Pernikahan Tanpa Cinta

Pernikahan Tanpa Cinta
97


__ADS_3

═════════•❁❁•═════════


"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."


[ QS. Al-Hujurat :13]


═════════•❁❁•═════════


"Benar? Jadi kalian sebentar lagi nikah?" Erwin bertanya penasaran.


"Iya, Kak Erwin."


"Mana ada!" bantah Rendi angkat bicara. Telinganya sudah mulai panas mendengar ocehan nggak penting dari mulut Jessika


"Singkirkan tangan kamu, Jessika!" perintah Rendi dengan kasar. Namun, Jessika enggan mengindahkan perintah Rendi kepada dirinya.


Rendi bangkit, Jessika pun ikut bangkit.


"Gue pulang duluan, Win, Dil." Rendi menepuk pundak Erwin sebelum pergi dari hadapan mereka.


Berkali-kali Rendi melepaskan tangan Jessika dari lengannya, berkali-kali juga Jessika tetap menolak. Rendi mengembuskan napas panjang. Menghentikan langkahnya kembali. "Gue muak dengan kamu, Jessika!" tegasnya penuh penekanan. Menatap wajah Jessika penuh dengan kebencian. Rendi tidak ingin lembut lagi menghadapi gadis seperti Jessika. Lama-kelamaan sikap Jessika ngelunjak makin hari.


Jessika sudah bergetar ketakutan, Rendi benar-benar sudah marah kepada dirinya. Jessika wanita manja, jadi jangan heran dia gampang sekali menangis. Mama Ani, papa Andi, dan Bara tidak pernah memarahi Jessika sekalipun. Apalagi Bara meski memiliki temperamen keras, dia tidak akan pernah melukai adik perempuannya itu.


"Jadi perempuan punya harga diri sedikit, Jes! Nggak kayak gini. Apa bedanya kamu dengan wanita-wanita diluar sana bila bersikap seperti ini!" hardik Rendi penuh penekanan di setiap katanya. Hinaan demi hinaan terlontar dari bibir Rendi. Tidak peduli mereka berdua menjadi pusat perhatian, karena pertengkaran sengit ini.


Orang-orang yang berlalu lalang, tampak merasa iba kepada Jessika yang sudah menangis sesenggukan.


"Jessika cinta sama, Kak Rendi. Jessika cinta." Bulir air mata sudah jatuh di pipi Jessika. Jessika sangat tidak tahan dengan hinaan Rendi barusan.

__ADS_1


"Aku nggak mencintai kamu! Sudah berapa kali aku bilang aku nggak mencintaimu, Jes!" ujar Rendi dengan suara naik dua oktaf. Kemarahan Rendi sudah tidak dapat ditahan lagi. Rendi mengusap wajah secara kasar.


Dengan lirih dan air mata terus berjatuhan di pipinya, Jessika berkata, "Baiklah, Jessika memang salah. Jessika akan mencoba berhenti mencintai Kak Rendi. Jessika yakin Kak Rendi akan menyesal suatu hari nanti." Jessika langsung berlari menjauh dari Rendi. Hatinya terasa sakit. Dia memang salah karena mencintai seseorang yang tidak mencintai dirinya.


Rendi memandang punggung Jessika yang kian menjauh, ada rasa bersalah saat membuat gadis itu menangis. Satu detik kemudian, netra milik Rendi melebar. "Jessika awas ...." Ucapan Rendi tergantung, saat tubuh Jessika sudah terlebih dahulu tertabrak oleh mobil.


Rendi berlari secepat kilat ke tengah jalan.


Memangku kepala Jessika yang sudah berlumuran darah. Orang-orang berkerumun dan segera ikut membantu.


Iris hitam milik Jessika mulai tertutup perlahan-lahan, tubuhnya terasa sakit. Air matanya terus keluar dari pelupuk matanya.


"Jessika minta maaf Kak Ren ....," kata terakhir terucap dari bibir Jessika sebelum kesadarannya benar-benar direnggut.


