Pewaris Asli

Pewaris Asli
68 Evakuasi


__ADS_3

Para pengawal bergerak cepat ke sumber suara ledakan. Beberapa masyarakat pun sudah berada di pinggir jalan dekat ledakan terjadi. Ada yang berusaha menelepon polisi, atau nomor darurat lainnya, dan ada juga yang berusaha melihat ke bawah jurang dari balik pembatas jalan. Tidak ada satu orang pun yang berani turun dan melihat langsung apa yang terjadi di bawah sana karena jurang memang cukup tinggi dan curam.


Mobil van hitam Gerandra pun tiba di lokasi kejadian. Dua orang di antara mereka turun dan mencoba berbaur dengan masyarakat yang berada di sana untuk menggali informasi.


"Ada apa ini, Pak?" Tanya salah satu pengawal.


"Ada mobil jatuh ke jurang, Tuan. Kata saksi yang melihat, sopir mobil itu seorang wanita." Sahut seorang pria paruh baya yang berada di lokasi. "Malang sekali nasibnya." Imbuh pria itu.


Mata pengawal Gerandra seketika membulat mendengar perkataan bapak tersebut. Dia merasa mobil yang terjatuh benar adalah mobil Grace, target yang mesti mereka tangkap dan bawa ke markas. Tidak lama setelah itu pihak kepolisian dan tim penyelamat lainnya tiba. Mereka bahu membahu mengevakuasi bangkai mobil dan jenazah yang berada di bawah jurang.


Hari sudah mulai gelap dan menghambat proses evakuasi. Para pengawal Gerandra tetap memantau tempat kejadian karena mereka ingin memastikan bahwa perkiraan mereka memang benar adanya. Lima jam berlalu, hari sudah mulai larut, akhirnya satu kantong jenazah berhasil diangkat ke atas dan langsung dibawa ke rumah sakit menggunakan ambulans. Salah satu pengawal langsung menghubungi tim yang berada di markas agar bergerak menuju rumah sakit tujuan ambulans tersebut untuk memantau kondisi di sana.


Dua jam setelah pengevakuasian jenazah, bangkai mobil pun berhasil diangkat. Saat itulah para pengawal bergerak cepat dan memastikan bahwa mobil yang telah hangus dan hancur tersebut adalah milik Grace. Hingga akhirnya mereka pun dapat mengambil kesimpulan dengan keyakinan mencapai 90% bahwa mobil itu benar-benar adalah milik Grace.


Salah satu dari mereka segera menghubungi Mike. Karena hari sudah sangat larut, mereka tidak memiliki keberanian untuk menghubungi Darel secara langsung.


"Lapor Komandan. Target telah tewas saat berusaha kabur dari kami. Saat ini jenazahnya sudah dibawa menuju rumah sakit dan tim kita sudah berada di sana untuk memastikan jenazah itu. Dokumentasi semuanya sudah kami kirim ke email komandan." Ujar pengawal tersebut.


"Baik, istirahatlah. Serahkan selanjutnya pada tim lain. Terima kasih atas kerja keras kalian." Jawab Mike yang tidak banyak tanya dan langsung mengerti maksud dari bawahannya.


Dalam sekejap, kabar tewasnya Grace akhirnya sampai ke telinga Darel yang masih terjaga hingga pukul 02.00 pagi karena harus menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda beberapa hari ini. Darel memutuskan untuk mematikan laptopnya dan kembali ke samping istrinya yang sudah terlelap sejak pukul 21.00. Ia menyelimuti tubuhnya dengan selimut yang sama dengan istrinya lalu mengecup kening istrinya itu dengan lembut.


"Jam berapa sekarang?" Ucap Naiki dengan suara seraknya. Ia sebenarnya sudah terbangun sejak Darel menerima telepon dari Mike.


"Sudah jam dua lewat, Sayang. Tidurlah." Ucap Darel sambil mengusap kepala Naiki.

__ADS_1


"Siapa yang menelponmu tadi, Rel?" Tanya Naiki dengan mata kembali terpejam.


"Mike. Dia memberi kabar tentang Grace." Sahut Darel yang sudah melingkarkan tangannya di pinggang Naiki.


"Oh, apa sudah ketemu?"


