
Darel juga merasa sedikit lelah. Jadi ia memutuskan untuk merebahkan dirinya disebuah sofa bundar di dekat pintu belakang, satu-satunya akses menuju private kolam renang. Hari ini rencananya ia akan mengajak Naiki makan siang di restoran sekitar yang terdapat di Oia. Lalu sorenya kembali ke hotel untuk menikmati pemandangan sunset yang indah.
Oia adalah desa yang berada di sebuah tebing yang menghadap ke laut. Tidak aneh jika bangunan di sana menyerupai goa-goa dan bertingkat-tingkat. Pemandangan sunset di desa itu sangat indah. Sehingga Darel berencana untuk menikmati indahnya sunset bersama Naiki dari penginapan mereka.
Sebenarnya ada spot yang lebih baik untuk melihat sunset di daerah itu. Namun, sepertinya Darel lebih menginginkan privacy daripada menikmati alam di tempat umum.
Naiki terbangun dari tidurnya. Matanya menelusuri kamar inap yang unik itu, mencari sosok suaminya. Wanita itu lalu berjalan berkeliling kamar. Dilihatnya Darel sudah tertidur disebuah sofa bundar di sudut ruangan. Melihat suaminya masih sangat nyenyak, Naiki pun berinisiatif untuk mandi. Ia lalu berjalan menuju kamar mandi di kamar itu. Mata Naiki seketika membulat dengan apa yang dilihatnya. Sebuah kamar mandi dengan bathtub unik yang tidak memiliki pintu. Alisnya bertaut.
"Mana pintunya?" Cetus Naiki pada dirinya sendiri. Naiki geleng-geleng kepala. "Dia menyewa kamar khusus pasangan ternyata. Ck!" Gumam Naiki dalam hati.
Naiki lalu membuka seluruh penutup tubuhnya dan berendam di dalam bathtub. Hari mulai menjelang siang dan perut Naiki pun sudah terasa lapar. Namun, kenyamanan kamar mandi itu membuat Naiki ingin berlama-lama berendam di sana. Hingga beberapa menit berlalu, Darel pun terbangun.
"Jam berapa sekarang?" Gumam Darel sambil menggaruk kepalanya. Ia lalu melirik ke jam dinding di kamar itu. Ia lalu berdiri. "Oh, sudah mau jam makan siang ternyata. Di mana Nai, ya?" Ocehnya sambil berjalan menuju ranjang, mencari istrinya.
Tidak menemukan sosok Naiki di ranjang, Darel lalu mencari di seluruh penjuru kamar. Akhirnya ia menemukan Naiki sedang berendam di bathtub kamar mandi.
"Kau bisa tertidur bila berendam sambil memejamkan matamu seperti itu, Sayang." Ucap Darel yang membuat Naiki tersentak dan membuka matanya.
"Apa kau mengintipku sejak tadi, pria mesum?" Hardik Naiki dengan sudut mata yang menyipit.
"Aku adalah tipe pria yang sabar, Sayang. Jadi, aku tidak perlu mengintip seperti yang kau katakan, karena aku bisa melihatnya sepuasnya nanti." Sahut Darel dengan wajah nakalnya.
Naiki memutar bola matanya jengkel. Ia memang jarang sekali menang bila sudah berbicara dengan Tuan Muda Gerandra itu. Naiki seakan habis kata-kata bila berhadapan dengan Darel.
"Selesaikanlah mandimu, Sayang. Karena kita akan pergi makan siang sebentar lagi." Ujar Darel.
Naiki lalu berdiri dari bathtub dengan tubuh polos dan gelembung sabun yang masih menempel, membuat Darel menelan salivanya kasar.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Darel dengan wajah merona dan salah tingkah.
__ADS_1
"Aku mau membilas tubuhku, Darel. Bukankah kau sudah lapar dan mau mengajakku makan siang?" Tukas Naiki sambil berjalan menuju shower.
Darel pun bergegas kembali ke sofa bundar tempat ia tidur tadi. Tampak ia sedang menahan sesuatu agar tidak bangkit disaat yang tidak tepat seperti saat ini. "Kalau tingkahmu seperti itu, aku lebih ingin memakanmu daripada makan siang, Gadis tengil!" Sungut Darel dalam hati.
Setelah Naiki selesai mandi, Darel pun juga mandi dan bersiap-siap keluar dari hotel untuk berkeliling serta makan siang. Menjelang sore hari, Darel dan Naiki baru kembali ke hotel. Naiki tampak sangat bahagia karena akhirnya dapat menikmati perjalanan di Oia, Santorini. Mereka menelusuri Desa Oia dengan berjalan kaki dan menaiki keledai yang banyak disewakan di desa itu.
Mereka juga mengambil beberapa foto untuk kenang-kenangan. Hampir seluruh tempat di Desa Oia sangat cocok untuk latar foto. Dengan bangunan-bangunan bertembok putih, Oia terkesan sangat romantis di setiap jepretan foto turis yang datang.