"Jessika bangun ...." Rendi bersuara sendu. Rendi tidak akan memaafkan dirinya sendiri bila Jessika sampai kenapa-kenapa. Dia sudah bodoh saat ini. Rendi menepuk pipi Jessika yang sudah tidak sadarkan diri itu.


Dengan sigap Rendi menggendong tubuh Jessika yang berlumur darah itu ke dalam mobil yang akan mengantarkan mereka ke rumah sakit.


"Cepatan bawa mobilnya, Pak!" teriak Rendi kian khawatir dan frustrasi saat mengecek urat nadi tangan Jessika yang berdenyut lambat.


Pria paruh baya yang mengemudikan mobil itu mengaguk paham dan semakin mempercepat laju mobilnya.


"Aku yang seharusnya minta maaf, Jessika. Maafin aku." Tak terasa untuk pertama kalinya air mata Rendi jatuh untuk kepada seorang wanita setelah kematian mamanya. Rendi menatap lekat wajah Jessika yang tidak sadarkan diri itu, bening kristal kembali jatuh. Namun, dengan gerak cepat Rendi segera menghapusnya.


****


Mama Ani, papa Andi, Anita, dan Bara baru saja tiba di rumah sakit. Berita tertabrak itu sangat cepat sampai ke keluarga Wijaya. Mereka berempat berjalan terburu-buru ke arah Rendi yang sedang duduk di kursi tunggu.


"Mana Jessika, Nak?" tanya mama Ani dengan isak tangisannya. Papa Andi memeluk tubuh istrinya itu mencoba menenangkan.

__ADS_1


Rendi mendogak kepalanya


perlahan-lahan. "Jessika masih ditangani oleh dokter."


"Gue kecewa sama lo, Ren. Gue pernah bilang ke lo jangan terlalu kasar kepada Jessika, sekarang lo puas, hah?" Bara memegang kerah baju Rendi.


"Pukul gue habis-habisan, Bar. Gue pantas mendapatkannya sekarang." Rendi menjawab pasrah. Tidak melawan sedikit pun.


Bara melepaskan cengkraman tangannya di leher baju Rendi. "Gue nggak akan maafin lo, kalau sampai Jessika kenapa-kenapa." Bara ikut khawatir dengan kondisi adik angkat perempuannya itu.


"Bagaimana bisa terjadi, Ren? Bukankah kalian pergi bersama?" tanya papa Andi, masih memeluk tubuh mama Ani yang masih terisak-isak.


"Rendi salah, Om. Rendi minta maaf."


Setelah itu tidak ada perbincangan lagi, mereka tidak sabar menunggu dokter yang sedang menangani Jessika di ruangan UGD itu.


Pintu yang sudah tertutup hampir dua jam itu akhirnya terbuka. Keluarga besar Wijaya langsung bangkit berdiri. Menyerbu dokter dengan berbagai pertanyaan.


"Pasien cukup banyak kekurangan darah," ucap dokter. "Rumah sakit kebetulan kehabisan stok darah saat ini," lanjutnya dokter lagi dengan sopan. Siapa yang tidak kenal dengan keluarga yang sedang berbicara dengan dirinya saat ini.


"Golongan darah adik saya apa, Dok?" tanya Anita.


"Golongan darah AB."


Golongan darah AB adalah golongan darah yang memiliki antigen A dan B, namun tidak banyak orang yang memiliki golongan darah ini atau bersifat langka.


Golongan darah AB disebut sebagai penerima darah universal karena dapat dengan aman menerima transfusi darah dari golongan darah manapun, baik O, A, B, atau AB. Akan tetapi, orang dengan golongan darah AB hanya bisa mendonorkan darahnya bagi mereka yang bergolongan darah AB saja.


"Ambil darah saja, Dok," ucap Bara.

__ADS_1


"Saya juga, Dokter. Ambil berada pun yang Dokter butuhkan," ujar Rendi dengan penuh mantap.


"Mari ikut saya, Tuan." Suster menundukkan kepalanya pelan. Bara dan Rendi mengaguk setuju, mereka berdua mengekor di belakang suster tersebut.


__ADS_2