Pesona Indira

Pesona Indira
31


__ADS_3

indira mendekat dan mencondongkan tubuhnya melihat luka yani yang lebar akibat goresan pisau.


"Sabar ya kak...sebentar lagi akan selesai"


indira mengelus lengan yani dengan lembut.


"tidak masalah ra..ini balasan untuk seorang pengkhianat"yani tersenyum pilu.


Prasasti menegakkan badannya yang sedang merasa pegal, andara terkekeh.


"Sudah saatnya menikmati indahnya bersama keluarga dokter pras"ucap Andara memulai pembicaraan.


" tunggu 3 bulanlah sampai lukanya sembuh dulu, gak asyik kan bulan madu sambil bawa peralatan ganti verband"prasasti sangat cuek dengan tatapan kedua gadis yang sedang menatapnya itu.


"maksud dokter pras...dokter pras mau taaruf dengan kak yani ya dokter"indira menimpali.


"iya lah sama kamu gak boleh sama Andara"jawab prasasti dengan enteng


"apaan sih dokter ini...aneh..."indira melengos meninggalkan kedua laki-laki yang saling melirik ini.

__ADS_1


"Tante...tante..."teriak dalfa dan dalfi memanggil adik ayahnya itu.


indira.berjongkok di hadapan kedua anak laki-laki yang sangat imut dan menggemaskan.


"ada apa sayang"indira mencubit kedua PIPI anak kembar ini dengan gemas.


"ih sakit tante"dalfa menghempaskan tangan indira yang mencubitnya.


"lagian kalian bikin tante gemas sih"indira malah terkekeh.


"om gum dimana tan??"?tanya dalfa menatap indira dengan heran.


"gak ada tan...ayo dalfi...kita cari om gum....percuma nanya tante "dalfa menarik tangan dalfi masuk ke dalam sebuah ruangan.


"tante...om gum dan mbah ada di sini"teriak keduanya kompak


indira mengikuti keduanya dari belakang..suasana tampak gelap, indira pun memasang gerakan siaga.


setelah indira masuk ke d lama ruangan tersebut, lampu menyala dengan serentak sehingga terlihat lah orang-orang terdekatnya.

__ADS_1


prayudha menghampiri Indira yang tampak kaku.


"ra...tadi mas gum melamar kamu lewat ayah...mama dan andara sudah setuju...tinggal jawaban kamu aja"prayudha menatap putrinya dengan tersenyum.


"ayah setuju juga"tanya indira menatap wajah ayahnya.


"ayah sih yes..."jawab prayudha terkekeh


Indira menatap darmi dan suaminya dari jauh.


darmi menunduk seolah mengerti arti tatapan indira.


indira berjalan mendekat ke arah darmi dan suaminya berada.


"Nek...apakah nenek yakin kalau aku bisa jadi menantu nenek"indira menggenggam kedua tangan darmi yang mulai keriput.


"apa nak indira sudah punya pilihan yang lain"tanya dari gemetar.


"bolehkah aku jujur nek...boleh kah aku memilih nek...aku sudah mempunyai calon imam untuk masa depanku, dia tidak se sempurna nabi muhammad, tidak setampan nabi yusuf atau tidak sekaya nabi sulaiman, tapi dia adalah laki-laki yang baik...laki-laki yang mampu menjaga pandangannya setiap beradu pandang denganku...laki-laki yang memuliakan orangtuanya dan laki-laki yang rela berkorban untuk keluargaku...aku selalu meminta pada Allah untuk menjadikan imam di dunia dan di akhirat, aku ingin cinta ku dan cintanya sampai di surganya Allah...aku ingin pernikahan ini satu kali dalam kehidupan aku nek...bukankah dulu nenek selalu bilang, dalam berumah tangga bukan rupa atau harta tapi komitmen dua insan yang menjaga sucinya pernikahan...dua orang yang selalu saling bekerjasama...dua orang yang saling bertengkar kemudian berdamai hanya karena Allah...Aku ingin menikah dengan laki-laki yang rambutnya selalu basah oleh air wudhu...laki-laki yang selalu menjaga wudhunya nek"indira tersenyum menatap dari yang juga menatapnya.

__ADS_1


__ADS_2