
Steffanie melangkah dengan gontai di koridor hotel yang terletak di lantai 7. Hari sudah berganti saat ia tiba di hotel tempat Brata menginap. Steffanie menyelesaikan pengobatan tangannya dengan cepat karena cedera yang dialaminya tidak membutuhkan operasi. Ia hanya butuh menggunakan gips dan penyangga tangan untuk sementara waktu. Namun, karena usianya yang sudah tidak muda lagi, penyembuhan tulangnya kemungkinan membutuhkan waktu yang lebih lama.
Karena kondisinya yang tidak memungkinkan untuk ke mana-mana membawa barang yang banyak, maka ia memutuskan untuk meninggalkan barang-barang tersebut di ruang rawat Sonya di rumah sakit yang sama di tempat ia mengobati tangannya. Steffanie lalu mengetuk pintu kamar hotel yang disewa Brata. Cukup lama ia menunggu di depan pintu hingga akhirnya Brata membukakan pintu kamarnya untuk Steffanie.
"Apa kau tidak tahu sekarang jam berapa?" Ketus Brata dengan piyamanya. Steffanie hanya menunduk. "Masuklah!" Ucap Brata kemudian.
Steffanie lalu melangkah masuk ke kamar hotel itu. Ia kemudian duduk di sofa yang terdapat di kamar hotel itu.
"Apa saja yang mereka lakukan di rumahmu?" Tanya Brata.
"Mereka...Oh bukan mereka. Tapi dia. Anak sial itu menghajar satpam di rumahku dan mematahkan tanganku. Ia juga mengusirku dari rumah itu. Setelah aku pergi, aku sudah tidak tahu apa yang ia perbuat di rumah itu." Sahut Steffanie dengan tatapan penuh kebencian.
"Rumah itu pasti sudah dijaga ketat oleh orang-orang mereka dan juga sudah diganti seluruh kuncinya." Tukas Brata. Steffanie tersentak.
"Apa? Dia mengganti seluruh kunci di rumah itu?" Tanya Steffanie tidak percaya.
"Kemungkinan besar iya, karena rumahku pun seperti itu. Bahkan mereka mengganti seluruh CCTV di sana. Mulai sore kemarin, aku sudah tidak bisa mengakses CCTV rumah itu lagi." Ucap Brata.
Steffanie hanya menghembuskan nafasnya kasar. Pikirannya sedang buntu sekarang. Ia tidak dapat memikirkan jalan keluar yang terbaik saat ini.
"Lalu, sampai kapan Kakak akan tinggal di sini?" Tanya Steffanie.
"Aku akan segera mengambil sebuah apartment hari ini. Setidaknya aku tidak perlu membayar sewa per malam seperti saat ini." Jawab Brata.
"Ok baiklah, Kak. Sepertinya aku juga harus mengambil sebuah apartment hari ini. Tapi mungkin yang tidak terlalu mahal karena tabunganku sudah menipis." Ucap Steffanie. "Lalu, apa yang harus kita rencanakan untuk mereka? Terutama anak sial itu? Rencana kita sebelumnya saja belum berhasil, Kak." Ucap Steffanie.
"Aku akan menyusun rencananya kembali. Dia sudah berani merebut rumah-rumah itu. Itu berarti dia sudah memiliki surat-surat kepemilikan resmi yang disimpan Alya selama ini." Ujar Brata. "Cara terbaik untuk tetap menguasai harta Alya adalah dengan menghabisinya. Namun kita harus berhati-hati dan melakukannya dengan bersih tanpa dicurigai siapa pun." Imbuhnya.
"Aku akan menenangkan diriku terlebih dahulu baru membantumu memikirkannya, Kak." Ucap Steffanie.
"Aku akan mandi dan bersiap ke kantor, istirahatlah di sini jika kau mau. Aku akan meminta sekretarisku mencarikanmu apartment nanti."
Steffanie hanya mengangguk dan meletakkan tasnya di nakas samping tempat tidur. Ia lalu duduk di tepi ranjang. Wanita itu kembali mengingat ekspresi dan perkataan Naiki kemarin, saat ia diusir dari rumah tempat ia dan kedua anaknya tinggal selama ini. Dendam, itu yang ia rasakan saat ini.
