
Darel hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah bar-bar istrinya. Sedangkan Rhean, malah ikut-ikutan bergaya bossy seperti adiknya.
"Kalian berdua ngapain?" Tanya Darel sambil melipat tangannya di dada dan berdiri di depan Naiki dan Rhean.
"Lagi main jadi CEO mendominasi, Tuan." Celetuk Naiki yang membuat Darel memicingkan matanya tajam.
Beberapa saat berlalu, akhirnya ART yang diminta Naiki mengeluarkan seluruh pakaian Brata muncul dengan membawa beberapa tas dan koper. Naiki mengangkat dagunya sedikit dan melirik ke arah barang-barang Brata.
"Cuma itu?" Tanya Naiki. ART itu pun mengangguk ketakutan.
"Barang-barang istrinya? Bukankah dia memiliki istri?" Tanya Naiki menyelidik.
"I-istri Tuan sudah lama meninggal, Nona." Sahut ART tersebut.
"Bagaimana dengan anaknya yang bernama Justin?" Tanya Naiki yang tanpa sadar membuat alis Darel bertaut menjadi satu.
"Tu-tuan Justin tidak tinggal di sini, Nona. Dia tinggal di rumah peninggalan ayah kandungnya." Jawab ART itu.
Naiki hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia meminta ART tersebut meletakkan barang-barang Brata di luar pagar dan menghubungi asistennya, Ivan.
"Panjul, kirim orang ke kediaman Brata sekarang untuk mengganti semua kunci dan gembok di rumah ini." Perintah Naiki setelah teleponnya tersambung. Setelah merasa Ivan mengerti dengan instruksinya, Naiki pun mematikan sambungan teleponnya.
Wanita dingin itu lalu menatap ke arah suaminya. Darel yang merasa ditatap istrinya, tergerak untuk bertanya.
"Ada apa? Apa aku begitu tampan?" Tanya Darel yang membuat Naiki menghembuskan nafas kasar.
"Sayang, maukah kau membantuku mengirim beberapa pengawal ke sini? Aku butuh mereka agar Brata tidak dapat masuk ke rumah ini lagi." Mohon Naiki dengan wajah memelasnya.
__ADS_1
"Ok baiklah." Jawab Darel singkat. Pria itu segera menghubungi Mike untuk meminta beberapa pengawal menjaga kediaman Brata yang sebenarnya adalah milik Naiki dan Rhean.
Naiki dan Rhean kemudian saling menatap. Mereka bingung akan melakukan apa selagi menunggu orang-orang itu untuk datang.
"Lalu, apalagi?" Tanya Rhean bingung.
"Apa kau tidak ingin melihat-lihat rumah ini, Kak?" Tanya Naiki.
Rhean menggeleng. Sebenarnya sulit untuk Rhean menginjakkan kaki di rumah itu. Karena yang Rhean ingat nyaris hanya kenangan pahit dan melukai hatinya saja. Rhean tidak ingin ketenangan jiwanya beberapa bulan terakhir menjadi terganggu karena ia kembali mengingat penyiksaan demi penyiksaan yang dialami Rhean kecil.
"Kalau begitu, Kakak tunggu saja di sini. Aku akan membawa suamiku berkeliling rumah ini." Ujar Naiki. Rhean pun mengangguk.
Naiki lalu menggandeng tangan Darel dan membawanya berkeliling rumah. Tempat pertama yang ingin ia lihat kembali adalah kamar tidurnya. Naiki membawa Darel menuju tangga dan menaikinya. Mereka berjalan hingga berhenti di sebuah pintu yang saling berhadapan yang terletak sedikit terpojok. Kedua pintu itu dipisahkan oleh sebuah wastafel dan cermin. Pintu di sebelah kiri adalah kamar Naiki, dan di sebelah kanan adalah kamar Rhean.
