
Naiki tiba di kediamannya lewat dari pukul lima sore. Ternyata Darel sudah tiba lebih dahulu di sana dan sedang berenang di kolam renang belakang. Naiki masuk ke rumah dan mencari-cari keberadaan suaminya. Ia lalu menaruh tasnya di atas sofa ruang tamu lalu berjalan berkeliling mencari keberadaan Darel.
Saat tiba di halaman belakang, Darel yang sedang bersandar di pinggiran kolam pun melambaikan tangannya pada Naiki. Naiki lalu mendekati Darel.
"Ayo renang!" Ajak Darel. Naiki menjawab dengan gelengan kepala.
"Ok baiklah kalau begitu. Aku sebentar lagi akan selesai." Ucap Darel lalu berenang ke arah berlawanan.
Naiki hanya diam sambil terus menatap suaminya yang berenang di kolam. Karena melihat Naiki yang terlihat lebih dingin dari biasanya, Darel pun memutuskan untuk naik dan membalut tubuhnya dengan jubah mandi. Darel kemudian mendekati Naiki dan memeluknya dari belakang.
"Sayang...Kenapa kau diam saja? Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Darel.
"Hanya memikirkan rencana untuk menyingkirkan Brata dan Steffanie secepatnya." Jawab Naiki.
"Apa kau perlu bantuanku?" Tawar Darel kemudian.
"Mandilah terlebih dahulu, Sayang. Kau bisa sakit jika terlalu lama seperti itu." Ucap Naiki lembut.
"Kalau begitu, ayo kita mandi bersama!" Seru Darel sembari mengangkat tubuh Naiki dan membawanya masuk ke dalam rumah mereka.
"Aaaakh...pria mesum! Turunkan akuuuu!" Teriak Naiki sambil menendang-nendang kakinya.
"Sssttt...telingaku sakit, Sayang! Apa kau mau punya suami tuli?" Hardik Darel sambil terus melangkahkan kakinya.
"AKU TIDAK PEDULIIII! TURUNKAN AKUUUU!" Ucap Naiki sambil terus berteriak di telinga Darel.
*********
Sekali lagi, Naiki diterkam dengan ganas oleh pria yang tidak lain adalah suaminya itu. Hingga saat pergumulan mereka di kamar mandi selesai, dan mereka berdua sudah berpakaian, Naiki terus menatap sinis suaminya.
"Sayang, apa kau marah?" Bujuk Darel dari pinggir ranjang saat Naiki sedang mengeringkan rambutnya.
"Aku bantu, ya!" Ucap Darel lagi.
__ADS_1
Namun Naiki hanya diam dengan mata yang menatap tajam Darel melalui pantulan cermin di depannya. "Akh, aku rasa mau tidur saja habis ini." Batin Naiki dengan wajah lelahnya.
"Sayang, apa kau sakit?" Tanya Darel penuh perhatian.
Naiki tetap diam, tidak bersuara sedikit pun. Wajahnya terlihat lelah, membuat Darel menyesali perbuatannya. Darel lalu menghampiri Naiki dan berdiri di belakang tubuh istrinya itu. Ia lalu mengulurkan tangannya ke dahi Naiki, namun suhu dahinya terasa normal
"Kau pasti lelah, pulang kerja malah dikerjai lagi." Ucap Darel polos, namun menarik tangan Naiki untuk mencubit pinggangnya dengan keras. Darel menjerit kesakitan.
"Aw...aw...aw...ampun, Sayang! Apa salahku?" Seru Darel tidak mengerti.
"Hisssh...Kalau bukan suami, sudah aku hajar sampai cacat pasti." Sungut Naiki.
"Maaf, Sayang. Ya sudah, kau istirahatlah dulu di kasur. Makan malammu nanti akan aku antarkan ke kamar." Ucap Darel lalu mengecup kening Naiki dan membantu Naiki untuk beristirahat di ranjang mereka.
"Lalu, kau mau ke mana?" Naiki mencoba menahan Darel dengan menggenggam pergelangan tangan Darel dengan erat.
"Aku mau menyiapkan makan malam kita, Sayang."
"Kita beli saja nanti. Sekarang temani aku di sini." Celetuk Naiki sambil menepuk-nepuk kasur di sampingnya. Darel pun tersenyum dan ikut naik ke atas ranjang.
"Kenapa?" Tanya Darel sembari mengusap puncak kepala Naiki.
"Apa aku boleh meminta sesuatu padamu?" Tanya Naiki.
"Apa itu?"
"Aku mau mulai besok biarkan aku seorang diri. Tarik seluruh pengawal, baik itu yang dari Kakek, atau pun darimu." Pinta Naiki serius.
Alis Darel langsung bertaut. Ia lalu mengangkat dagu Naiki agar mata mereka terhubung satu sama lain.
"Jangan main-main, Sayang!" Protes Darel. "Aku atau pun Kakek tidak akan menyetujuinya. Terlebih lagi sekarang."
"Aku mohon, Sayang! Beberapa hari ini saja. Aku janji aku akan menjaga diriku baik-baik." Bujuk Naiki.
__ADS_1
Darel tetap menggeleng. Ia tidak ingin sesuatu terjadi pada istrinya. Terutama hal buruk yang dapat menyakiti Naiki. Bahkan saat ini seharusnya keamanan istrinya harus diperketat.
"Sayang, kau tahu, Brata selama ini tidak bergerak adalah karena ia tidak dapat melakukan apa pun padaku. Aku ingin menyelesaikan semuanya secepatnya, Sayang. Dan pastinya, dengan aku yang berpura-pura menjadi lemah tanpa ada pengawal di dekatku, Brata akan mempercepat pergerakannya." Ujar Naiki panjang lebar.
Darel tampak berpikir keras. Ia menatap wajah istrinya dengan lekat. Berusaha mengerti apa yang ada di jalan pikiran istrinya itu. Namun, juga berusaha mencari jalan keluar agar hal buruk tidak akan terjadi saat ia melepaskan Naiki tanpa pengawalan di sisinya.
"Ok, aku akan menyetujuinya, tapi dengan satu syarat." Ucap Darel akhirnya.
Naiki mengangguk dan sudah tidak sabar menunggu perkataan Darel kemudian. Ia akan segera menyetujui persyaratan yang diberikan Darel bila itu tidak menghalangi rencananya.
"Pakailah selalu GPS di tubuhmu setiap kau ingin keluar dari rumah. Satu lagi, izinkan aku membiarkan satu atau dua orang pengawalku untuk terus mengikutimu walaupun dari jauh." Ujar Darel.
Naiki memutar kedua bola matanya jengkel. Ia lalu tampak berpikir dengan persyaratan yang Darel berikan.
"Hhhmmm...ok baiklah, aku menyetujuinya." Jawab Naiki lugas.
**********
💙💙💙💙💙
Hai Guys....
Aku lupa ngopi lagi hari ini. 😔 Jadi terpaksa deh, ngetik dengan mata yang sudah sangat berat dan hasilnya, aku up kurang dari 1000 kata 😆😆
Hiiissshhh...Moga aja ngga banyak typo, yaa...
Buat yang udah baca, makasih yaa...
Buat yang udah vote, makasih banyak yaa...
Buat yang udah favoritin novel ini, makasih juga...
Buat yang udah like dan kasih bunga, kopi, dsb, thanks a lot guys...
__ADS_1
lope lope buat kalian semua 💙💙💙💙💙