
Setelah menempuh perjalanan tiga puluh menit, Darel dan Naiki akhirnya tiba di kediaman pribadi Darel. Sebuah rumah yang cukup besar apabila hanya dihuni oleh dua orang, namun tidak sebesar kediaman besar Gerandra.
Rumah ini bergaya minimalis modern dengan warna dominan gelap seperti abu-abu dan hitam di bagian luar, namun sedikit cerah di bagian dalam. Rumah ini hanya memiliki satu lantai namun terbilang sangat luas. Di halaman belakang rumah terdapat sebuah kolam renang dan gazebo yang menghadap langsung ke arah kolam. Benar-benar rumah yang indah dan elegan.
Darel tidak meminta pelayan untuk tinggal di rumah itu. Beberapa pelayan akan datang pada pagi hari dan sore hari untuk menyelesaikan pekerjaan mereka seperti membersihkan rumah, laundry, dan menyiapkan makan malam. Namun, demi keamanan Darel menempatkan beberapa orang pengawal yang siaga 24 jam dengan sistem shift.
Pintu gerbang dibuka oleh seorang pengawal. Darel langsung melajukan sepeda motornya masuk ke garasi. Mereka berdua lalu berjalan menuju pintu masuk rumah tersebut.
"Apa kau suka?" Tanya Darel yang terus berjalan beriringan dengan Naiki.
"Aku bisa tinggal di mana saja. Tidak usah khawatir." Sahut Naiki datar. Darel mencebik mendengarnya.
Mereka lalu memasuki rumah. Darel meraih tangan Naiki dan menggenggamnya. Ia lalu membawa Naiki menuju kamar utama. Kamar yang akan mereka tempati berdua. Satu-satunya kamar yang paling luas di rumah itu.
"Ini kamar kita." Ucap Darel sembari membuka pintu kamar.
Mereka pun masuk. Naiki terbelalak melihat desain kamar itu. Desain yang sangat mirip dengan desain kamar Darel di kediaman besar Gerandra.
"Hah?" Ucap Naiki sambil menatap heran ke arah Darel.
"Kenapa?" Tanya Darel terkekeh.
"Haruskah desainnya dibuat sama persis?" Naiki benar-benar heran dengan pola pikir suaminya ini.
"Hahaha...Sebenarnya ini kamar yang asli, Nai. Sedangkan yang di rumah kakek itu yang tiruan." Jelas Darel.
Naiki memutar bola matanya malas. Ia tidak ingin mendengar penjelasan Darel lebih panjang lagi mengenai kamar itu asli atau tiruan. Naiki lalu bergegas menaruh barang-barangnya. Ia ingin membersihkan diri dan berisitirahat lebih cepat hari ini.
"Mandilah, kau pasti lelah." Ucap Darel kemudian. Naiki hanya mengangguk kemudian berlalu ke kamar mandi.
Darel pun melepas jaketnya. Ia lalu duduk di sofa sambil mengusap komputer tablet untuk mengecek pekerjaan karyawannya hari ini. Darel juga mengecek emailnya. Mencari apakah ada email yang urgent dan harus ditangani dirinya secara langsung. Ternyata nihil.
Tiga puluh menit berlalu. Naiki sudah selesai mandi dan mengenakan pakaian santainya. Selembar kaos dan celana pendek. Ia lalu duduk di sebelah Darel.
"Kau tidak mandi, Darel?" Tanya Naiki.
Mendengar Naiki bertanya seperti itu, mata Darel langsung berbinar-binar. Entah mengapa perasaannya langsung bahagia saat mendapatkan pertanyaan seperti itu dari seorang wanita dingin seperti Naiki.
"Apakah tubuhku tidak wangi, Nai?" Tanya Darel sambil mengendus-endus badannya.
__ADS_1
"Kalau tidak mau mandi juga tidak masalah. Kambing saja tetap laku walau pun tidak mandi." Jawab Naiki enteng sambil memainkan handphonenya.
Darel gemas mendengar jawaban dari Naiki. Ia lalu merapatkan tubuhnya ke Naiki, merangkul leher Naiki dan menariknya. Dan...
Cletak...
Satu jitakan mendarat di kepala Naiki.
"Aaawww..." Pekik Naiki. Ia lalu mengusap kepalanya yang sakit.
"Kau bilang apa tadi?" Hardik Darel sambil terus menjepit leher Naiki dengan lengannya. "Kau menyamakan suamimu yang tampan ini dengan kambing? Hah?"
Naiki terkekeh mendengar ucapan Darel. Melihat Naiki tertawa, Darel mempererat jeratannya.
"Lepasiiiinnn es batu!" Ronta Naiki. "Mandi sana!" Teriaknya lagi.
Darel akhirnya melepaskan lengannya dari leher Naiki kemudian mengacak-acak rambut Naiki gemas.
"Awas kau nanti!" Ancam Darel sembari beranjak pergi ke kamar mandi.
