Pesona Indira

Pesona Indira
67


__ADS_3

Prayudha dan aruna saling tatap kemudian tersenyum, di masa tua mereka, mereka bisa menyaksikan keluarganya yang selalu bahagia


Pagi ini indira pergi ke rumah sakit untuk periksa kandungan, Gumilang tak hentinya selalu menggenggam tangan indira.


Indira hanya tersenyum tipis, tidak menyangka kalau Gumilang se posesif ini.


"Dokter Jenira sudah ada ya bu"tanya inidra pada petugas pendaftaran.


"Sudah ada dokter..silahkan langsung masuk"jawab petugas pendaftaran ramah.


"Assalamualaikum dokter jeni.."indira masuk setelah mengetuk pintu.


"Waalaikumsalam ra..hei...kamu akhirnya jadi pasien aku juga ya"jenira tertawa sambil memeluk indira.


"iya kak jeni...apa kabar kak"indira menatap dokter jenira dengan lembut.


"kabar buruk, dokter Braga menggugat cerai aku cin...katanya gak bisa ngasih keturunan" jenira tersenyum namun kedua matanya berkaca-kaca.


"Sabar ya kak...mungkin Allah sudah menyiapkan seseorang yang terbaik untuk kak jeni"indira mengusap punggung jeni.

__ADS_1


"oh ya...ra..kamu bukannya lulusan SMA sekar bakti ya..angkatan berapa???"tanya jeni ingin tahu


"iya kak..aku angkatan ke 25...emang kenapa kak??"


"waktu SMA..yang pakai cadar hanya kamu aja apa ada yang lain??"tanya nya lagi


"waktu SMA banyak kok kak hampir 25% pake cadar semua...kenapa ya kak"indira mengerutkan dahinya


"Braga nikah sama aku tapi hati dan pikirannya untuk gadis bercadar...kata dia sih adik kelasnya dia...satu tahun dibawahnya dia..Braga kelas 3..dan wanita itu kelas 2...kamu kenal gak ya ra"


"emg kakak kelas aku ada yang namanya Braga??"tanya indira dengan polos.


"waktu SMA..di name tag nya B.Jayapraga..panggilannya pun praga bukan Braga"


Indira tersedak air liurnya sendiri, indira terbatuk saat mendengar kalau Braga itu adalah jayapraga.


indira berdehem menetralkan suasana hatinya.


Indira mengalihkan pandangannya ke Gumilang yang seperti tahu suasana hatinya.

__ADS_1


Gumilang mendekat dan membantu indira untuk duduk di tempat tidur.


"Silahkan dokter di periksa...saya dan istri saya ada keperluan lain"ucap Gumilang berbicara pada jeni tanpa melihatnya.


"oh ya maaf ya ra...keenakan nanya-nanya...malah lupa belum periksa"


Indira berbaring, dan Gumilang membantu membuka pakaian indira yang akan diperiksa.


"Kalau dari hasil USG..bayi ada di dalam kantung rahim ..Alhamdulillah...janin tunggal...kalau untuk jenis kelamin tunggu diatas usia kehamilan 24 minggu..usia kehamilan sekarang menginjak 7-8 minggu...selamat ya ra.."jeni menjelaskan dengan wajah yang tampak bersedih.


"Alhamdulillah..makasih ya kak"indira mengelap bagian tubuh yang di beri jeli tadi dengan tisu.


Gumilang menatap indira dengan sendu, Gumilang berjanji akan menjaga istrinya yang sedang hamil itu. Walaupun Gumilang tahu, indira bukanlah orang yang lemah.


Setelah keluar dari dokter kandungan, indira ke bagian farmasi untuk mengambil obat, namun saat indira berbalik, indira hampir menabrak Braga..ya Braga jaya praga...Braga menatap indira tanpa berkedip, indira mundur dan menunduk.


"Assalamualaikum indira putri prayudha"ucap Braga dengan lembut dan sopan.


"Waalaikumussalam"cuma indira pelan, bahkan tidak terdengar sama sekali.

__ADS_1


"Apa kabar ra...kamu kemana saja...sudah lama aku menantikan saat seperti ini, bisa bertemu kembali setelah perpisahan waktu itu...apakah kamu sudah menikah ra???..Jika belum mau kah kamu menunggu aku...aku akan menyelesaikan pernikahan aku yang telah usai ini"


__ADS_2