
"Sepertinya kau masih sempat merawat dirimu dengan baik." Sindir Naiki sambil menatap tajam ke arah Steffanie yang terpaku di tengah anak tangga.
Naiki menyilangkan kakinya dan duduk bersandar di sofa sambil menatap Steffanie dengan angkuh. Tubuh Steffanie gemetar karena melihat wajah Naiki yang sangat dingin. Berbeda dengan gadis kecil yang dahulu sering disiksanya. Tatapan Steffanie lalu beralih pada Rhean. Sosok pria dewasa yang belum pernah Steffanie lihat. Hanya dengan menatapnya sekilas, Steffanie sudah bisa menebak bahwa pria itu adalah Rhean, saudara kandung dari Naiki.
"Kenapa diam saja? Kami sudah lama menunggumu di sini, Nyonya Stef-fa-nie." Cetus Naiki.
Dengan berat, Steffanie akhirnya menuruni anak tangga kembali dan tibalah ia di depan ketiga tamu tak diundangnya. Ia lalu duduk di sofa tidak jauh darinya.
"Apa aku sudah menyuruhmu untuk duduk?" Tanya Naiki tiba-tiba. Steffanie tersentak mendengarnya.
"Kenapa aku harus menunggumu mempersilahkanku duduk di rumahku sendiri?" Celetuk Steffanie. Tampak dari bahasa tubuh dan suaranya, ia berusaha untuk seberani mungkin dan seangkuh mungkin.
"Ck!" Naiki berdecak. "Kau sungguh tidak sadar siapa dirimu, Steffanie." Hardik Naiki.
"Apa maksudmu? Dan buat apa kalian datang ke rumahku? Apa tidak cukup kalian menyiksa anak-anakku?" Ketus Steffanie yang mulai geram.
"Hah!" Seru Naiki. "Kak Rhe, apa kau ingat berapa kali wanita ini menyiksa kita dahulu?" Naiki beralih ke Rhean yang dari tadi tampak menikmati menonton pertunjukkan yang Naiki buat.
"Karena terlalu sering, aku bahkan tidak dapat menghitungnya, bagaimana aku bisa mengingatnya?" Tukas Rhean. Naiki tersenyum mendengar jawaban dari sang kakak.
"Apa kau dengar, Steffanie? Apa pantas itu dibilang penyiksaan bila dibandingkan dengan perlakuanmu dulu kepada kami?" Naiki mulai berdiri dari duduknya dan melangkah pelan menuju Steffanie.
"Sialan! Aku harusnya membunuhnya sejak dulu." Umpat Steffanie dalam hati dengan raut wajah penuh kebencian.
"Hei hei! Apa kau menyesal tidak membunuhku sejak dulu?" Ucap Naiki yang seakan tahu isi pikiran Steffanie. Ia sekarang benar-benar sudah berada tepat di hadapan Steffanie.
Naiki berdiri sambil melipat kedua tangannya di dada. Matanya masih menatap Steffanie dengan penuh kebencian. Steffanie salah tingkah. Ingin sekali menundukkan kepala, namun ia tidak rela harga dirinya jatuh di hadapan Naiki.
"Jadi, apa maumu?" Tanya Steffanie dengan ketus.
"Tinggalkan rumah ini sekarang juga!" Jawab Naiki dengan wajah datarnya.
"INI RUMAHKU!" Teriak Steffanie sembari berdiri.
Naiki tertawa mengejek. Ia terus menatap Steffanie yang mulai naik pitam dan menunjukkan sifat aslinya.
__ADS_1
"Kalian yang seharusnya pergi dari sini!" Ucap Steffanie kembali.
"Kau tinggal memilih Steffanie. Akan angkat kaki dari rumah ini dengan kemauanmu sendiri, atau dibantu olehku?" Ancam Naiki.
Steffanie semakin kesal. Ia sudah tidak bisa menahan emosinya dan ingin menyerang Naiki dengan vas bunga yang berada di sampingnya. Namun Naiki segera menangkis tangan Steffanie dengan tangannya hingga vas bunga itu terlepas dan terjatuh tepat di tengah-tengah mereka.
"Aku bukan Naiki yang dulu lagi, Steffanie. Yang bisa seenaknya kau lukai." Hardik Naiki sambil mencengkeram rahang Steffanie dengan kuat.
"ANAK SIALAAANNN!" Maki Steffanie dengan suara tertahan karena rahangnya dicengkeram oleh Naiki.
Tangan Steffanie menggapai-gapai ingin membalas perlakuan Naiki padanya. Ingin sekali ia menjambak rambut panjang Naiki yang tergerai indah itu. Naiki lalu meraih satu tangan Steffanie dan mengangkatnya ke atas.
