Pewaris Asli

Pewaris Asli
100 Penyelesaian 5


__ADS_3

"Kenapa? Dia memang lemah. Dia bahkan tewas seketika dalam kecelakaan. Apa kau kira itu murni adalah kecelakaan?" Ucap Brata.


"Apa maksudmu?"


Brata tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum sinis sambil sesekali merintih karena rasa sakit dipukul oleh Darel. Darel tampak sudah tidak sabar dan kembali menggertak Brata dengan menarik kerah baju Brata dengan kasar.


"Katakan! Apa kau yang membunuh ayahku?" Hentak Darel emosi.


Brata menepis tangan Darel dari kerah bajunya. Ia lalu menatap tajam ke arah Darel.


"Cih! Aku tidak ada urusan dengan ayahmu." Jawab Brata.


Darel terdiam. Dia semakin penasaran dengan orang di balik tewasnya sang ayah beberapa tahun yang lalu. Darel sudah berusaha mencari tahu, namun tetap saja tidak menemukan jejak si pelaku.


"Kau pasti tahu siapa pelakunya. Katakan padaku! KATAKAN!!!" Bentak Darel sambil menarik kembali baju Brata dan menggoyang-goyangkan tubuh pria tua itu.


Brata tersenyum smirk, seperti ada sesuatu yang direncanakannya. Ia lalu menepis tangan Darel kembali. Lalu berusaha untuk berdiri.


"Aku akan beritahu siapa pelakunya, dengan syarat, lepaskan aku sekarang dan beri aku 10% saham Gerandra." Ucap Brata.


Darel tidak menggubris ucapan Brata. Ia sadar, Brata hanya bermain kata-kata untuk mendapatkan apa yang ia mau. "Benar-benar pria licik!" Batin Darel kemudian pergi meninggalkan Brata seorang diri di sana.


Menurut Darel, apa yang dikatakan Brata tidak sepenuhnya dapat dipercaya. Bisa saja ia hanya memanfaatkan keadaan saja untuk mendapatkan keuntungan dari Darel atau pun Naiki. Pria dingin itu kemudian menyusul istrinya yang sedang beristirahat di ruangan lain.


"Ada apa, Sayang?" Tanya Naiki yang heran mengapa penampilan suaminya agak berantakan, tidak seperti sebelumnya.


Darel tidak langsung menjawab pertanyaan Naiki. Ia menarik tubuh istrinya itu dan mendekapnya dengan erat. Diam-diam ia menangis di bahu Naiki. Emosi di dadanya akhirnya keluar lewat airmata.


"Sayang, ada apa?" Tanya Naiki lirih. Darel tidak menjawab.


"Ayo kita pulang!" Ajak Naiki kemudian.


Darel lalu merenggangkan pelukannya. Merasa lebih baik, Darel lalu menyeritakan pada Naiki apa yang terjadi beberapa saat yang lalu.


"Lakukan apa yang ingin kau lakukan padanya." Ucap Naiki.


Darel tidak percaya dengan apa yang diucapkan istrinya. Ia menatap Naiki dalam, seakan bertanya apakah ia serius dengan ucapannya. Naiki pun mengangguk yakin.


"Percayalah, kata demi kata yang keluar dari mulutnya, sama sekali tidak dapat dipercaya. Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Aku rela, sekalipun kau menghabisi nyawanya." Ujar Naiki. Darel langsung memeluk istrinya dengan erat.

__ADS_1


"Maafkan aku." Ucap Darel lirih.


"Kenapa harus minta maaf?"


"Karena aku tidak bisa menerimanya sebagai mertuaku." Jawab Darel.


"Aku juga tidak menerimanya sebagai ayahku, Sayang. Lupakanlah! Pergilah urus pria itu sekarang." Ucap Naiki sambil mendorong tubuh Darel ke arah pintu.


Darel lalu pergi meninggalkan Naiki di ruang istirahat tersebut. Ia lalu mengumpulkan beberapa pengawal dan meminta Mike untuk hadir saat itu. "Pria itu harus diselesaikan secepatnya."


Setelah beberapa menit menunggu, Mike pun tiba dan langsung menghadap Darel yang masih bersama para pengawal di ruang pertemuan.


"Interogasi pria tua itu. Paksa dia untuk mengatakan siapa pelaku pembunuhan ayahku. Jika ia tidak bersedia, patahkan tangan dan kakinya satu per satu hingga ia mengatakannya." Perintah Darel.


"Jika dia sudah tidak berdaya, buang dia di pulau Z. Biarkan dia mencoba bertahan hidup di pulau terpencil itu." Lanjut Darel kemudian pergi meninggalkan para pengawalnya.


*************


Darel dan Naiki telah pergi meninggalkan markas. Para pengawal pun langsung bergerak untuk melaksanakan perintah Darel, dipimpin oleh Mike. Mereka menginterogasi Brata dengan sangat keras. Namun, Brata tetap tidak ingin membuka mulutnya, padahal sudah beberapa jam diinterogasi. Kedua tangannya pun sudah dipatahkan dengan sangat brutal oleh pengawal pilihan Mike dalam misi tersebut.


Melihat Brata sudah terkulai lemah, Mike memutuskan untuk berhenti menginterogasi Brata sementara waktu. Ia dan empat orang bawahannya lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut. Tinggallah Brata seorang diri dengan rasa sakit di kedua tangannya.


