Pernikahan Tanpa Cinta

Pernikahan Tanpa Cinta
107


__ADS_3

"Cinta merupakan sumber kebahagiaan. Dan cinta terhadap Allah harus dipelihara dan dipupuk. Suburkan dengan sholat dan ibadah lainnya." ~Imam Al-Ghazali


Setelah merasa cukup lama berada di kediaman Bara dan Famira, Adel dan Ezra segera berpamitan untuk pulang. Masih banyak yang perlu mereka persiapkan di acara pernikahan nantinya.


"Kak Famira, Adel pulang dulu. Pokoknya Kak Famira dan Kak Bara harus datang nantinya yah," tutur Adel. Gadis ini menggandeng tangan Ezra dengan manjanya.


"InsyaAllah, Del kami pasti datang dihari bahagia kalian," sahut Famira.


"Baiklah, assalamu'alaikum ....," pamit Adel.


"Wa'alaikumussalam, hati-hati, Del." Famira mengulum senyum tipis ke arah kedua pasangan tersebut.


"Iya, Kak."


Bara menarik pipi Famira lembut. "Kita pergi kajian setelah selesai sholat dzuhur nantinya yah."


"Tentu saja, Mas. Hum ... sekalian pergi ke panti asuhan juga. Famira ingin bertemu dengan teman-teman Atha di sana."


"Oke, Sayang."


Sementara di tempat lain, Dilla sedang di landa ketakutan di dalam mobilnya. Dilla sudah bisa membawa mobil sendiri. Siang ini, seperti hari-hari sebelumnya dia akan mengantarkan makanan siang untuk suaminya, tetapi di tengah perjalanan, ada dua orang pria yang tampilannya seperti preman menghadang jalannya, mereka menodongkan senjata tajam ke arahnya. Sepertinya kedua pria itu begal.


"Keluar lo!" teriak pria yang berambut gondrong. Dia menggedor pintu mobil Dilla dengan keras.


Pria satunya berdiri di depan mobil.


"Siang-siang gini ada juga orang jahat." Dilla berbicara sendiri, dia menyesal melewati jalan yang sedang di lalui sekarang. Sepi tidak ada pengendara lain yang lewat.


Dilla memegang setir mobil. Kakinya siap menginjak pedal gas. Tidak ada cara lain yang dilakukannya selain kabur secepat mungkin. Dilla tidak mau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan saat ini. Namun, percobaan kabur itu gagal. Kaca mobilnya sudah di pecahkan terlebih dahulu hingga mengenai wajahnya.


"Mau kabur, tapi nggak akan bisa hahaha ...." Kedua pria itu tertawa jahat. Pria berbadan tambun memasukkan tangannya lewat jendela dan mengambil kunci mobil Dilla. Sehingga mesin mobil tersebut otomatis mati.


"Cantik juga nih cewek, enaknya diapain?" tanya salah satu pria itu kepada temannya. Tangannya ingin mencolek dagu Dilla. Namun, dengan gerak cepat Dilla menepis secara kasar.


"Bening juga," sahutnya temannya.


"Jangan sentuh aku dengan tangan kotor kalian!" Dilla kembali menepis secara kasar tangan kedua pria itu.


"Sombong sekali," sahut si pria.


Dilla keluar dari mobil, tidak ada pilihan lain kecuali melawan kedua preman itu. Dilla tidak mau menjadi korban pelecehan. Nyali Dilla cukup besar saat ini. "Kalian pikir aku takut." Dilla melipatkan lengan bajunya, wanita ini menantang kedua pria itu untuk berkelahi.


"Apa nggak ada pekerjaan lain, selain merampas harta dan melukai orang lain seperti ini? Kalian rela memberikan anak dan istri kalian makanan haram? Kalian nggak takut dosa, ingat perbuatan kalian akan di tanggung di akhirat kelak!" Dilla berucap dengan suara keras. Kedua pria itu tertawa kecil, baru kali ini ada seorang perempuan yang menasehati mereka di saat situasi genting seperti ini.


"Ah, banyak bacot nih perempuan!" Pria yang berambut gondrong itu ingin menusuk pisau yang ada di tangannya ke arah Dilla, tetapi dengan gerak cepat Dilla menepis. Hingga pisau itu terlempar jauh ke sisi jalan.


Bug!

__ADS_1


Dengan ragu Dilla menendang kelemahan yang dimiliki oleh setiap pria. Pria berambut gondrong itu berteriak kesakitan, dia memegang 'anunya' dengan sumpah serapah kepada Dilla. "Ck, wanita sial4n!" Pria ini merintih kesakitan, sungguh sakit yang dirasakan.


Dilla ber 'iyes' satu pria sudah berhasil tersingkirkan. "Maaf ya, aku memang sengaja." Senyum mengejek terukir di bibir Dilla.


"Ilmu bela dirimu cukup tinggi juga, tapi aku tidak yakin kamu bisa melawanku."


Bug!


Satu tendangan bebas mendarat dari sisi samping Dilla. Tubuh Dilla langsung terjatuh ke trotoar jalan, cukup sakit. Sepertinya punggungnya terluka. Dilla tidak menyerah, dia bangkit berdiri kembali.


