Pesona Indira

Pesona Indira
70


__ADS_3

"Assalamualaikum ra"ucap Andara saat menerima telpon dari indira.


"Waalaikumussalam kak...kak..mas gum lagi sama kak Andara gak ya"tanya indira dengan nada setengah panik.


"mas gum...emang belum pulang???tumben!!!!terus kamu sama siapa dirumah???"tanya Andara


"Sendiri kak...ya udah kalau mas gum gak lagi sama kak andara"indira menutup ponsel dan hanya duduk termenung di sopa.


Andara menghubungi Gumilang, namun ponselnya tidak aktif.


Andara menelpon ke ayahnya, tapi tidak diangkat.


"Huuh"Andara mengusap kasar rambutnya.


"Kenapa yah??"tanya rista menatap wajah suaminya yang sedang cemas.


"Indira nanyain mas gum..katanya belum pulang..."Andara menoleh pada rista yang terlihat cantik malam ini.


"macet kali yah...mudah-mudahan gak kenapa-kenapa"rista mengelus bahu suaminya.


"bun..kok bunda cantik sih malam ini"


"jadi selama ini aku gak cantik ya yah....aku jelek ya"

__ADS_1


"bukan begitu bun...setiap hari cantik kok..tapi malam ini lebih cantik"


"Alasan !!!"rista masuk kedalam kamarnya sambil mendelik.


Jam dua pagi, indira masih belum tertidur. Hatinya belum tenang, indira terus memantau ponselnya, tapi Gumilang tak kunjung menelpon.


"Mas Gum...kamu dimana???"lirih indira.


Satu Minggu berlalu,


Gumilang tidak ada kabar, sudah melaporkan ke polisi namun belum ada berita.


Darmi dan Aruna menemani indira, meskipun indira tidak berkata apa-apa tapi darmi paham kalau indira merasa kehilangan.


"Nak...makan yang banyak ya...anak dalam kandungan mu perlu makanan bergizi, berdoa lah semoga Gumilang baik-baik saja"darmi memeluk indira yang menjatuhkan tubuhnya di pelukan dari.


Aruna mengambil nasi dan sayur di meja makan, dan mulai menyuapi indira.


Indira tersenyum kecut saat makanan yang dilahapnya sudah habis.


"Aku belum ikhlas mas....aku belum bisa tenang kalau aku belum tahu dimana kamu berada"indira memejamkan kedua matanya


"Iya sayang...sabar ya"Ucapan Gumilang terdengar di telinganya ,indira pun membuka matanya dan tersenyum.

__ADS_1


Indira hanya mengalami halusinasi.


Aruna dan darmi saling memandang, Perih dan pedih dirasakan oleh kedua wanita yang sudah tidak muda lagi ini.


Prayudha dan Prasetyo yakin, kalau Gumilang sedang dalam bahaya.


Tapi bahaya seperti apa semuanya belum tahu dengan pasti.


Suara deru motor terdengar sangat bising di telinga berhenti didepan rumah indira, seseorang melempar amplop berwarna cokelat dan berlalu begitu saja.


prayudha bergegas mengambil amplop tersebut dan membukanya.


Saat amplop tersebut dibuka ,wajah prayudha semakin tegang, prayudha mengepalkan tangannya dan meremas amplop tersebut.


melihat prayudha seperti itu, prasetyo pun mendekat dan mengambil amplop tersebut, prasetyo menelan ludah dengan kasar.


di dalam amplop tersebut, banyak foto Gumilang bersama selia di sebuah pantai yang indah.


Kedua mata Prasetyo memerah menahan kesal, prasetyo tidak pernah menyangka kalau Gumilang tega melakukan hal tersebut pada indira. padahal indira sudah dianggap sebagai putrinya sendiri.


Kedua lutut prasetyo seakan lemas, prasetyo pun akhirnya berlutut di depan prayudha yang masih mengepalkan tangannya.


Darmi mengerutkan dahinya, melihat posisi prasetyo dan prayudha seperti itu.

__ADS_1


darmi mendekat dan mengambil beberapa gambar yang semuanya dalam posisi terbalik.


"Tidak mungkin...anak ku malam Gumilang bukan orang seperti ini...dia tidak akan tega menyakiti wanita manapun di dunia ini...apalagi dia sudah mendapatkan bidadari paling cantik di dunia ini...tidak yah...pak yudha...saya yakin...ini adalah kebohongan"darmi menangis sesenggukan.


__ADS_2