
Selia dibawa ke rumah sakit karena kondisi nya makin turun, spanduk foto selia pun diturunkan oleh bagian security atas perintah Andara.
dokter UGD mengerutkan dahi saat melakukan pemeriksaan tanda vital pada selia.
"Nadi nya lambat dan lemah sekali"Gumamnya pelan.
Selia dipasang infus dan monitor. tubuhnya seolah tidak bertenaga.
prayudha menatap Aruna yang tampak cemas dengan kondisi selia.
"ma..kenapa??"
"selia itu memang lemah dari dulu yah...kondisi tubuhnya tidak seperti yang lain"
"bukankah selia seorang dokter ya"
"iya yah"
"masa iya dia tidak bisa mengkaji dirinya sendiri, seharusnya ketika dia merasa ada yang aneh dengan tubuhnya dia bisa menegakkan diagnosa sendiri dong...jangan seolah dia sedang minta perhatian dari kamu...nanti bagaimana perasaan rista ma, rista kan menantu kita...kalau dia tersinggung dengan perlakuan mu pada selia bagaimana??"
"kok ayah seperti Andara sih"
__ADS_1
"lah kan aku ayahnya Andara ma...Mama lupa ya??"prayudha menepuk dahinya dengan pelan.
Aruna hanya terkekeh melihat perilaku suaminya itu.
Aruna menatap selia yang sedang tidak baik-baik saja, bagaimana mau tidak baik-baik saja, batinnya terguncang...kakak kesayangannya meninggal di tangannya walaupun tidak disengaja.
Selia masih ingat kejadian yang memilukannya. selia berteriak histeris dan mencabut semua peralatan yang menempel di tubuhnya.
Selia pun akhirnya diberikan obat penenang dan tidur pulas.
Aruna memeluk prayudha dan menangis.
Aruna menatap Andara "An..bisa kamu temani selia nak...dia sepertinya butuh kamu nak"
"Maksud mama apa!!!???aku ini laki-laki beristri ma...aku juga punya anak...aku harus menghargai perasaan rista juga ma...kalau mama sayang sama selia, mama aja yang menemani dia...aku sih gak mau"Andara mendelik ke arah Aruna.
Indira yang baru saja datang, menatap bingung pada keduanya.
"Assalamualaikum ma..kak"indira menyalami keduanya.
"kamu sama siapa,ra"tanya Andara celingukan
__ADS_1
"sendiri kak..mas gum lagi ke luar kota antar barang"
"Oh..berapa lama??"tanya Andara menatap indira
"sore juga pulang kak..kenapa???"indira duduk di tengah antara Aruna dan Andara.
"ra..bujuk kakakmu dong...buat menemani selia di rumah sakit..siapa tahu dengan adanya kakakmu bisa cepat pulih"Aruna memegang tangan indira.
"Hah..apa ma...kak Andara diminta buat menemani selia...kok gitu sih ma...mama gak memikirkan perasaannya kak rista ya...jangan kak Andara lah, ayah aja..ayah kan gak kemana-mana"indira menoleh pada mama nya.
"ayah..ngapain ayah yang harus menemani selia..."Aruna mendelik membuat indira dan andara saling menoleh.
"giliran kak Andara dikejar buat menemani selia, giliran ayah aja gak boleh, bagaimana sih mama ini"indira melihat ke wajah mama nya yang tampak cemberut.
Andara dan indira meninggalkan Aruna yang sedang berdiam diri.
Prayudha tersenyum saat mengetahui kedua anaknya menentang keinginan aruna yang tidak masuk akal.
"Ra...kamu tahu kondisi terakhir selia seperti apa??"Andara menoleh pada indira yang berada di sampingnya.
"kalau secara fisik sih tidak masalah kak, justru yang bermasalah kejiwaannya, aku konsul kan juga dengan bagian psikiater, sudah menjalani terapi hipnoterapi, dan perkembangannya cukup baik, selia sudah bisa tidur tanpa obat penenang lagi"
__ADS_1