Pesona Indira

Pesona Indira
84


__ADS_3

Setelah indira berpamitan dengan Akhtar dan zahwan, Gumilang hanya fokus menyetir dan diam seribu bahasa.


Indira tahu apa yang sedang suaminya rasakan itu, apalagi tadi zahwan memanggilnya ibu.


Tiba di rumah, Gumilang langsung masuk ke dalam kamar sambil menggendong nilam yang sudah tertidur pulas.


indira menggelengkan kepalanya perlahan, dan menarik napas perlahan.


Indira ke dapur dan memasak kesukaan Gumilang dan nilam yaitu soto ayam.


setelah selesai indira membersihkan diri dan menghampiri Gumilang yang sedang berada di kamar nilam.


"Mas...Nilam.belum bangun ya"tanya indira dengan pelan.


Gumilang hanya mendelik dan masih diam seribu bahasa.


indira paham kalau seperti ini, bayi besarnya juga ingin diperhatikan dan di manja.


Indira menarik tangan Gumilang namun Gumilang hanya diam saja, akhirnya indira pun terpaksa menggoda suaminya di depan anaknya yang sedang tidur.


Gumilang tersenyum tipis, tipis sekali sampai indira saja tidak menyadarinya.

__ADS_1


Keduanya berpindah ke kamar untuk meneruskan pemanasan yang tadi.


Selama dua jam keduanya berada dalam situasi yang kondusif, sampai Gumilang tertidur pulas setelah menyelesaikan pertarungannya dengan indira di atas tempat tidur.


indira pun beristirahat setelah membersihkan dirinya.


Malam hari,


Indira terbangun setelah wajahnya di usap oleh nilam.


"eh anak manda udah bangun...lapar ya sayang"


indira mengedarkan pandangannya mencari Gumilang, ternyata Gumilang sedang di dapur menghangatkan soto ayamnya.


"eh anak Yanda udah bangun...ayo kita makan"Gumilang tersenyum.membuat nilam bingung.


"ayah udah bisa tersenyum lagi, kenapa tadi saat pulang dari rumah sakit ayah diam aja, Yanda cemburu ya sama ayahnya kak zahwan"nilam berbicara sambil duduk di kursi dan minum es jeruk dingin kesukaan nya.


"Siapa yang cemburu sih sayang, yanda kesal aja melihat zahwan natap kamu seperti mau di makan aja..."


Nilam tertawa dengan ceria sedangkan indira indira hanya menggelengkan kepalanya perlahan.

__ADS_1


baru makan satu suap, Andara datang bersama keluarganya.


"Ikut makan ya ra...lapar nih baru pulang bikin proyek"


"Ya ampun kak...anak udah tiga mau nambah lagi"


"iya lah..banyak anak banyak rezeki ra...lagian cuma tiga mah sepi, mau bikin grup bola voli ajalah biar rame"Andara hanya cengengesan sedangkan rista dan ketiga anaknya hanya mendelik.


"lihat usia nya kak rista dong kak, kak rista kan udah gak muda lagi...batas usia wanita yang boleh melahirkan itu 25-35 tahun aja, kalau diatas 35, banyak resikonya"


"kan kak rista baru 33 tahun ra...masih bisa lah 3 lagi ya bun"


"3 dari hongkong...ingat ya kak..kak rista itu persalinan nya dua kali bekas di sesar ya...gak boleh lebih dari 3x...banyak resikonya"


"iya ra...iya...satu lagi mah gak masalah ya"Andara masih aja ngeyel membuat dalfa dan dalfi hanya menatap tajam padanya.


"bodo amat lah...malas sama kakak mah...sudah dibilangin...untung kak rista selalu sabar menghadapi mu kak...coba kalau sama yang lain, bertahan gak sampai sekarang"


"bertahan lah kan kalau rista ngambek, kakak bawa ke toko mas..."


"iya dibawa ke toko mas ra..tapi buat cuci mata doang, katanya sayang duitnya"ucap rista menimpali pembicaraan kakak dan adik yang gak akan selesai berdebat sampai subuh itu.

__ADS_1


__ADS_2