Pesona Indira

Pesona Indira
74


__ADS_3

Aruna berdiri di samping indira, "mama baru lihat foto ini kemarin, ternyata beberapa tahun yang silam kita sangat dekat ya sayang...maafkan mama karena tidak mengenali anaknya sendiri"


"Allahu Alam bissawab mah...Tetap husnudzon pada Allah...karena semua yang terjadi di dunia ini adalah kehendaknya, dan itu sudah tertulis di kitab lauhul Mahfudz ribuan tahun yang lalu ma..."Indira menoleh ke Aruna sambil tersenyum.


Gumilang menatap indira dari jauh, ada perasaan bersalah ketika dia membuat istrinya itu menangis.


"Apakah aku bisa membuatmu bahagia ra..aku takut...kalau kebersamaan kita hanya akan menyakitimu"ucap Gumilang pelan.


"Kenapa kamu ragu mas gum...bukankah kalian sudah saling memahami hati kalian masing-masing"prayudha memegang bahu Gumilang dari belakang.


"Ayah!!!"Teriak indira dari teras.


prayudha merangkul bahu Gumilang dan mendekat ke arah para bidadari nya.


7 Bulan berlalu,

__ADS_1


Kehamilan indira dan rista sudah memasuki usia 38-39 minggu, keduanya sudah berada di kamar operasi sekarang untuk dilakukan tindakan operasi, rista ada riwayat bekas operasi sesar 4 tahun yang lalu , sedangkan indira tidak mampu untuk mengedan dikarenakan fisik indira yang lemah.


dua bulan yang lalu, indira dinyatakan mempunyai kelainan darah, dan harus melakukan persalinan dengan operasi, padahal dokter kandungan sudah memberikan saran untuk di gugur kan namun indira menolak, indira ingin memberikan buah cintanya pada Gumilang.


satu jam berlalu, rista sudah dipindahkan ke ruang pemulihan tapi indira masih berjuang kembali ke alam sadarnya.


indira mengalami perdarahan hebat sehingga harus diberikan transfusi darah sebanyak 5 kantong, indira mengalami penurunan kesadaran dan masuk ke ruang Intensive.


Gumilang terdiam seribu bahasa melihat indira seperti itu, jiwa dan raga nya seakan ikut tidak sadar.


Suara tangisan bayi mungil mengalihkan dunia nya, ada ikatan bathin antara keduanya.


"Nilam Kemuning"gumam Gumilang, tak terasa air mata nya tumpah ruah.


Gumilang bergetar saat menerima bayi mungil tersebut dari seorang perawat.

__ADS_1


"Mohon di adzan kan ya pak"ucap perawat itu tampak ramah.


Gumilang pun melapadzkan adzan di telinga kanan dan iqomat di telinga kiri.


Gumilang mencium bayi perempuannya dengan kasih sayang.


"Doakan manda ya nak...bilang sama Allah...agar Allah mengembalikan bunda pada kita...Yanda gak sanggup jika harus kehilangan manda...bagaimana Yanda merawat kamu tanpa manda di samping Yanda...."Lirih Gumilang menangis.


Melihat Gumilang yang seperti itu, perawat tadi segera mengambil bayi itu khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


perawat tadi mengembalikan bayi tersebut ke dalam inkubator.


Darmi menghampiri Gumilang dan memeluknya.


"Sabar ya Nak...sabar..Allah tahu kamu sanggup...Jangan seperti ini, kasian indira nak.."

__ADS_1


"Maafkan aku bu...aku tidak bisa menjaga istri ku, aku juga tidak tahu sejak kapan indira mempunyai penyakit itu, kenapa bisa aku tidak sadar ketika dia selalu bilang pusing dan badannya lemas saat bangun tidur...setiap aku bertindak posesif, indira selalu tertawa dan dia akan bilang kalau aku tertipu lagi..kenapa aku sangat bodoh bu...aku bodoh"Gumilang menangis sesenggukan di bahu darmi.


darmi mengusap punggung Gumilang dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.


__ADS_2