Pewaris Asli

Pewaris Asli
23 Kediaman Gerandra


__ADS_3

Hari ini Darel dan Naiki akan pulang ke kediaman Gerandra. Mereka akan tinggal satu malam di sana. Mengingat phobia yang diderita Naiki, Darel memutuskan untuk tinggal di kediaman pribadinya. Ia takut Naiki merasa canggung bila terus menolak sentuhan dari keluarganya.


Setelah menikmati sarapan pagi yang dihidangkan langsung di kamar president suite itu, Naiki dan Darel pun bersiap-siap berangkat.


"Apa kau sudah siap, Nai?" Tanya Darel yang terlihat tampan dengan kemeja polos bewarna hitam dan celana jeans gelapnya.


"Iya, ayo berangkat." Sahut Naiki kemudian berjalan keluar kamar mendahului Darel. Ia tampak cantik dengan dress bewarna coklat susu sepanjang lutut dan heels yang disiapkan Mama Vanya.


Naiki terus berjalan di koridor hotel sambil memasang masker ke wajahnya. Darel menyusul dengan cepat dan meraih satu tangan Naiki. Seolah tidak ingin Naiki pergi jauh darinya.


"Haruskah kita berjalan dengan bergandengan tangan seperti ini?" Tanya Naiki dingin namun terus berjalan.


"Harus." Sahut Darel tegas.


"Apakah kita akan menyeberang jalan?" Cetus Naiki.


Darel hanya menaikkan satu sudut bibirnya. Dia sungguh tidak peduli Naiki akan berkata apa. Yang dia inginkan hanya menunjukkan kepada orang-orang yang melihat bahwa wanita cantik itu adalah miliknya.


Naiki dan Darel tiba di lobby hotel. Berry pun langsung menyambut kedatangan Tuan dan Nyonya muda Gerandra.


"Selamat pagi Tuan, Nyonya. Mobil sudah siap." Sapa Berry sambil menundukkan kepalanya sedikit.


Darel hanya mengangguk sedikit. Ia lalu merangkul Naiki. Rangkulan yang terlihat sengaja dilakukan Darel di depan Berry dan orang-orang di sekitar lobby. Ia lalu mengajak Naiki keluar pintu hotel dan langsung masuk ke dalam mobil. Sebuah mobil Lamborghini Veneno bewarna hitam yang jarang digunakan Darel itu lalu melesat menuju kediaman besar Gerandra.


*************


Tiga puluh menit perjalanan, Darel dan Naiki akhirnya tiba di kediaman besar Gerandra. Mereka turun dari mobil. Terlihat beberapa pelayan sudah berbaris di kanan kiri teras rumah besar itu untuk menyambut kedatangan Nyonya mudanya.

__ADS_1


Naiki melepas maskernya dan melemparkan senyum ramah kepada para pelayan. Ia memang gadis yang dingin, namun kepada karyawan atau pun pelayan di kediaman Caraka, Naiki akan bersikap sangat ramah. Seperti itu juga yang dilakukannya pada para pelayan di kediaman Gerandra.


"Aku pikir Nyonya Muda adalah orang yang angkuh. Ternyata aku salah."


"Dia sangat cantik. Tuan dan Nyonya muda sungguh pasangan yang serasi."


"Memang pantas menarik perhatian Tuan muda, Nyonya muda ini benar-benar luar biasa."


Para pelayan tersebut menunduk sambil mencuri pandang ke arah Naiki. Mereka larut dengan pikiran dan penilaian mereka masing-masing. Naiki benar-benar membuat para pelayan tersebut terpesona.


"Selamat datang Nai." Ucap Kakek Gerandra yang sudah menunggu di depan pintu utama kediaman besar itu. Di sampingnya berdiri Syakilla yang memegang kursi roda Mama Vanya. Mereka bertiga tersenyum hangat ke arah Naiki.


Naiki membalas senyuman mereka. Darel meraih tangan Naiki dan membawanya mendekati Kakek, Mama, dan adik nya.


"Proses pernikahan kita sangat singkat, kau pasti sangat ingin kenal dan dekat dengan keluargaku kan?" Ucap Darel sambil terus menggenggam tangan Naiki.


"Apa kau lupa, Kak Nai adalah kakakku? Jadi minggir sana." Cetus Killa yang langsung menggeser tubuh Darel agar ia dapat berdiri di samping Naiki.


