
═════════•❁❁•═════════
“Belum tentu yang ahli maksiat
masuk neraka, belum tentu yang ahli ibadah masuk surga. Karena dosa dapat terhapus
dengan kesungguhan taubat, dan pahala dapat terhapus dengan ujub dan riya.”
═════════•❁❁•═════════
"Aku minta maaf ..."
"Famira sudah memaafkan, Mas. Famira ingin tidur." Famira melepaskan pelukan Bara.
Bara membiarkan Famira tertidur terlebih dahulu. Bara menghela napas berat, sangat kecewa pada dirinya sendiri melihat raut kekecewaan di wajah Famira. Bara mengecup kening Famira yang sudah tertidur pulas cukup lama. Bara beringsut bangkit, meraih handphonenya dalam saku celananya.
[ Jemput Atha dan Desi besok ke panti, bawa ke rumah Ren! ] kata Bara to the point saat memastikan handphone sudah terhubung dengan Rendi.
[ Oke. Apa gue perlu selidiki juga siapa dalang dari semua ini? ] Meskipun ada sedikit rasa kesal pada sahabatnya itu karena menyakiti hati Famira, Rendi juga tahu Bara cuman di jebak.
[ Besok gue urus urusan itu, gue mau menyelesaikan kesalahpahaman sama istri gue dulu. ]
[ Hm gue setuju-setuju saja, tapi gue sih mencium bau-bau kejahatan sama sosok Desi itu, Bar. Gue takut wanita itu mempunyai rencana licik! ]
[ Tidak mungkin, dia gadis baik. ]
[ Lo baru kenal sama gadis itu, berjilbab sih. Ah, entahlah ... gue juga nggak bisa mencap seseorang tanpa bukti terlebih dahulu. ]
Tutt ...
Bara mematikan handphone secara sepihak, membuat Rendi yang sudah membaringkan tubuhnya di atas kasur mendengus kesal.
***
Bug!
Satu tonjokkan dari kepalan tangan Erwin yang baru saja tiba di kediaman Bara. "Lo mau apa sebenarnya sama adik gue, lo nggak puas menyakitinya?" tanyanya sengit. Erwin semalam tidak bisa tidur nyenyak gara-gara memikirkan bagaimana keadaan Famir a saat melihat foto Bara dengan gadis yang tidak dia kenal.
"Gue bisa jelasin!" sahut Bara tak kalah sengit. Menyingkirkan secara kasar tangan Erwin dari kerah jasnya.
Vernandes yang juga datang ke kediaman putrinya tampak kecewa juga dengan menantunya itu.
__ADS_1
"Bisa kamu jelasin semuanya kepada kami, Nak?" tanya Vernandes menatap lekat wajah Bara.
"Ummi juga kecewa sama kamu, Nak." Ummi Hana ikut angkat bicara, "apakah Famira tidak melayanimu dengan baik, sampai-sampai kamu menyakitinya lagi?" tanya ummi Hana. Meski tidak cukup tahu masalah apa yang terjadi, tetapi karena putrinya itu menangis sesenggukan semalam di pelukannya. Wanita paruh baya yakin pasti gara-gara Bara, ummi Hana turut merasakan kesakitan yang mendalam dari hati putrinya.
"Ini hanya kesalahpahaman, Yah, Ummi. Mas Bara nggak salah," sahut Famira yang baru saja turun dari atas setelah mendengar keributan yang terjadi.
"Buat apa kamu membela pria seperti itu lagi, Dek!" tegas Erwin, dia menarik tangan Famira untuk berdiri di sampingnya, "kalau lo terbukti bersalah jangan harap keluarga gue memafkan lo. Sudah cukup lo nyiksa adik gue!" Erwin mendorong keras tubuh Bara.
"Istighfar, Kak. Jangan marah terus." Famira menahan tangan Erwin yang ingin menonjok muka Bara lagi.
"Itu bukan seberapa, atas yang kamu rasakan, Dek. Kakak bahkan ingin membunuh pria brengs4k itu!" hardik Erwin dengan nada suara naik dua oktaf. Menatap sinis ke arah Bara.
Famira hanya bisa memberikan senyuman tipis ke arah Bara, dia memberikan semangat kepada suaminya itu. Meski wanita ini juga masih sedikit kecewa.
Cukup lama perdebatan yang terjadi semua orang di situ menyalahkan Bara. Bara tidak diberi kesempatan sedikit pun untuk berbicara, dan menjelaskannya.
Tak hanya keluarga besar Martadinata, keluarga besar Wijaya turut hadir pagi itu di kediaman Bara dan Famira.
Mama Ani dan papa Andi tidak dapat berkata atau pun untuk membela putranya, mereka juga ikut kecewa.
Hawa mencekam, menyelimuti suasana di ruangan itu.
Tak lama terdengar teriakkan anak kecil laki-laki dari ambang pintu yang tak lain adalah Atha yang berhasil mengalihkan seluruh sorot mata di ruangan itu.