Brata terbaring lemah di lantai. Ia sudah tidak bebas menggerakkan tubuhnya. Pria itu tetap pada pendiriannya. Ia tidak akan mengatakan apa pun sampai Darel menyetujui persyaratan yang diajukannya. Hidup bebas, dengan 10% saham Gerandra yang dibayangannya sudah dapat menghidupinya dengan sangat cukup walaupun ia tidak bekerja.


Di lain tempat, ternyata Darel dan Naiki pergi ke rumah yang dulunya dihuni oleh Steffanie. Sudah tidak banyak pengawal yang berjaga di sana. Hanya tersisa empat orang yang berjaga secara bergantian dan dua orang ART yang memang bertugas untuk membersihkan rumah tersebut.


Naiki masuk ke rumah itu dan berjalan menuju kamar Steffanie. Wanita itu merasa harus memeriksa kediaman tersebut dengan teliti, "Siapa tahu ada sesuatu yang disembunyikan Si Nenek Lampir." Pikir Naiki.


Naiki terus memeriksa kamar Steffanie. Namun ia tidak menemukan bukti apa pun di sana. Karena memang Steffanie tidak pernah melakukan kejahatan langsung dengan tangannya sendiri. Saat Naiki ingin mengajak Darel untuk pulang, ternyata Darel sedang menerima telepon dari Mike.


Naiki duduk di sofa, menunggu Darel selesai berbicara dengan Mike. Beberapa menit berlalu, akhirnya Darel menutup teleponnya.


"Apa ada masalah di sana?" Tanya Naiki.


"Dia tetap tidak ingin membuka mulutnya. Padahal kedua tangannya sudah tidak berguna sekarang." Jawab Darel.


"Benar-benar pria serakah. Demi saham darimu, ia rela mengorbankan tubuhnya." Cetus Naiki.


"Lalu, bagaimana? Apa kau mendapatkan sesuatu di sini?" Darel balik bertanya. Naiki pun menggeleng.

__ADS_1


"Kalau pun dapat, aku rasa sudah tidak berguna karena orangnya sudah tiada." Ujar Naiki.


"Kalau begitu ayo kita pulang. Kau pasti sangat lelah hari ini." Darel lalu meraih tangan Naiki dan mengajaknya pulang.


***********


Dua hari telah berlalu. Namun, Brata tetap saja tidak ingin membuka mulutnya. Darel dan Naiki semakin yakin bahwa sesungguhnya Brata tidak mengetahui apa pun tentang tewasnya Tuan Adelard Gerandra.


Dalam dua hari ini Darel semakin gencar mencari tahu tentang tewasnya sang ayah. Ia juga bertanya kembali dengan Vanya dan Tuan Besar Gerandra. Darel bahkan memeriksa dokumen penyelidikan dan keterangan tentang apa yang terjadi pada mobil yang dikendarai oleh orang tuanya kala itu.


Seluruh bukti menunjukkan bahwa tewasnya Tuan Adelard Gerandra murni adalah sebuah kecelakaan. Semasa hidupnya, sang ayah memang tidak pernah memiliki musuh. Tuan Adelard memang memiliki banyak pesaing bisnis, namun semuanya berhubungan baik dengan dirinya.


Dan yang terpenting adalah Tuan Adelard tidak memiliki hubungan apa pun dengan Brata dan juga Steffanie. Vanya memang bersahabat dengan Alya, namun Brata tidak pernah tahu bahwa hubungan keduanya sangat dekat. Brata bahkan tidak tahu bahwa Vanya adalah Nyonya Gerandra. Ia juga tidak tahu dengan Darel. Oleh sebab itu Brata pernah mencelakai Darel kecil saat Darel datang mencari Naiki ke kediamannya kala itu.


Sekarang, kondisi Brata benar-benar buruk. Kedua kakinya bahkan sudah dipatahkan oleh para pengawal. Ia hanya bisa terbaring dengan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Bahkan, untuk makan dan minum pun ia tidak bisa.


Hari ini pria paruh baya itu akan di bawa ke Pulau Z. Pulau pribadi milik keluarga Gerandra yang letaknya sangat terpencil dan sama sekali belum disentuh. Brata mencoba berbicara saat Darel dan Naiki datang untuk melihatnya terakhir kalinya.


"Jangan buang aku ke sana! Bukan aku yang membunuh ayahmu. Aku juga tidak tahu siapa yang membunuhnya. Tolong, jangan buang aku!" Ucap Brata memelas.


Namun hanya tatapan dingin Darel dan Naiki yang didapatnya. Tidak ada satu patah kata pun yang diucapkan Darel dan Naiki hingga para pengawal mengangkat tubuh Brata ke atap gedung lalu memasukkannya ke dalam helikopter yang siap menerbangkannya ke pulau yang dimaksud.


"Berusahalah untuk tetap hidup di sana sebisamu. Jika kau berhasil, aku harap kau akan menjadi manusia yang lebih baik lagi nanti. Bila terjadi kebalikannya, maka aku ucapkan selamat bergabung dengan adikmu di neraka." Batin Naiki melepas Brata pergi.


**********


💙💙💙💙💙


...THE END...


Ok, pas 100 chapter. 1 chapternya pengumuman. Lanjut ke Bonus Chapter yaa...


Buat yang udah baca sampai tamat, makasih yaa...


Buat yang udah vote, makasih banyak yaa...


Buat yang udah favoritin novel ini, makasih juga...


Buat yang udah like dan kasih bunga, kopi, dsb, thanks a lot guys...

__ADS_1


lope lope buat kalian semua 💙💙💙💙💙


Jangan dihapus dari Favorit karena bakal ada beberapa bonus chapter... Bye bye


__ADS_2