Syakilla menyukai Naiki sejak lama. Mama Vanya selalu menceritakan tentang Naiki dan mamanya pada Killa. Vanya juga memiliki banyak foto-foto Naiki yang ia dapatkan dari orang suruhannya. Vanya bukan bermaksud menguntit Naiki. Hanya saja, ia ingin mengawasi Naiki dari jauh dan menjaganya. Vanya merasa bertanggungjawab atas janjinya pada Alya kala itu.


Syakilla adalah salah satu dokter yang berangan-angan bekerjasama dengan rumah sakit milik Naiki. Rumah sakit yang telah memiliki beberapa cabang dan memiliki grade A. Hanya tenaga medis berkemampuan yang sangat baik dan rasa sosial yang tinggi yang dapat bekerja di sana.


"Kak Nai sama aku saja ya!" Pinta Killa. Ia berdiri sangat dekat dengan Naiki dan ingin sekali menggandeng tangan kakak iparnya itu. Namun sorot mata Darel yang tajam selalu mengawasi gerak-geriknya, seolah memberikan peringatan.


Naiki tersenyum melihat tingkah Killa yang kekanakan. Ia lalu menyapa kakek Gerandra dan mama Vanya.


"Kakek, Mama, apa kabar hari ini?" Sapa Naiki lembut.

__ADS_1


"Baik." Sahut kakek Gerandra dan Vanya serentak.


"Mari kita mengobrol di dalam. Mulai sekarang, rumah ini juga rumahmu Nai. Bila ingin sesuatu, kau bisa meminta dengan pelayan di sini." Ucap kakek Gerandra. Naiki pun mengangguk.


Mereka lalu beranjak dari teras, menuju ruang keluarga. Naiki membantu Vanya mendorong kursi rodanya. Ia lalu memposisikan kursi roda Vanya sejajar dengan sofa dan duduk di sofa tepat sebelah Vanya. Killa yang berjalan di belakang Naiki pun bergegas mengambil posisi di sebelah Naiki dan membuat Kakaknya geram.


"Kak Nai, nanti aku ajak keliling rumah ya! Kau juga harus lihat kamarku dan ruang baca rumah ini." Celoteh Killa yang nampak sangat antusias dengan Naiki. Naiki menggangguk setuju.


Mereka lalu mengobrol. Membicarakan segala macam hal. Naiki juga telah dibawa Killa berkeliling rumah lumayan lama. Setelah itu mereka makan siang bersama.


Naiki sekarang sudah berada di kamar Darel, suaminya. Yang berarti itu adalah kamar mereka berdua saat ini. Naiki mengusap-usap ponselnya. Mengecek apakah ada pesan dari Ivan atau pun Sisi. Ternyata nihil. Ia lalu merebahkan tubuhnya di kasur.


Naiki sangat menyukai desain kamar itu. Kamar yang terlihat maskulin dengan warna dominan gelap, kasur dengan ukuran king, kamar mandi yang luas, ruang ganti yang bersebelahan dengan kamar mandi dan tertata sangat rapi, serta ruang santai yang dilengkapi dengan LED TV dan berbagai peralatan untuk bermain game.


Naiki merasa sangat lelah. Ia lalu memejamkan matanya. Hal yang sangat jarang Naiki lakukan di waktu siang.


Ceklek...


Darel masuk ke kamar dengan langkah tenang. Ia baru saja dari ruang kerja untuk memeriksa beberapa file yang belum tuntas sebelum ia cuti. Pandangan Darel menelusuri kamar tidur luas itu. Ia mencari sosok Naiki.


Darel lalu berjalan mendekati Naiki yang sudah terlelap. Ia lalu menaruh kedua tangannya di kasur dan bertumpu di sana. Di pandangnya wajah istrinya lekat kemudian ia tersenyum.


"Kau terlihat lelah, Sayang." Lirih Darel.


Darel kemudian kembali berdiri. Ia juga merasa sangat lelah saat ini. Darel lalu berjalan ke ruang ganti dan mengganti pakaiannya. Setelah itu ia naik ke atas kasur, dan ikut terlelap di samping Naiki.


*********

__ADS_1


Jangan lupa vote author terus yaa... Thanks


__ADS_2