Dengan mahir Dilla berhasil menepis tinjuan atau pun tendangan yang diarahkan kepadanya.


Bug!


Bug!


Dilla memberikan tinjauan balik dengan cukup keras mengenai wajah pria berbadan tambun itu. Pria tambun itu sudah terjatuh lemah di samping temannya. Dengan darah segar keluar dari sudut bibirnya.


'Maafin aku ya Allah, aku hanya ingin melindungi diri,' monolog Dilla, dia bergedik sendiri ketika melihat kedua preman itu sudah merintih kesakitan di trotoar jalan.


Dilla membungkukkan badannya mengambil kembali kunci mobilnya di tangan salah satu pria itu.


Dilla meraih handphonenya di dalam tas selempangnya yang dia pakai, dia akan menelepon polisi untuk datang dan menangkap kedua preman itu.


[ Pak, terjadi tindakan kejahatan di jalan XX ]


Tidak lama kemudian suara sirene mobil polisi terdengar. Dilla mengukir senyum tipis.


"Terima kasih atas kerja samanya, Mbak. Kedua orang ini sudah menjadi buronan kami selama ini."


"Baik, Pak. Saya permisi dulu." Dilla melipatkan kedua tangannya di depan dada sebagai bentuk penghormatan sebelum pergi.


****


Tatapan penuh kebencian dari karyawan wanita ditujukan kepada Dilla yang baru saja datang. Mereka tetap tidak suka dengan Dilla.


Dilla melemparkan senyum tipis, tidak peduli dia dibenci oleh karyawan dari suaminya itu.


"Siang, Bu!" sapa salah satu dari karyawan wanita itu dengan terpaksa. Bagaimana pun mereka harus menghormati mantan OB itu.


"Siang juga." Dilla menyapa kembali dengan senyuman yang tidak pudar dibibirnya.


Dilla segera naik lift menuju ruangan Erwin.


"Assalamu'alaikum, Mas," salam Dilla berjalan ke arah Erwin yang sedang fokus dengan laptopnya.


"Wa'alaikumussalam." Erwin menutup laptopnya, pria ini segera bangkit menyambut kedatangan istrinya itu. Satu kecupan singkat mendarat di kening Dilla.

__ADS_1


Erwin menatap penampilan Dilla dari bawah sampai atas. Ada yang aneh dengan penampilan Dilla.


"Kenapa jilbab kamu kotor begini, Dilla?" tanya Erwin khawatir sembari membersihkan kotoran yang ada. Netra Erwin melebar saat melihat bekas luka di wajah istrinya itu. "Siapa yang melukaimu seperti ini?"


"Enggak ada kok, tadi aku ...." Ucapan Dilla tergantung.


"Jangan berbohong!" sarkas Erwin cepat. Erwin menyuruh Dilla untuk duduk. "Cerita sekarang, jangan sembunyi apa pun," pinta Erwin.


"Aku berantem tadi." Dilla cengir kuda.


"Hah?" Erwin kaget.


"Tadi di tengah jalan ada begal, terus aku ajak berantem," jawab Dilla jujur.


"Siapa yang menang?" Erwin bertanya semangat.


"Akulah, mereka kalah telak, Mas." Dilla menjawab antusias.


Erwin menggelengkan kepalanya pelan, mendorong kening Dilla dengan telunjuknya. "Nggak baik kamu berantem kayak gitu."


"Aku 'kan cuman ingin lindungi diri, Mas," sahut Dilla.


"Kamu itu perempuan, aku tidak mau kamu kenapa-kenapa, Dilla. Kenapa nggak nelepon aku tadi?" Raut kekhwatiran berlebihan tampak di wajah Erwin.


"Nggak kepikiran, aku ketakutan soalnya."


Erwin mengembuskan napas berat. "Tapi, kamu nggak apa-apa, 'kan?"


"Nggak kok, Mas. Cuman kaca mobilnya aja yang rusak," jawab Dilla.


Erwin mengaguk paham. Erwin menarik tubuh Dilla ke dalam dekapannya. "Jangan gitu lagi. Aku tidak mau kehilangan kamu, Dilla."


"Iya, Mas. Aww ...." Dilla merintih kesakitan saat tangan Erwin tidak sengaja menyentuh luka yang ada di punggungnya.


"Sakit, Mas," aduh Dilla.


"Kita ke rumah sakit sekarang. Nanti infeksi pada lukamu itu."


"Tidak usah, luka sedikit kok. Aku baik-baik saja, Mas." Dilla mencoba meyakinkan suaminya itu.


"Jangan keras kepala!"


"Tidak usah, Mas Erwin aja yang ngobatin. Ini cuman luka kecil," jelas Dilla lagi.


Erwin tidak peduli dengan penolakan Dilla. Dia meraih kunci mobilnya.


"Ayo kita pergi ke rumah sakit sekarang." Erwin menarik tangan Dilla dengan paksa, Dilla pasrah menuruti keinginan suaminya itu.

__ADS_1


__ADS_2