Pewaris Asli

Pewaris Asli
45 Pengincar Istriku


__ADS_3

Mobil Darel melaju dengan kecepatan sedang. Beberapa menit di perjalanan, Naiki dan Darel hanya diam, tidak membahas apa pun. Namun, saat mereka sudah hampir tiba di rumah, Naiki bersuara.


"Bagaimana kalau setelah ini kita bermain dengan Sonya?" Ucap Naiki sambil menyeringai.


Darel yang sedang menyetir tersentak mendengar kalimat Naiki. Hampir saja ia menginjak pedal rem secara mendadak.


"Hah? Hmmm..." Ucap Darel terbata.


"Kenapa?" Tanya Naiki heran.


"Hmmm...sebenarnya...Sonya sudah aku beri pelajaran hari ini." Ujar Darel sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Alis Naiki naik satu mendengar perkataan Darel. Matanya mulai memicing. Banyak pertanyaan muncul di kepalanya saat ini.


"Apa yang kau lakukan padanya?" Tanya Naiki. Ekspresinya datar. Tidak tampak kemarahan, juga tidak tampak rasa senang di wajahnya.


"Aku hanya mengerjainya sedikit. Kau tahu, dia mencoba membunuh istriku kemarin." Sahut Darel yang masih tetap fokus ke jalanan.


Naiki memutar matanya jengkel. "Apakah istrimu sepenting itu bagimu?"


"Lebih dari penting." Jawab Darel tegas.


"Terus, kenapa Sonya ingin membunuhnya?"


"Karena istriku adalah wanita terbaik di dunia dan Sonya iri padanya." Sahut Darel dengan lugas.


Mobil Darel lalu memasuki pekarangan rumah mereka dan memarkirkannya di tempat biasa.


"Apa kau mencintai istrimu?" Tanya Naiki.


Darel menoleh ke arah Naiki yang hanya menatap lurus ke depan. Diam-diam ia tersenyum memandang wajah istrinya itu.


"Seharusnya dia tahu bagaimana perasaanku padanya." Sahut Darel sembari membuka pintu mobil dan bergegas memasuki rumah.


Naiki mengernyitkan dahinya. Heran dengan jawaban suaminya. Ia lalu keluar dari mobil dan menyusul Darel.


"Hei es batu, jadi bagaimana keadaan Sonya? Apa kau sudah ada kabar?" Tanya Naiki setengah berlari untuk menyusul langkah panjang Darel.

__ADS_1


Darel menghentikan langkah kakinya. "Apa kau sangat ingin tahu? Kau terlihat peduli padanya."


"Hiisssh... Aku hanya ingin tahu penderitaannya, apakah sudah sesuai standar atau belum. Itu saja." Ketus Naiki.


Darel malah tersenyum lalu mengacak-acak rambut Naiki dengan gemas. "Ayo ikut aku!" Ucap Darel kemudian.


Naiki pun mengikuti langkah Darel menuju ruang kerjanya. Setibanya di sana, Darel lalu berjalan menuju meja kerja, dan membuka laptopnya. Ia lalu membuka email dan mengunduh file laporan pengawal yang ia beri tugas untuk memberi pelajaran kepada Sonya.


"Baca dan lihatlah." Ucap Darel sambil memberikan laptopnya pada Naiki.


Naiki segera mengambil alih laptop Darel. Ia lalu membuka file tersebut, membacanya dengan teliti, dan melihat beberapa foto dan video di file tersebut. Mata Naiki membulat melihat Sonya yang begitu tersiksa di dalam video yang pengawal tersebut kirim. Naiki lalu menoleh ke arah Darel yang selalu memerhatikannya sejak tadi. Matanya seakan bertanya, "Apakah ini idemu?"


"Kenapa? Mau tahu itu ide siapa? Bukan aku. Aku hanya memberi perintah untuk mengerjai saja." Ucap Darel cuek.


"Es batu ini seolah-olah bisa membaca pikiranku." Batin Naiki.


Naiki lalu melanjutkan membaca laporan tersebut. Di laporan itu sudah dijelaskan tentang kronologis kejadian, dan bagaimana kondisi medis Sonya terakhir kali sebelum dirujuk ke rumah sakit.


Naiki menutup mulutnya tidak percaya. Sonya mendapatkan getahnya kali ini. Naiki pun puas, karena menurutnya ia dapat menghemat waktu dan tenaga karena tidak perlu mempermainkan Sonya lagi.


"Sangat puas." Sahut Naiki cepat. Ia lalu mengembalikan laptop Darel.