"Aku akan membuat nyawamu melayang seperti ibumu dulu." Lirihnya sambil menggenggam erat sprai yang ia duduki.
*********
"Apa yang akan kau lakukan hari ini, Sayang?" Tanya Darel sambil membantu mengeringkan rambut Naiki yang basah.
Wajah pria itu tampak cerah secerah mentari pagi. Sejak bangun dari tidurnya, senyum selalu tersungging di wajahnya yang tampan. Sepertinya tadi malam ia berhasil menebar benihnya kembali di tempat seharusnya benih-benih unggul itu berkembang. Darel selalu membisikkan kalimat yang sama di atas perut Naiki setiap ia selesai menebar benih-benihnya itu. "Berusahalah, Sayang. Bertarunglah sekuatnya di dalam sana. Papa menunggumu."
__ADS_1
"Aku akan ke perusahaan hari ini. Ada meeting dengan direksi serta beberapa manager, dan aku harus memantau jalannya meeting itu secara langsung." Ucap Naiki.
"Langsung? Kau serius akan melakukan itu? Bukankah selama ini kau selalu melakukannya secara online?" Tanya Darel penasaran.
"Apa kau keberatan jika aku menemui mereka secara langsung, Sayang?" Goda Naiki dengan memicingkan matanya.
"Hhhmm...Tidak. Sama sekali tidak. Aku hanya penasaran kenapa tiba-tiba kau ingin meeting tatap muka seperti itu." Tukas Darel dengan ekspresi salah tingkah. Ia lalu menyudahi mengeringkan rambut istrinya itu.
Naiki tertawa melihat tingkah suaminya. Ia lalu menyisir rambut panjangnya kemudian berdiri dan menuju ruang ganti pakaian untuk siap-siap menuju perusahaan. Begitu pun dengan Darel yang juga bersiap untuk berangkat ke perusahaannya.
Mereka lalu sarapan pagi bersama Kakek Caraka, Rhean, dan juga Elis. Setelah selesai sarapan, mereka pun berpamitan kepada Kakek Caraka untuk berangkat kerja.
"Apa kau yakin tidak ingin ku antar?" Tanya Darel di garasi mobil. Naiki mengangguk.
"Pergilah, jangan khawatirkan aku!" Ucap Naiki kemudian.
Darel mengecup kening istrinya dengan lembut lalu berangkat lebih dulu daripada istrinya. Setelah Darel pergi, Naiki pun masuk ke mobilnya dan berangkat ke perusahaan.
Seperti biasa, Naiki akan menutup mukanya dengan masker dan mengenakan kacamata hitam saat memasuki perusahaan. Staff keamanan juga telah siap menyambut kedatangannya. Beberapa waktu ini Naiki selalu saja datang secara mendadak ke perusahaan dan membuat para staff keamanan tersebut kewalahan. Namun tidak untuk hari ini. Mereka telah siap sejak beberapa menit sebelum Naiki tiba.
Naiki turun dari mobilnya dan melangkah masuk ke gedung pencakar langit itu. Ia berjalan dengan elegan dan dingin seperti biasanya. Setiap karyawan yang ia lewati memberi ucapan selamat pagi padanya.
"Apa kau dengar kabar itu?" Bisik salah satu karyawan yang baru tiba di lobby setelah Naiki berlalu masuk ke liftnya.
"Hari ini akan ada rapat direksi dan manager. Dan untuk pertama kalinya setelah beberapa tahun ini, Nona Rhea akan memimpin rapat itu secara langsung."
"Serius? Are you kidding me?" Ucap salah satu karyawan saking tidak percayanya.
"Serius. Kita lihat saja nanti. CEO kita akan hadir di sana langsung. Tatap muka."
Begitulah selentingan dan topik yang dibicarakan para karyawan pagi itu di Caraka Corp. Mereka sungguh tidak percaya bahwa CEO mereka yang terkenal sangat menjaga identitasnya dan menolak untuk meeting tatap muka dengan tiba-tiba memutuskan untuk menghadiri meeting tersebut secara langsung. Ini benar-benar berita besar bagi mereka.