"Tangan ini yang dulu seringkali menyiksaku, kakakku, dan mamaku, bukan?"
Steffanie tidak menjawab. Ia hanya bisa merintih karena sakit di rahangnya, namun matanya tetap melirik ke arah tangan yang Naiki angkat paksa.
Kraaakkk...
"AAAARRRGGHHH!" Jerit Steffanie saat Naiki melepaskan cengkeramannya dan beralih mematahkan sebelah tangan Steffanie dengan gerakan sangat cepat.
"Oh, ternyata kau tahu apa itu rasa sakit, Steffanie?" Ucap Naiki. Ekspresinya tetap saja dingin dan datar.
Steffanie tidak menjawab. Ia merasa sudah tidak sanggup menahan sakit di tangannya. Tubuhnya semakin gemetar saat melihat Naiki kembali mendekatinya. Dengan mengumpulkan sisa keberaniannya, ia lalu berteriak.
"Jangan mendekat! Aku akan pergi dari rumah ini sekarang. Lepaskan aku!" Jerit Steffanie.
Naiki pun tersenyum sinis ke arah Steffanie. Ia lalu menunduk dan meraih dagu Steffanie kemudian mengangkat wajah Steffanie ke arahnya.
"Melepaskanmu? Bangunlah Steffanie, jangan terus bermimpi seperti itu!" Ucap Naiki. "Aku izinkan kau pergi dari rumah ini sekarang, tapi jangan harap aku akan melepaskanmu di luar sana. Penderitaanmu baru akan dimulai saat kau melangkahkan kakimu keluar dari rumah ini."
Kebencian Steffanie pada Naiki sudah meluap-luap. Namun, dia bisa apa? Dia hanya wanita paruh baya yang sudah kehilangan banyak harta, bahkan hampir kehilangan kedua anaknya. Ia sudah tidak mampu menyewa bodyguard seperti yang pernah dilakukannya dahulu. Saat ia menikmati secuil kekayaan yang ditinggalkan Alya.
"Tunggu apa lagi? Lekaslah bereskan barang-barangmu dan pergi dari rumah ini secepatnya! Aku beri waktu lima belas menit, kalau tidak selesai, bukan hanya tanganmu saja yang akan patah di tanganku." Tekan Naiki.
Naiki sebenarnya merasa kurang puas telah mematahkan satu tangan Steffanie. Melukai wanita tidak berdaya seperti Steffanie sangatlah tidak menantang menurut Naiki. Ia bahkan bisa membunuh Steffanie dengan sekali gerakan bila ia inginkan. Namun, Naiki masih ingin bermain-main dengan Steffanie, wanita yang sudah membunuh mamanya secara tidak langsung pada saat kecelakaan kala itu.
__ADS_1
Naiki lalu kembali duduk di antara Darel dan Rhean yang tidak berani bersuara sejak tadi. Steffanie yang disiksa, tapi mereka yang takut bersuara. Naiki heran, lalu berusaha memecah keheningan di antara mereka bertiga.
"Kalian kenapa? Kenapa diam saja?" Tanya Naiki.
Rhean dan Darel hanya saling menatap tanpa kata-kata, membuat Naiki semakin bingung. Apa yang salah, pikirnya. Naiki lalu tertawa kecil.
"Ayolah...! Apa ada yang aneh?" Tanya Naiki. Rhean dan Darel pun kompak menggelengkan kepala mereka.
"Jadi?"
"Apa rasanya mematahkan tangan wanita itu, Nai?" Tanya Rhean dengan pelan.
"Apakah tulangnya begitu rapuh?" Tanya Darel menimpali.
Naiki pun kembali tertawa. Ia mengerti sekarang. Suami dan kakaknya ternyata merasa ngilu saat melihat Naiki mematahkan tangan Steffanie seperti mematahkan sebuah ranting pohon.
"Itu salah tangannya sendiri kenapa begitu rapuh." Ucap Naiki acuh, yang lagi-lagi membuat Rhean dan Darel saling tatap sembari menelan saliva mereka masing-masing.
**********
💙💙💙💙💙
Gimana puasanya Guys? Eh, ini ada Neng Naiki mau ngucapin selamat berpuasa.
Buat yang udah baca, makasih yaa...
Buat yang udah vote, makasih banyak yaa...
Buat yang udah favoritin novel ini, makasih juga...
Buat yang udah like dan kasih bunga, kopi, dsb, thanks a lot guys...
lope lope buat kalian semua 💙💙💙💙💙
__ADS_1