Naiki mencebikkan bibirnya sambil merapikan kembali rambutnya yang kusut. Ia lalu kembali mengusap handphonenya. Mencari nomor Ivan dan menelepon asistennya itu.
"Apa kau sudah memback-up semua data yang aku kirim, Panjul?"
"Sudah Nona. Semua sudah diamankan dengan baik." Jawab Ivan kemudian.
"Terima kasih. Malam ini aku akan mengirim rincian persyaratan kerjasama untuk Brata Corp. Persiapkan dengan teliti kemudian ajukan kepada mereka dalam dua hari ini." Perintah Naiki.
"Baik Nona."
"Satu lagi, aku lihat Sisi masih menggunakan angkutan umum. Kau ngapain saja, Panjuuuulll?" Ucap Naiki sedikit keras.
"Maaf Nona. Itu permintaan Sisi sendiri karena dia belum bisa mengendarai mobil." Jawab Ivan.
"Ok baiklah. Tapi setidaknya kau bisa memberikannya motor matic terlebih dahulu, kan?"
Ivan tertegun mendengar kalimat Nona mudanya. Sungguh bukan bahasa yang biasa ia dapatkan dari seorang Nona Muda Caraka yang berhati dingin.
"Baik Nona. Akan saya atur." Sahut Ivan.
__ADS_1
Naiki pun memutuskan sambungan teleponnya dan mengetikkan pesan untuk Sisi. Ia hanya berpesan agar Sisi jangan menolak apabila Ivan memberikannya sesuatu. Karena itu adalah perintah. Naiki memang sedikit memaksa sekarang, karena yang ia lihat, Sisi adalah gadis yang sangat sungkan, terlebih dengannya.
Dua puluh menit berlalu. Darel keluar dari kamar mandi sambil menggosok-gosok rambutnya yang basah dengan handuk. Mendengar suara handle pintu, Naiki pun menoleh. Matanya memicing, menatap ke arah Darel yang sibuk dengan rambut basahnya.
"Kondisikan air liurmu, Nona!" Goda Darel dengan senyuman nakalnya.
Naiki langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan dan kembali ke posisi semula, membuang muka dari Darel.
"Roti sobek seperti di film-film? Aku mungkin salah lihat. Pasti cuma halusinasi. Tidak mungkin es batu memiliki badan bagus seperti itu." Batin Naiki sambil geleng-geleng kepala dan memejamkan matanya. Wajahnya merah padam karena malu.
Tanpa ia sadari, Darel sudah berada di belakangnya, menumpukan kedua sikunya di pinggiran sofa dan mendekatkan wajahnya ke telinga Naiki.
"Apa penasaran dengan rasanya?" Bisik Darel tepat di telinga kanan Naiki. Naiki tersentak.
"Kenapa kau bisa membaca pikiranku?" Ucap Naiki reflek dan langsung menutup mulutnya. "Sial." Gumamnya kemudian.
"Hahaha...kau ketahuan, Nyonya Gerandra." Ledek Darel. "Ternyata kau bisa berpikir seperti itu juga, ya!"
Naiki menggeser posisi duduknya menjauhi Darel. Ingin sekali rasanya Naiki kabur sejauh mungkin dari suaminya. Namun entah mengapa, kakinya mendadak terasa lemas. Naiki menunduk, berusaha menutupi wajahnya yang memerah.
"Lihatlah wajahmu sekarang. Benar-benar memerah seperti tomat. Apa kau mulai menyukaiku, Nyonya?" Darel tampak kecanduan untuk menggoda istri dinginnya itu.
Ia lalu ikut menggeser tubuhnya mendekati Naiki dari balik sofa. Tangannya terulur meraih dagu Naiki yang lancip. Kedua mata mereka bertemu dengan jarak yang sangat dekat. Darel merasa jantungnya semakin berdebar saat menatap wajah Naiki dengan jarak sedekat itu dan dalam kondisi sadar.
"Kalau kau penasaran, kau harus belajar mulai dari ini terlebih dahulu." Lirih Darel lalu menarik tengkuk Naiki dan mencium bibir ranum istrinya itu.
Tidak ada penolakan dari Naiki walaupun sebenarnya ia sangat terkejut dengan tindakan Darel itu. Tubuhnya seolah membeku, lemas tidak bertenaga. Tangannya lunglai, tidak seperti biasanya. Darel lalu melepaskan tautan bibirnya kemudian tersenyum.
"Kau benar-benar harus banyak belajar, Nyonya." Ucap Darel.
"A-apa maksudmu?" Tanya Naiki terbata.
Darel tertawa melihat ekspresi Naiki yang bingung dan merona menjadi satu. Ia merasa sangat puas sudah membalas keisengan istrinya lebih dari yang ia kira.
"Nanti juga kau akan tahu." Sahut Darel sembari menjauh dan berjalan menuju ruang ganti. "Kau pasti menyukainya, Nyonya." Teriak Darel dari pintu ruang ganti.
"Hiiissshh..." Rutuk Naiki sambil memukul-mukul tepi sofa.
*************
__ADS_1