
Kabar tewasnya Steffanie langsung sampai ke telinga Naiki dan Darel malam itu. Mereka sempat terkejut karena tidak menyangka jika Steffanie sanggup berjalan hingga ke jalur lintas truk tersebut. Padahal jelas-jelas kondisi fisiknya sangat tidak memungkinkan saat itu. Terlebih lagi saat itu sedang turun hujan yang sangat deras.
Malam itu juga Naiki memerintahkan para pengawal untuk mengurus pemakaman Steffanie. Walaupun selama hidupnya Steffanie berlaku jahat padanya, Naiki tetap akan menguburkan Steffanie dengan layak.
Dan di sinilah Naiki dan Darel saat ini. Tegak berdiri di depan sebuah makam yang baru saja ditinggalkan oleh orang-orang yang mengantarkannya. Naiki hanya diam sambil memandang nisan Steffanie dari balik kacamata hitamnya.
"Andai saja kau sedikit memiliki hati pada kami. Atau andai saja kau memiliki sedikit rasa penyesalan di hatimu sebelum pergi, mungkin aku akan berbaik hati untuk melepaskanmu, Steffanie. Selamat jalan." Batin Naiki, lalu berbalik badan meninggalkan makam Steffanie.
Darel menggenggam tangan istrinya dengan erat tanpa mengucapkan satu patah kata pun. Tidak ada perasaan sedih yang ia rasakan ada pada diri istrinya. Namun, juga tidak terdapat perasaan bahagia di sana. Naiki seolah telah mati rasa.
"Sayang, antar aku ke markas, aku ingin bertemu dengannya." Ucap Naiki tiba-tiba. Darel pun mengangguk.
***********
Naiki dan Darel telah tiba di markas kembali. Mereka masih mengenakan pakaian serba hitam, karena dari pemakaman mereka langsung menuju ke markas. Sebelum turun dari mobil, tidak lupa Naiki membawa sebuah map berisikan salinan hasil test DNA-nya, Rhean, dan Brata.
Siang itu tidak terlihat Mike di sana. Ternyata saat itu bukanlah waktunya Mike bertugas, namun ada pengawal lain yang menggantikannya. Naiki dan Darel disambut oleh pengawal pengganti tersebut.
"Selamat siang, Tuan dan Nyonya muda." Sapa Pengawal tersebut.
Naiki dan Darel hanya mengangguk. Wanita dingin itu lalu menanyakan kabar Brata. Apakah ada hal-hal aneh yang dilakukannya, atau masalah kesehatannya. Naiki tidak memberi perintah pada mereka untuk menyiksa Brata. Bukan karena Naiki masih memiliki rasa sayang di hatinya sebagai anak, melainkan ia belum memikirkan cara yang tepat untuk menyiksa Brata. Jadi ia memutuskan untuk bertemu dengan Brata dahulu, baru kemudian mengambil langkah selanjutnya.
Mereka lalu berjalan menuju ruang tempat Brata disekap. Sebelum masuk, Naiki berdiri diam di depan pintu dan menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya. Setelah tenang, ia pun masuk ke dalam. Matanya langsung menangkap sosok pria paruh baya yang duduk meringkuk di sudut ruangan dengan tangan yang terikat.
Naiki diam di tempat setelah melangkah masuk sebanyak tiga langkah. Ia menatap tajam ke arah Brata. Sekali lagi ia memastikan, apakah masih ada rasa sayang yang tersisa untuk ayah kandungnya tersebut, namun hampa ia rasakan.
Wanita itu melangkah dengan pelan menuju sebuah kursi dan duduk di sana. Matanya yang dingin terus menatap wajah pucat Brata. Pria yang biasanya terlihat rapi dan angkuh itu sekarang terlihat lusuh dan menyedihkan. Lima menit Naiki menunggu, Brata tak kunjung terbangun. Akhirnya Naiki memutuskan untuk menendang meja di depannya hingga terdorong keras dan terbalik tepat di samping tembok ruangan kecil itu. Brata tersentak karena mendengar suara keras yang tiba-tiba di ruang penyekapannya.
"Apa kau butuh kopi, Papa?" Tanya Naiki dengan wajah tanpa ekspresi dan masih di posisi duduknya.
"Lepaskan aku sekarang, Anak kep*r*t!" Caci Brata dengan tatapan penuh kebencian.
"Ya, sebutan darimu untukku mungkin benar. Tapi bukankah aku terlahir dari benih seorang b4ngsat sepertimu?" Hardik Naiki.
__ADS_1
"Hahahaha... Apa kau mengira aku adalah ayah kandungmu? Kau terlalu naif, Anak Sialan!" Maki Brata lagi, membuat Naiki tersenyum sinis mendengarnya.
