
Selesai makan, Gumilang ambil wudhu dan pamit untuk sholat di mesjid.
Satu jam berlalu,
indira tertegun, saat ada nomor ponsel tidak dikenal yang menghubunginya.
sudah 3x ponsel indira berbunyi, namun indira tidak serta merta mengangkatnya.
"Assalamualaikum sayang...ini mas gum...minta tolong buka pintu depan dong❤❤❤"
indira pun keluar dari kamar dan membukakan pintu untuk suaminya.
"Assalamualaikum sayang"ucap Gumilang tersenyum.
"Waalaikum salam mas"jawab indira singkat
"ngantuk ya...ayo kita tidur"Gumilang merangkul bahu indira yang tampak tidak bersemangat.
Gumilang baru tahu dibalik perilaku indira yang selalu enerjik, ternyata ada sikap malas nya juga.
Jam 5, Gumilang sudah bangun dan pergi ke mesjid tanpa membangunkan indira.
indira tampak masih lelah.
Jam 6...indira bangun dan mengulum senyum saat mengetahui suaminya sudah berada lebih dulu di dapur.
__ADS_1
"Masak apa mas???"tanya indira memeluk Gumilang dari belakang membuat Gumilang terkejut.
"masak nasi goreng sayang"jawab Gumilang menoleh sebentar.
"Mas...hari ini kita jalan yuk ke pasar yang ada di dekat rumah ibu...aku mau beli perkakas buat berkebun"indira melepaskan pelukan dan duduk di kursi meja makan.
"berkebun???memangnya ada waktu sayang"tanya Gumilang menatap istrinya itu.
"enggak ada sih...kesibukan aku ya di rumah sakit...dan di rumah aja sih mas...masa iya ya gak terwujud"indira menunduk
Jam 8 ,keduanya pergi ke pasar dengan jalan kaki, sepanjang jalan Gumilang menjaga indira dengan hati-hati.
Gumilang takut, bidadari nya kelelahan.
"belum nyampe mas...santai aja"indira menepuk punggung tangan Gumilang.
Tiba di pasar yang dituju, indira dengan cekatan memilih perkakas buat berkebun, namun ketika sedang asyik memilih, sebuah tangan merogoh dompetnya.
indira hanya diam saja tanpa memperdulikan kelakuan si punya tangan.
Gumilang mengerutkan dahinya, bingung dengan indira yang diam saja tanpa bereaksi.
indira tersenyum saat dompetnya berpindah tangan, indira melirik dengan ujung matanya.
indira sengaja tidak bergerak, khawatir semua orang main hakim sendiri.
__ADS_1
setelah selesai membayar, indira mengikuti orang tersebut dengan perlahan.
Gumilang siaga dari kejauhan memantau pergerakan indira.
di jalan buntu, orang itu membuka dompet indira dan mengambil beberapa lembar saja.
"Kok hanya diambil sedikit??"indira setengah berteriak.
orang itu kalang kabut bingung mau berlari ek arah mana lagi.
"Maaf kak...saya butuh uang untuk ibu saya berobat"ucap orang itu tidak berani menatap indira.
"Dimana rumah mu...Ayo"ajak indira pada orang tersebut yang menatap ragu pada ucapan indira.
"Ayolah"indira berjalan lebih dulu keluar dari jalan buntu tersebut.
Gumilang merasa bangga pada istrinya itu, indira selalu baik pada semua orang termasuk pada orang yang sudah mencuri duitnya itu.
Tiba di sebuah rumah, orang itu masuk dan menemukan ibunya sudah tidak sadarkan diri.
"Ibu...ibu bangun...ibu aku udah bawa duitnya kita berobat ya bu...ayo bu..ibu bisa kok sembuh...ibuuuuu"ucap orang itu menggoyangkan tubuh ibunya.
Indira mendekat, di raba nya pembuluh darah di bagian leher, indira mengerutkan dahinya, kemudian meraba pembuluh darah di pergelangan tangan kanan ibu itu.
"Kamu kuat kalau harus gendong ibu kamu ke rumah sakit Andara"tanya indira menatap orang itu dengan lembut.
__ADS_1