"Ah...aku lelah. Aku istirahat duluan ya, Tuan Muda." Ucap Naiki sambil meregangkan tubuhnya dengan mengangkat kedua tangannya ke atas. Ia lalu berjalan keluar dan menuju kamarnya.


"Hah, aku ditinggal tidur lagi malam ini." Rutuk Darel sambil menyandarkan tubuhnya di kursi putar.


********


Sementara itu di tempat lain, tampak Steffanie telah berhasil merujuk Sonya ke sebuah rumah sakit. Namun, ia juga tidak tahu, musibah apa yang akan dialami Sonya ke depannya. Sonya sempat sadarkan diri beberapa saat setelah tiba di rumah sakit, namun ia terus-terusan berteriak.


Sonya mengalami guncangan mental yang hebat. Tim medis rumah sakit akhirnya terpaksa untuk menyuntik Sonya dengan obat penenang. Sonya pun kembali ambruk, dan mendapatkan tindakan selanjutnya dari para medis.


Besar harapan Steffanie agar Sonya dapat sembuh seperti sedia kala. Namun, dokter pun sudah memberi tahu bahwa Sonya kemungkinan besar tidak dapat kembali seperti sebelumnya, karena terdapat beberapa jaringan yang rusak di sekitar tubuh Sonya, terutama kaki.


Steffanie hanya dapat menghela nafas kasar saat ini. Ditambah lagi dengan Niko dan Brata yang menghilang sedari sore tanpa ada kabar sedikit pun.


Steffanie terus berusaha menghubungi Niko, namun gagal. Ponsel Niko tak kunjung memberikan jawaban. Steffanie juga berusaha menghubungi Brata, tapi tetap saja tidak berhasil. Rasa benci di hati Steffanie pun seakan menjadi semakin kuat.

__ADS_1


Drrrtttt...


Tiba-tiba satu pesan masuk ke ponsel Steffanie. Steffanie pun segera membukanya.


"Aaahh..." Teriak Steffanie ketakutan. Dengan reflek ia melepaskan ponselnya.


Seorang perawat pun datang karena mendengar suara Steffanie. Ia lalu meminta agar Steffanie menjaga perilaku di rumah sakit karena sudah saatnya para pasien beristirahat. Steffanie mengangguk perlahan. Setelah perawat itu pergi, Steffanie kembali menatap layar ponselnya.


Ada foto Niko di sana. Kondisi Niko terekam jelas di foto-foto yang Steffanie lihat sekarang. Perlahan Steffanie menangis. Airmatanya tumpah. Ia tidak menyangka hari seperti ini tiba dan menghampirinya.


"Aku berjanji, aku akan membunuh anak sial itu." Rutuk Steffanie penuh benci.


*********


Darel merasa bosan dengan kegiatannya malam itu di ruang kerja. Hari sudah semakin larut. Ia lalu memutuskan untuk beristirahat dan kembali ke kamarnya.


"Hei kau, gadis dingin! Bisa-bisanya kau tidur begitu pulas setiap hari. Sedangkan aku tersiksa lahir dan batin di sini." Ucap Darel pelan.


Darel sekarang sudah berada di atas ranjang. Membaringkan tubuhnya menghadap Naiki yang tertidur lelap. Tangannya saat ini menopang kepalanya di atas tempat tidur. Darel lalu mengulurkan tangan satunya lagi untuk memainkan rambut Naiki yang terurai menutupi hampir separuh wajahnya.


"Kau bertanya apakah aku mencintai istriku?" Gumam Darel kemudian.


"Heh...Apa kau selama ini tidak merasakan cintaku?" Ledek Darel.


"Kau dengar ya, gadis es. Aku akan selalu mencintai istriku. Aku akan mengganti waktuku yang terbuang selama ini untuknya. Jika ada yang menyakitinya, aku akan segera menghabisinya. Termasuk mereka yang sudah mengincar istriku sejak lama." Ujar Darel.


Ia lalu menarik tubuh Naiki ke dalam pelukannya.


"Besok aku akan memberi kejutan untukmu." Lirih Darel sambil tersenyum. "Tapi, aku akan menagih hadiah untukku. Kau harus ingat itu."


Darel terus saja mengoceh hingga rasa kantuk menghampirinya. Ia tidak peduli Naiki tidak mendengarnya saat ini. Perlahan, Darel pun mulai terlelap tanpa tahu ada sepasang telinga yang telah mendengar semua perkataannya.


********


💙💙💙💙💙


Waaahhh...author ketiduran tadi 😆😆

__ADS_1


__ADS_2