dengan klien hari ini! gue hari ini nggak akan balik ke perusahaan. ] ucap Bara to the point.
[ Tapi Bar-- ]
[ Gue atasan lo, bukan lo! ]
Bara langsung mematikan handphonenya, membuat Rendi mencebik kesal dengan keputusan Bara. Selain karena pertemuan dengan klien itu ada rencana licik Rendi dan Adel di balik semuanya itu.
Adel yang duduk di meja lain langsung berpindah duduk ke meja Rendi setelah melihat ekspresi berubah dari wajah pemuda itu saat selesai berbicara dengan Bara.
“Kakak Bara akan datang, kakak Ren?” tanya Adel antusias.
“Bara nggak bisa, Del. Dan parahnya lagi semua pertemuan dengan klien hari ini di batalkan. Gue nggak bisa berbuat apa-apa,” ucap Rendi menatap lekat wajah Adel.
“Padahal hari ini kita memulai rencana kita kak, sekarang sudah gagal aja.” Adel mengembuskan napas panjang.
Rendi tersenyum tipis. “Masih banyak hari-hari berikutnya, lo nggak usah khawatir, Del. Gue akan selalu bantu lo sampai benar-benar Bara milik lo seutuhnya.”
“Iya kakak Ren.”
“Pasti gara-gara istrinya kakak Bara itu, huh awas aja kamu. Tak lama kakak Bara akan milik aku selamanya,” batin Adel. Tak sabar baginya untuk segera bersama Bara selamanya.
__ADS_1