Naiki tiba di ruangannya dengan Ivan yang terus mengikutinya di belakang. Naiki lalu melepas masker dan kacamata hitamnya lalu duduk di kursi di balik meja kerjanya.
"Apa semuanya sudah siap?" Tanya Naiki kemudian.
"Sudah Nona. Kita akan memulai meeting sepuluh menit dari sekarang." Jawab Ivan. Naiki hanya mengangguk lalu beralih pada topik lain.
"Bagaimana dengan Sisi dan keluarganya? Apakah aman?" Tanya Naiki.
"Aman, Nona. Pengawal Gerandra berjaga 24 jam di sekitar apartment. Beberapa hari yang lalu memang tampak dua orang yang mencurigakan di sekitar sana. Namun saat dikejar, mereka menghilang entah ke mana." Jawab Ivan.
__ADS_1
"Aku rasa Brata dan Steffanie akan semakin agresif beberapa hari ke depan. Awasi terus Sisi dan keluarganya. Selalu tanyakan kebutuhan mereka agar mereka tidak sembarangan keluar saat ini. Aku khawatir salah satu dari mereka akan menjadi korban karena aku." Ucap Naiki. Ivan pun menyanggupi perkataan CEO-nya itu.
"Mari kita menuju ruang meeting, Nona. Waktunya sudah hampir tiba." Ucap Ivan.
Naiki pun berdiri dan berjalan keluar dari ruangannya.
"Apa kau tidak ingin memakai maskermu, Nona?" Tanya Ivan.
"Tidak. Mulai hari ini, aku akan menunjukkan wajahku pada mereka." Tegas Naiki. Mereka pun berjalan menuju ruang meeting yang memang berada di lantai yang sama dengan ruangan Naiki.
Seluruh Direksi dan Manager beserta sekretaris mereka masing-masing telah hadir di ruang meeting yang besar itu. Mereka akan membahas beberapa proyek baru di beberapa industri yang dinaungi Caraka Corp. Ivan masuk lebih dulu ke ruang meeting tersebut yang membuat ruangan hening seketika.
"Selamat pagi semuanya!" Ucap Ivan yang langsung dijawab dengan kompak oleh peserta meeting.
"Hari ini kita akan mengadakan meeting dan dipimpin langsung oleh CEO kita, Nona Rhea Caraka." Ucap Ivan yang diiringi dengan langkah kaki Naiki yang melangkah masuk dengan kharisma kuat dan elegan ke dalam ruang meeting tersebut.
Rambutnya tergerai indah dengan wajah yang dingin namun sangat menarik bila dipandang. Kulitnya putih, mulus, dan sangat terawat. Setiap orang yang hadir di ruang meeting tersebut terpesona melihat kecantikan Naiki yang selama ini tidak pernah mereka lihat. Hari ini, semua rasa penasaran mereka pun terbayar lunas.
"Auranya persis seperti Tuan Besar Caraka." Batin seorang peserta meeting.
"Dia benar-benar memiliki kharisma kuat seorang CEO."
"Dingin dan cantik. Perpaduan yang sangat menarik."
"Sudah kuduga, Nona Rhea pasti sangat cantik."
Setiap orang di ruang rapat tersebut hanyut dengan pemikiran mereka masing-masing hingga tanpa sadar, Naiki telah berdiri di depan kursinya dan menatap ke seluruh penjuru ruangan dengan tatapan dinginnya.
"Selamat pagi semua! Senang bertemu dengan kalian. Perkenalkan, saya Naiki Rhea Caraka. Maaf apabila selama ini saya menyembunyikan identitas dan wajah saya. Saya harap ke depannya kita dapat bekerjasama dalam menyukseskan perusahaan ini." Ucap Naiki lugas. Ia pun memberi kode kepada Ivan untuk segera memulai meeting mereka hari ini.
**********
💙💙💙💙💙
Buat yang udah baca, makasih yaa...
Buat yang udah vote, makasih banyak yaa...
Buat yang udah favoritin novel ini, makasih juga...
Buat yang udah like dan kasih bunga, kopi, dsb, thanks a lot guys...
__ADS_1
lope lope buat kalian semua 💙💙💙💙💙