Pewaris Asli

Pewaris Asli
66 Percobaan Pembunuhan Lagi


__ADS_3

Di sebuah villa di daerah pegunungan, tampak seorang gadis sedang duduk di teras belakang. Pemandangan di teras belakang villa itu sangat indah. Sangat cocok dengan tarif yang ditetapkan untuk menyewa villa itu dalam satu malam. Hamparan kebun teh berlatar pegunungan sangat memanjakan mata orang yang memandang. Gadis itu lalu meraih ponselnya, dan menghubungi seseorang.


"Bagaimana?" Tanya gadis itu pada seseorang di seberang sana.


"Maaf, Nona. Misi untuk kali ini gagal. Kami bahkan kehilangan tiga orang anggota kami saat itu."


"Maksudmu, dia belum mati?" Hentak Grace, gadis keras kepala yang bersembunyi di sebuah villa di daerah pegunungan itu.


"Benar, Nona. Hari ini kami akan mencoba cara lain dan mungkin ini akan sangat berbahaya untuk kami. Apakah kau bisa mentransferkan 25% dari total bayaran yang tersisa, Nona?" Pinta orang itu yang membuat Grace menjadi geram.


Melakukan transaksi dengan nominal besar sebanyak dua kali berturut-turut akan sangat mencurigakan baginya. Grace harus sangat berhati-hati dalam bertindak. Kalau tidak, bukan hanya nyawanya yang terancam, bahkan perusahaan keluarganya pun akan ikut terancam.


Grace berpikir cukup lama. Akhirnya ia pun menyetujui untuk mentransferkan uang kembali kepada Gang King Cobra itu. "Aku tidak yakin kau sekuat itu, Rhea. Aku pasti bisa melihatmu mati kali ini." Batin Grace.


**********


Beberapa hari setelah pengumuman perubahan pemegang saham terbesar Brata Corp, Brata terlihat masih menghabiskan waktunya seperti biasa sebagai Direktur Utama Brata Corp. Namun, emosinya sangat tidak terkontrol selama mengerjakan pekerjaannya. Ia terus menerus memarahai bawahannya dengan tidak jelas. Selalu mencari-cari kesalahan, walaupun sebenarnya karyawannya tidak melakukan kesalahan.


Begitu pun dengan Steffanie. Dia selalu menyempatkan diri untuk ke perusahaan, padahal putra dan putrinya sendiri sedang memerlukan perhatian yang lebih darinya. Ia selalu menemui Brata dan terlihat membicarakan sesuatu yang serius beberapa hari ini. Seperti pagi ini.


"Kau yakin dia terluka dan sedang dirawat di rumah sakit miliknya?" Tanya Brata pada Steffanie yang datang untuk memberi tahu info terkini tentang Rhea Caraka.


"Aku yakin, Kak. Apa kau tidak mendapat kabar kalau mobilnya diledakkan orang kemarin sore?" Tukas Steffanie.


"Ya, aku tahu itu. Tapi bukankah dia selamat?"


"Selamat, bukan berarti tidak terluka." Ucap Steffanie. "Apa kau tidak berniat mengambil kesempatan menyerangnya saat ini?" Pancing Steffanie sambil menuang teh ke dalam cangkirnya.


Brata hanya tersenyum miring. Ia lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa. Matanya menatap langit-langit ruang kerjanya seakan mencari jawaban dari kebingungannya.


"Dia dirawat di rumah sakit miliknya, Fanie. Bagaimana mungkin orang-orang kita dapat menembus keamanan di sana?" Ucap Brata. "Aku tidak akan mengambil risiko. Jika gagal, habislah kita." Imbuhnya.


Steffanie menghela nafasnya. Ia lalu meminum tehnya yg mulai dingin itu dan memikirkan perkataan Brata. "Mungkin ada benarnya", pikir Steffanie. Wanita berumur lima puluhan tahun itu pun pamit. Ia harus menjenguk putrinya yang belum sadarkan diri di rumah sakit dan melihat putranya yang saat ini sedang dirawat di sebuah rumah sakit jiwa.

__ADS_1


"Mengenai pembalasan untuk wanita angkuh itu, kita rencanakan kembali lain waktu." Ucap Brata sebelum Steffanie menutup pintu ruangannya. Steffanie menjawab Brata hanya dengan anggukan kepala saja.


***********


Matahari semakin tinggi. Semakin terik dan terasa menyengat di kulit. Namun ternyata Naiki masih berada di kamar rawat inapnya di rumah sakit. Ia direncanakan akan pulang sore nanti. Wanita itu duduk di ranjang sambil memainkan ponselnya. Ia terlihat bosan, karena tidak ada yang dapat dikerjakan dan Darel pun sedang pergi menemui rekan bisnisnya sekarang.


Ia merasa kesepian sekarang, tidak seperti tadi pagi yang terasa ramai karena banyak yang menjenguknya. Di antaranya ada kakek Caraka, kakek Gerandra, mama Vanya, Rhean, dan Elis tentunya. Mereka baru saja pergi, dan tinggallah Naiki seorang diri. Hanya ada dua orang pengawal yang berjaga di depan kamarnya saat ini yang tidak dapat diajak ngobrol oleh Naiki. Sebenarnya Elis ingin menemani Naiki di sana tadi, namun ditolak oleh Naiki dengan alasan ia akan segera pulang hari ini dan Darel akan segera kembali.


[Tuan Muda Gerandra, aku kesepian di sini. Apa tidak ada yang bisa aku kerjakan? Megang laptop pun aku tidak boleh 😤] Keluh Naiki di pesan teksnya.