Saat ini Darel dan Naiki berada di sekitar kolam renang kamar inap mereka. Naiki duduk di sofa bed yang terdapat di tepian kolam renang. Mereka menunggu untuk menikmati sunset yang indah sore itu.
"Apa kau menyukai Oia?" Tanya Darel yang berdiri di depan pagar pembatas, memandangi hamparan laut di depannya.
"Ya, Oia sangat indah. Akhirnya aku bisa ke sini bersamamu." Sahut Naiki lalu berdiri dan berjalan mendekati Darel.
Langit sudah tampak kemerahan. Naiki lalu berdiri di samping Darel, ikut memandang langit dan hamparan laut di depan mereka. Semburat kemerahan di langit, dan lampu-lampu yang sedikit demi sedikit mulai menyala, menambah keindahan Desa Oia senja itu.
"Apa kau bahagia datang ke sini bersamaku?" Tanya Darel lagi.
Darel tersenyum mendengar perkataan Naiki. Ia lalu berpindah ke belakang tubuh Naiki dan memeluk wanita itu dari belakang. Ia kemudian menyandarkan dagunya di bahu Naiki.
"Apa kau siap menerima jasa penghangat ranjangmu ini, Sayang?" Bisik Darel.
Hembusan nafas Darel di telinga Naiki membuat wanita itu merona. Jantungnya mulai berdegub tidak bersahabat. Naiki hanya bisa diam dengan wajah yang terus memerah. Entah itu karena perlakuan Darel, atau karena cahaya senja yang menerpa wajahnya.
"Aku mau mandi." Ucap Naiki sembari melepaskan diri dari tangan Darel yang melingkar di pinggangnya. Ia lalu berlari kembali menuju kamar. Darel hanya tersenyum melihatnya.
Beberapa menit berlalu, Naiki sudah selesai membersihkan diri dan keluar dengan mengenakan jubah mandinya. Melihat istrinya sudah selesai, Darel pun bergegas masuk ke kamar mandi. Tentu saja hanya ada satu kamar mandi di kamar hotel itu. Jadi, mereka harus bergantian menggunakannya.
Naiki mencari-cari piyamanya di dalam koper yang disiapkan oleh Berry. Namun, yang ia temukan bukanlah piyama, melainkan baju tidur berwarna merah yang tipis dan tidak cukup bahan untuk menutupi tubuh indahnya.
"Hiisssh...Asisten sama atasan ternyata benar-benar sehati." Cebik Naiki sambil menatap baju tidur yang lebih pantas disebut lingerie itu.
__ADS_1
Dengan terpaksa, Naiki pun mengenakannya. Ia menatap pantulan bayangannya di cermin. Warna baju yang sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih, membuat sosok Naiki sangat menggairahkan.
"Kalau begini, bukankah aku seperti mangsa yang menyerahkan diri?" Sungutnya di depan cermin.
Saat sedang asyik menggerutu di depan cermin, Darel keluar dari kamar mandi menggunakan jubah mandinya. Ia memerhatikan tingkah Naiki yang terbilang lucu di matanya.
"Kau kenapa, Sayang?" Tanya Darel sambil menahan tawa.
"Kau lihat, asistenmu tidak menyiapkan piyama untukku. Apa aku harus tidur menggunakan ini? Bukankah ini sama seperti tidak menggunakan apa pun?" Rutuk Naiki.
Darel berjalan mendekati Naiki dan berhenti tepat di depan Naiki. Tangannya lalu melingkar di pinggang ramping Naiki dan menarik tubuh wanita itu hingga menempel ke tubuhnya.
"Jadi menurutmu, lebih baik tidur mengenakan ini, atau tidak mengenakan apa pun?" Goda Darel.
Naiki tersipu. Matanya menghindar dari tatapan Darel dan berusaha menatap ke arah lain.
"Tenang saja, kau tidak akan kedinginan, Sayang. Karena ada aku, penghangat ranjangmu." Ucap Darel lalu meraih tengkuk Naiki dan menariknya.
Ia lalu mencium kening istrinya itu dengan lembut, mencium hidung Naiki, pipi kanan, pipi kiri, lalu mempertemukan bibir mereka.
Darel mencium bibir ranum Naiki dengan lembut. Naiki pun membalasnya. Pria itu lalu melepas tautan bibirnya dan mengangkat tubuh Naiki.
"Apa kau siap, Sayang?" Ucap Darel dengan wajah menggoda.
"Siap apa?" Tanpa sadar Naiki malah bertanya dengan pertanyaan yang tidak semestinya ditanyakan. Karena ia sudah tahu jawabannya.
Darel kemudian menurunkan Naiki di atas ranjang dengan lembut. Bibirnya terus tersenyum walaupun sebenarnya jantungnya juga berdegub kencang saat ini. Ia lalu naik ke atas ranjang dan mengungkung tubuh Naiki di bawahnya.
"Bersiaplah menikmati jasa pria penghangat ranjangmu, Sayang." Bisik Darel di telinga Naiki.
**********
__ADS_1
💙💙💙💙💙