"Hhhmm...Aku juga belum tahu pasti. Tapi kemungkinan besar dia sudah tewas dalam kecelakaan saat berusaha kabur." Ujar Darel.


"Apa? Tewas?" Naiki tersentak. Matanya langsung terbuka lebar seakan kantuknya sudah hilang dalam sekejap.


Darel pun mengangguk. "Dia menabrak pembatas jalan di pegunungan dan terjatuh ke jurang. Mobilnya meledak, jenazahnya belum teridentifikasi."


"Apa karena dikejar bawahan Mike?" Tanya Naiki curiga.


"Awalnya memang mereka mengejar Grace yang berusaha kabur. Tapi karena jalan yang dilewati sangat berbahaya, mereka memutuskan untuk menjaga jarak dan berhenti mengejar." Jawab Darel. "Akan sangat merepotkan jika kecelakaan itu terjadi saat Tim Mike benar-benar ada di belakang mobil Grace." Imbuhnya.


Jika saja kecelakaan itu tidak merenggut nyawa Grace, mungkin saja Naiki masih berbaik hati untuk memaafkan Grace dengan beberapa persyaratan. Naiki tahu, Grace hanyalah gadis manja dan keras kepala yang terbiasa mendapatkan apa pun yang inginkan, hingga ia larut dalam obsesi dirinya terhadap Darel, Tuan Muda Gerandra.


**********


Pagi hari menjelang, walaupun hanya tidur beberapa jam, Darel tetap bangun pagi-pagi sekali hari ini. Ia membantu Naiki untuk mengemasi barang-barangnya dan keluar dari rumah sakit pagi ini. Setelah mengantar Naiki pulang ke Kediaman Caraka, Darel melanjutkan perjalanannya menuju perusahaan.


Bukan tanpa alasan Darel mengantar Naiki ke kediaman besar Caraka. Ia merasa, istrinya akan lebih aman berada di sana. Ia juga takut Naiki akan merasa bosan dan kesepian bila hanya di rumah saja. Jadi, Darel memutuskan untuk mengantar istrinya itu ke kediaman besar Caraka.


"Cucu Kakek yang cantik, istirahat saja di kamar. Kau belum pulih sepenuhnya." Bujuk Kakek Caraka saat melihat Naiki mulai sibuk dengan laptopnya.

__ADS_1


Naiki tersenyum renyah mendengar ucapan kakeknya. Ia lalu berdiri dari karpet bulu yang berada di ruang keluarga itu dan menghampiri kakeknya yang duduk di sofa.


"Apa Kakek sudah tidak mengenali Nai lagi?" Tanya Naiki sambil memeluk lengan kakeknya.


"Mana mungkin. Kakek adalah orang yang paling mengenalimu, Nai." Cetus Kakek Caraka.


"So?"


"Ya sudah, sana kerja lagi. Kakek mau ke depan saja, main catur sama Si Ujang." Ucap Kakek Caraka.


Naiki terkikik melihat tingkah kakeknya yang dibilangnya ajaib itu. Bagaimana tidak ajaib? Kakek Caraka adalah pria yang tegas dan disegani oleh banyak orang. Dia juga termasuk pria yang dingin dan sulit dihadapi. Namun, tidak seperti itu jika bersama cucu-cucunya, terutama Naiki. Kakek Caraka akan berperilaku manja dan memanjakan. Seorang kakek yang sangat penyayang dan disayangi oleh keluarganya.


Naiki pun melanjutkan pekerjaannya setelah kepergian Kakek Caraka ke halaman depan. Seperti biasa ia akan berkoordinasi dengan asistennya Ivan dan sekretarisnya, Sisi. Dia juga berencana untuk berkunjung ke Brata Corp esok hari. "Aku ingin mengunjungi papaku tercinta." Sahut Naiki ketika Ivan menanyakan ada hal apa Naiki ingin berkunjung ke Brata Corp esok hari.


*********


💙💙💙💙💙


Buat yang udah baca, makasih yaa...


Buat yang udah vote, makasih banyak yaa...


Buat yang udah favoritin novel ini, makasih juga...


Buat yang udah like dan kasih bunga, kopi, dsb, thanks a lot guys...

__ADS_1


lope lope buat kalian semua 💙💙💙💙💙


__ADS_2