"Kau benar-benar tolol, Brata! Kau bahkan dapat ditipu oleh adikmu hanya karena masalah sepele seperti itu. Kau bahkan tidak hafal nama anak-anakmu, kan?"
Brata sempat terdiam mendengar kalimat Naiki. Ia menatap Naiki dengan heran.
"Apa maksudmu?" Tanya Brata kemudian.
Naiki lalu melemparkan map yang dibawanya ke arah Brata. Brata pun melirik ke arah map yang telah terbuka namun tidak dapat melihat dengan jelas isi dari kertas yang terdapat di dalam map tersebut.
"Ah iya, tanganmu terikat sekarang." Ucap Naiki lalu memberi kode ke arah CCTV.
Beberapa saat kemudian seorang pengawal masuk ke dalam ruangan dan berdiri tidak jauh dari Naiki. Naiki pun memberi perintah agar pengawal tersebut membuka ikatan di tangan Brata. Setelah ikatan terbuka, pengawal tersebut pun keluar.
"Kau sudah bisa membacanya sekarang." Ucap Naiki lagi.
Dengan malas dan tidak ada rasa penasaran sedikit pun, Brata akhirnya meraih dua lembar kertas yang berserakan di depannya. Ia lalu membaca dengan teliti kertas tersebut.
"Sampah!" Ucap Brata ketus. "Kau kira aku akan percaya dengan isi dari kertas tidak berguna itu? Kau kira sikapku akan berubah hanya karena kau dan kakakmu adalah anak kandungku?" Ucap Brata angkuh sambil membuang kertas tersebut ke sembarang arah.
"Bahkan jika kau tahu kenyataan ini sejak 20 tahun yang lalu, aku yakin penderitaan kami tetaplah sama seperti dulu." Batin Naiki.
Naiki mungkin berkata tidak akan pernah memaafkan Brata, namun hati kecilnya mengatakan, ia masih berharap bahwa sikap Brata akan berubah dan menyesali semua perbuatannya, walaupun pada akhirnya Naiki tetap akan membalas semua perbuatan Brata padanya, Rhean, dan juga Alya.
"Aku sangat membencimu Brata! Tapi mungkin aku tidak akan sanggup untuk mengahabisi nyawamu. Biar waktu yang berkata." Batin Naiki, lalu pergi meninggalkan Brata.
Darel yang melihat istrinya sudah keluar dengan mata memerah, segera memeluk istrinya dengan erat. Ia lalu meminta Naiki beristirahat sebentar di ruangan lain yang lebih nyaman. Darel lalu pergi meninggalkan Naiki dan masuk ke ruang penyekapan Brata.
Darel masuk ke ruangan itu dengan wajah dinginnya. Kehadirannya langsung disadari oleh Brata. Pria paruh baya tersebut langsung tersenyum sinis ke arahnya.
"Mau apa kau?" Tanya Brata ketus. Darel hanya tersenyum smirk dan terus berjalan mendekati Brata.
BUUUUGGHHH...
__ADS_1
Satu pukulan mendarat di wajah Brata dan menyebabkan bibirnya berdarah. Tubuhnya tersungkur ke lantai karena tidak siap menerima serangan dari Darel. Brata menyeringai dan berusaha untuk bangkit. Namun, Darel kembali menyerangnya. Satu tendangan mendarat di perut Brata bagian samping.
"BRENGSEK!" Teriak Brata.
"Brengsek katamu? Aku bahkan ingin menembak matimu sekarang juga." Ucap Darel.
"Aku tahu, kau tidak akan punya nyali untuk itu. Kau bahkan sama seperti ayahmu. Adelard Gerandra Si Pria Lemah. Hahaha..." Ucap Brata.
Emosi Darel terpancing. Satu tendangan kembali mendarat di tubuh Brata yang membuatnya kembali tersungkur dan sulit untuk bangun kembali.
"Jangan pernah kau menyebut nama orang tuaku dengan mulut kotormu itu, Brata!" Hardik Darel.
"Kenapa? Dia memang lemah. Dia bahkan tewas seketika dalam kecelakaan. Apa kau kira itu murni adalah kecelakaan?" Ucap Brata.
"Apa maksudmu?"
**********
💙💙💙💙💙
Yang baca, tapi belum ngelike,
like dong, please...
ini tangan author ampe kesemutan lho, ngetiknya.
Buat yang udah baca, makasih yaa...
Buat yang udah vote, makasih banyak yaa...
Buat yang udah favoritin novel ini, makasih juga...
Buat yang udah like dan kasih bunga, kopi, dsb, thanks a lot guys...
__ADS_1
lope lope buat kalian semua 💙💙💙💙💙