Pesona Indira

Pesona Indira
82


__ADS_3

Satu jam berlalu, tindakan kuretase sudah selesai meskipun harus ada drama karena Gumilang tidak mau indira ditangani oleh dokter laki-laki.


Indira sudah dipindahkan ke ruang perawatan biasa, indira juga sudah sadar dari pengaruh obat bius.


Indira menatap nilam yang sedang makan bersama Gumilang.


Tok..tok..tok...


"Assalamualaikum"ucap salam dari seseorang.


Gumilang berdiri dan membukakan pintu, hatinya mencelos saat tahu yang datang adalah Akhtar.


"waalaikumsalam silahkan masuk mas"Gumilang mempersilahkan akhtar untuk ke dalam.


Akhtar duduk di sopa dan melihat ke arah indira sekilas yang sudah memakai cadarnya.


"Maafkan saya mas lam, saya tidak tahu kalau yang akan saya tolong itu istrinya mas lam...maaf..bukannya saya mau kurang ajar mas..."Akhtar mengungkapkan maksud hatinya datang ke sana.

__ADS_1


"Saya juga minta maaf kalau tadi berkata kasar dan mendorong mas Akhtar...Maafkan saya mas"


"Yanda...om ini kan yang kopernya tertukar dengan manda...Nilam ingat kok...waktu itu aku dan manda nungguin om ini yang lagi sibuk nelpon untuk tukar koper, tapi karena lama akhirnya manda tukar aja tuh koper"Nilam bercerita pada Gumilang yang sudah tahu dari awal.


"Oh ya hai cantik...namanya siapa"?tanya Akhtar tersenyum ramah pada nilam.


"Nilam om"manda tersenyum ceria.


"Wah Nilam mirip ayahnya ya, manis...oh ya kapan-kapan mampir ya ke bandung...om juga punya anak namanya Zahwani, laki-laki usianya 10 tahun"Akhtar menatap nilam dengan bahagia.


"Assalamualaikum ayah"suara dari seberang


"Waalaikumsalam Zahwan...tumben telpon ayah...Zahwan ada yang dirasa nak"?suara Akhtar bergetar seakan sedang menahan tangis.


"kapan ayah pulang...Zahwan kangen ayah"


"Sabar ya nak...sabar..ayah kan janji sama Zahwani mau bawa dokter indira ketemu dengan Zahwan"

__ADS_1


pembicaraan ayah dan anak pun selesai, Gumilang memicingkan kedua matanya, penasaran apa yang sedang mereka bicara kan apalagi, terselip nama Indira tadi.


"Baiklah mas lam...saya pamit...saya ada keperluan lain"


Disaat Akhtar akan beranjak, seorang perawat masuk membawa alat untuk melepas infus.


"Ibu dokter indira"ucap perawat tersebut membuat Akhtar menoleh dengan cepat.


kedua matanya berkaca-kaca menahan haru, Akhtar tetap berdiri di tempat sampai perawat itu pergi.


"Apakah istrinya mas lam ini dokter indira,mas???"tanya Akhtar ingin tahu menatap Gumilang yang hanya menghela napas.


"iya mas"


"Alhamdulillah ya Allah sungguh indah karunia Mu, anak saya di diagnosis mempunyai penyakit leukemia mas, dia dapat dari ibunya, ibunya sudah meninggal saat melahirkan Zahwan, informasi dari dokter di sana, saya harus berobat dengan dokter indira karena dokter tersebut bisa menangani penyakit Zahwani...Tolong saya mas....sembuhkan Zahwan" Akhtar hendak berlutut di depan Gumilang, namun Gumilang mencegahnya.


"Sebagai seorang dokter mungkin istri saya dapat membantu, tapi apakah mas akhtar tidak melihat seperti apa istri saya sekarang, kami baru saja kehilangan anak kami yang masih ada dalam kandungan, istri saya butuh waktu paling lama dua minggu untuk pulih kembali, jika nanti istri saya sudah membaik jasmani dan rohani nya, kami akan menghubungi mas Akhtar, atau mas Akhtar boleh bisa langsung ke rumah sakit Andara, disana istri saya berpraktek"Gumilang mencoba memahami kedua insan yang sedang menahan rasa sakit.

__ADS_1


__ADS_2