[Sabar, Sayang. Beberapa jam lagi kau akan pulang. Kau tidak akan bosan lagi nanti karena ada teman bermain yang tampan sepertiku.]


Naiki hanya tersenyum membaca balasan dari suaminya itu. Namun tiba-tiba terdengar suara berisik dari depan kamar Naiki. Ia pun meletakkan ponselnya dan memasang telinganya baik-baik.


Naiki curiga telah terjadi sesuatu oleh kedua pengawal yang berjaga di depan kamarnya. Beberapa saat setelah suara berisik itu berhenti, Terdapat tiga orang berjalan masuk ke ruang rawat Naiki dengan menggunakan seragam dokter dan perawat. Satu di antaranya adalah wanita.


Naiki menatap ketiga orang itu dengan curiga. Ia tidak pernah melihat wajah dokter yang masuk barusan, karena rumah sakit itu adalah rumah sakitnya, dan ia mengingat dengan jelas setiap wajah dokter yang bertugas di rumah sakitnya itu. Dengan cepat Naiki pun mengetikkan pesan teks untuk suaminya.


[Help!]


"Selamat siang, Nyonya. Kami akan memberikan suntikan pereda nyeri kepada anda." Ucap dokter tersebut.


Naiki semakin curiga, karena tadi pagi sebelum infusnya dilepas, seorang perawat telah memberikannya beberapa suntikan di selang infusnya. Perawat itu mengatakan itu adalah injeksi terakhir yang Naiki terima hari itu. Naiki semakin menatap tajam ke arah tiga orang yang sedang menyiapkan suntikan untuknya.


Wanita yang Naiki curigai menyamar jadi perawat itu lalu berjalan mendekati Naiki dengan suntikan di tangannya.


"Menurutmu, di mana seharusnya saya disuntik?" Tanya Naiki.


"Di lengan saja, Nyonya." Sahut perawat itu.


Salah satu sudut bibir Naiki terangkat mendengar ucapan perawat itu. Dengan cepat ia menangkap tangan perawat itu kemudian memutarnya ke arah berlawan hingga terdengar suara 'KLEK' disertai jeritan sang perawat.


"AAAKKKHHH..." Jerit perawat itu yang langsung memancing dua orang pria di belakangnya untuk bertindak. Wanita itu lalu berguling-guling di lantai sambil memegang tangannya yang sakit.

__ADS_1


Naiki melempar selimut yang menghalangi setengah tubuhnya itu ke lantai. Dengan sigap kakinya menendang dada si dokter gadungan dan perawat gadungan secara bergantian. Saat kedua pria itu sudah mundur beberapa langkah, Naiki pun turun dari ranjang dengan pisau buah di tangan kanannya.


"Nyali kalian luar biasa ternyata." Ucap Naiki sambil berjalan mendekati kedua pria tadi.


"Untuk orang yang sudah mau mati, kau terlalu banyak bicara." Hina dokter gadungan.


"Cih, apa kau yakin aku yang bakal mati di sini?" Tukas Naiki. "Aku ingatkan, jaga mulutmu, bajing4n!" Hentak Naiki lalu menerjang dengan kuat ke kepala dokter gadungan.


Dokter palsu itu tersungkur ke lantai dengan darah yang menyembur dari mulutnya. Naiki beralih ke pria satu lagi yang berpura-pura menjadi perawat. Pria itu tampak masih kesakitan di ulu hatinya, namun masih berusaha untuk menyerang Naiki. Satu pukulan yang dilayangkannya kepada Naiki diblokir wanita itu dengan cepat.


Pria itu kembali menyerang beberapa kali, hingga akhirnya Naiki terpaksa menghujamkan pisau buah yang dipegangnya ke punggung tangan perawat palsu itu. Pria itu berteriak histeris menahan sakit di tangannya. Naiki lalu mencabut pisau itu, dan menghujamkannya kembali ke punggung tangan satu lagi. Pria itu kembali menjerit menahan sakit di tangannya. Ia pun terduduk lemas di lantai.


Saat Naiki beralih mendekati pria yang menyamar sebagai dokter, tiba-tiba Darel muncul dengan beberapa pengawal di belakangnya.


"Cukup, Sayang!" Cegah Darel.


Ia tahu, istrinya itu akan kembali menerjang ke arah dokter palsu yang sudah tidak berdaya di lantai kamar itu. Darel lalu meraih pisau di tangan Naiki dan menyerahkan kepada salah satu pengawal di sana. Ia lalu menarik tubuh Naiki yang mulai bergetar itu ke pelukannya.


"Tenang, Sayang. Kau sudah aman sekarang. Ada aku di sini." Ucap Darel menenangkan Naiki seperti biasanya.


Ia lalu membawa istrinya itu ke kamar mandi untuk membersihkan tangan dan tubuh istrinya yang terkena darah. Sementara itu, ketiga pelaku yang menyerang Naiki tadi langsung diamankan para pengawal. Tidak lupa mereka juga membawa sample suntikan yang akan pelaku itu suntikkan kepada Naiki. Petugas kebersihan pun dipanggil untuk membersihkan kamar Naiki dengan cepat. Setelah kamar itu selesai dibereskan, Darel pun kembali membawa Naiki ke ranjangnya.


"Istirahatlah. Aku akan menemanimu di sini." Bisik Darel sambil berbaring memeluk tubuh istrinya dengan erat.


*********


💙💙💙💙💙


Buat yang udah baca, makasih yaa...


Buat yang udah vote, makasih banyak yaa...


Buat yang udah favoritin novel ini, makasih juga...

__ADS_1


Buat yang udah like dan kasih bunga, kopi, dsb, thanks a lot guys...


lope lope buat kalian semua 💙💙💙💙💙


__ADS_2