
"kalian kompak benar dah..."Andara baru saja datang dan melihat apa yang kedua temannya itu lakukan.
Setelah pulang dari mesjid, prasasti tampak celingukan.
"Yani udah pulang mas Pras...setengah jam yang lalu"ucap Bu Darmi mengulum senyum
"ih bukan Bu...saya bukan nyari Yani...tapi Indira"prasasti mencari alasan.
"Kok nyarinya Indira ...awas loh mas....pedekate sama Indira...Indira itu udah di takdirkan buat seseorang...entar yang punya marah loh"ucap Andara melirik ke arah Gumilang yang sudah pergi lebih dulu ke kamarnya.
Dua tahun berlalu, baik prasasti maupun Gumilang tidak pernah bertemu dengan kedua gadis berhijab itu.
Hari ini Indira jaga di ruang perawatan selama 12 jam, ada hal yang menarik yang membuat Indira terkagum. ada seorang pasien perempuan usia ya sudah hampir kepala enam...namun suaminya dengan sabar selalu menemaninya walaupun sang istri mengeluarkan kalimat-kalimat pedas yang membuat sakit kepala.
"Pak...maaf...ibu sudah tidur...kenapa bapaknya gak istirahat saja"sapa Indira yang tidak tega melihat keluarga pasien itu yang sudah tua.
"sejak saya memutuskan untuk menikahinya, saya sudah berjanji untuk selalu menjaganya Bu dokter.... orang yang melihat karakter istri saya pasti merasa sakit hati...itukan hanya dari luar saja mereka melihat...tapi saya sudah puluhan hidup dengannya tidak merasa tersinggung...istri saya adalah orang yang sangat baik...saya selalu menyayangi nya, hanya istri saya yang saya punya, karena Allah tidak menitipkan kami buah hati satu pun.... siapapun yang mandul...kami tidak pernah mempermasalahkan nya...makanya itu Bu dokter....saya takut kalau istri saya tidur....lalu tidak bangun lagi...lalu saya sama siapa Bu"
__ADS_1
Indira menatap sendu pada wajah laki-laki itu.
"baiklah...kalau begitu saya tinggal dulu ya pak..."
"terima kasih banyak ya dokter"
Indira menganggukkan kepalanya, kemudian keluar dari ruangan tersebut.
"Dokteeeeeeerrr"teriak salah satu pasien di ruangan Kusuma.
di ruangan tersebut seorang laki-laki berbadan kurus,sedang melotot dengan napas yang tersengal-sengal, Indira memasangkan oksigen di hidungnya dan memeriksa denyut nadi di pergelangan tangannya.
kedua mata Indira beralih ke dada pasien yang masih naik turun dengan cepat, Indira mengubah posisi pasien tersebut dari berbaring menjadi setengah duduk.
Indira memberikan perintah kepada Erawati senior untuk melakukan tanda-tanda vital kembali.
"Alhamdulillah"ucap Indira setelah melihat pasien itu sudah membaik.
__ADS_1
istri dari pasien tersebut bersimpuh di depan dokter Indira.
"terima kasih dokter...terima kasih...terima kasih sudah menyelamatkan suami saya"
"iya Bu ..sama-sama...tolong berdirilah kembali....semua atas izin dari Allah Bu"
"Ya Allah...maafkan kami yang sudah meninggalkanmu...."ucap ibu itu menangis dengan keras.
air mata keluar juga dari kedua pelupuk pasien laki-laki itu.
setelah selesai Indira dan perawat pun keluar dari ruangan tersebut.
"Pak Pramono itu sering seperti itu dok"ucap perawat itu bercerita
"siapa namanya??"tanya Indira lagi
"pak Pramono dokter...itu pasien nya dokter prasasti...dua hari yang lalu dilakukan tindakan pembedahan oleh dokter Pras karena ada benjolan di bagian lengannya...setelah di bedah ..sempat ada penurunan tanda vital..akhirnya kolaborasi dengan dokter Jantung dan paru,dari semua hasil pemeriksaan dinyatakan dalam batas normal"
__ADS_1