"Ayah ..," ucapnya penuh kegembiraan. Anak kecil laki-laki itu berlari kecil ke arah Bara. Bara langsung menggendong tubuh Atha.
"Ayah?" Semua orang di situ kaget dan tidak percaya. Famira menggengam erat tangan ummi Hana setelah melihat kehadiran dan mendengar panggilan itu. Dadanya terasa sesak, saat melihat suaminya itu juga kelihatan sangat akrab dengan anak kecil laki-laki itu.
"Kuatkan hatimu, Nak. Allah maha besar," bisik ummi Hana pelan sambil mengusap lembut punggung putrinya memberikan semangat.
Erwin yang sudah emosi kian emosi setelah melihat kehadiran Atha. Amarah pria ini sudah tidak bisa di tahan lagi.
Desi berjalan beriringan dengan Rendi di belakangnya.
Bara menyuruh bibi Ina untuk membawa Atha pergi terlebih dahulu. Bagaimana juga, Bara tidak ingin membuat pikiran anak kecil laki-laki itu terganggu.
"Kamu jelaskan semuanya pada kami, apa hubungan kamu dengan putraku?" tanya mama Ani.
Desi meremas ujung jilbabnya, dia tampak takut saat melihat sorot tajam dan kebencian dari orang-orang di situ terhadap dirinya.
"Katakan sejujur-jujurnya!" tegas Anita yang duduk di samping mama Ani.
__ADS_1
Desi masih terdiam dan semakin menundukkan kepalanya dalam-dalam. Membuat orang-orang di ruangan itu kian geram.
"Jawab, Nak. Kami tidak akan marah terhadapmu," tutur Vernandes lembut.
"Cepat dong jawab, kamu bisu atau kamu tuli?" tanya Jessika jengkel. Jessika melirik malas ke arah Desi.
Desi mendogak kepalanya perlahan-lahan, netranya jatuh tepat di wajah Bara.
"A--ku ...." ucapan Desi tergantung.
"Lelet banget bicaranya, perlu aku ajarin? bikin sebal aja." Jessika mencebik kesal.
"Diam kamu!" titah Erwin pada Jessika.
Jessika meringis ketakutan setelah mendapat teguran dan tatapan tajam dari Erwin.
Desi menarik napas dalam-dalam. "Aku dan kak Bara memang punya hubungan," ucapnya dengan satu tarik napas.
"Desi apa yang kamu katakan?" Bara langsung bangkit berdiri, tidak terima dengan ketidakjujuran Desi.
"Aku berkata jujur, Kak," sahut Desi penuh keyakinan.
Satu tamparan keras mendarat di pipi Bara dari telapak tangan Vernandes. Vernandes sudah marah besar.
Air mata Famira langsung luruh setelah mendengar itu, memeluk erat tubuh ummi Hana dengan erat.
"Wanita ini berbohong! dengarin penjelasan Bara dulu!" Rendi ikut tidak terima dengan pengakuan Desi.
"Lo tidak usah membela, pecundang seperti dia!" Erwin bangkit berdiri, lalu duduk di samping Famira, menarik tubuh adiknya itu ke dalam dekapannya.
"Munafik kamu, Desi!" Bara ingin melayangkan tamparan keras di pipi Desi namun, mama Ani sudah menahan terlebih dahulu.
"Mama sangat kecewa sama kamu, Nak!" tegas mama Ani.
"Bara berani bersumpah, Ma, Bara tidak mempunyai hubungan apa pun dengan dia," tunjuk Bara pada Desi, "dia hanya merawat Atha, Atha anak yang aku temuin di jalan. Kenapa kalian semua dengan mudahnya percaya hanya karena sebuah foto?" Bara mengacak rambutnya frustrasi, saat melihat Famira sudah menangis.
Gadis yang masih menggunakan jas putih khas dokternya berjalan dengan tergesa-gesa ke dalam rumah Bara. Semoga saja kedatangannya tidak terlambat untuk mengatakan kebenaran.
"Kak Bara nggak salah! Adel berani jamin," tegas Adel berjalan mendekat.
Adel menunjuk Desi, "wanita ini ... bekerja sama dengan kak Rafael. Kak Rafael yang mengirimkan foto-foto itu. Kak Rafael ingin menghancurkan kehidupan Kak Bara karena ingin balas dendam ..." Ucapan Adel berhasil menarik perhatian semua orang di situ kembali. Adel beberapa terakhir memang sangat dekat dengan Rafael. Tetapi, suatu hari saat Rafael menjemput dirinya ke rumah sakit. Adel tidak sengaja mendengar semua percakapan Rafael dengan seseorang dari handphone yang berencana menghancurkan kehidupan Bara dan bahkan berencana membunuh pria yang pernah dia cintai. Rafael mendekati dirinya hanya dijadikan 'alat' untuk menjalankan rencananya.
__ADS_1