Naiki lalu membuka pintu sebelah kiri dan hanya berdiri di ambang pintu. Ia menatap kamar tidurnya sewaktu kecil, yang sudah ia tinggalkan kurang lebih dua puluh tahun. Barang-barang di kamar itu telah ditutupi oleh kain putih polos, menandakan bahwa tidak pernah ada yang menggunakan kamar itu selain dirinya dulu. Naiki lalu melangkah masuk dan menyibak beberapa lembar kain putih yang menutupi barang-barang di sana.
"Ini dulu kamarku. Dulu aku suka dibacakan dongeng sebelum tidur oleh mama. Kau lihat, tidak ada barang bewarna pink di kamar ini kan?" Ujar Naiki sambil tertawa kecil, namun Darel tahu, istrinya pasti sedang merindukan mamanya saat ini.
"Dulu, aku sering bermain di sini dengan Rhean. Kadang-kadang ada Sonya dan Nicko juga di sini. Tapi, tempat bermain ini otomatis berubah menjadi tempat penyiksaan bila mereka datang." Ucap Naiki menjelaskan.
Darel hanya mendengarkan. Tidak ada satu patah kata pun keluar dari mulutnya. Ia hanya ingin mendengarkan istrinya bercerita tentang masa kecilnya di rumah itu.
"Mereka bahkan pernah mengikatku dan meninggalkanku hingga malam di sini dengan dalih bermain polisi-polisian." Lanjut Naiki sambil tersenyum smirk.
Naiki lalu menuju halaman belakang. Naiki memindai halaman itu dengan matanya. Ia lalu berdiri di tengah halaman yang ditumbuhi rumput itu.
"Di sini, kau tahu Sayang, dulu di sini ada sebuah pohon nangka yang tumbuh. Di sinilah pria tua itu pernah menyiksa Rhean. Ia mengikat Rhean di pohon dan meninggalkan Rhean di sini tanpa makan siang." Cerita Naiki.
__ADS_1
"Lalu di sana!" Seru Naiki sambil menunjuk sebuah pohon jambu yang sudah ditebang dan menyisakan batang bagian bawah beserta akarnya saja. Darel pun mengikuti arah yang ditunjuk Naiki.
"Aku pernah diajak Sonya untuk memanjat ke atas pohon, lalu ia mendorongku hingga terjatuh dari atas pohon itu." Ucap Naiki datar.
"Lalu, apa kau terluka?" Darel akhirnya bersuara.
"Kepala dan punggungku sedikit sakit waktu itu. Selebihnya, aku baik-baik saja." Sahut Naiki. "Apa kau ingin tahu siksaan apa yang paling parah yang pernah aku dan Kak Rhean rasakan?" Imbuh Naiki. Darel pun mengangguk.
Naiki lalu meminta Darel untuk mengikutinya berjalan menuju kolam renang. Naiki pun berhenti tepat di pinggir kolam.
"Di sini. Waktu itu Mama sedang keluar kota untuk bisnis. Aku dan Kak Rhean berenang. Tapi tiba-tiba langit mendung. Saat kami hendak masuk ke dalam rumah, kami dihadang tiga orang pelayan berusia dewasa. Mereka melarang kami untuk masuk. Bahkan kami tidak diperbolehkan menginjak teras belakang dengan alasan, lantai akan kotor jika kami menginjaknya. Hujan turun sangat deras saat itu. Aku dan Kak Rhean menggigil dan kelaparan di bawah air hujan hingga malam hari dan kami pun pingsan. Saat terbangun, aku dan Kak Rhe sudah berada di sebuah rumah sakit dan dokter mengatakan, kami sudah tidak sadarkan diri selama satu minggu."
Perasaan Darel terluka hanya dengan mendengar cerita Naiki yang tidak seberapa banyak itu. Darel yakin, masih banyak penderitaan yang dialami istri dan kakak iparnya itu yang belum ia ketahui. Darel lalu mendekati Naiki yang terdiam dan menatap sendu ke arah lokasi ia dan Rhean berdiri memohon pada pelayan. Darel lalu merangkul Naiki dan menepuk pundak Naiki dengan perlahan.
"Masa lalumu di sini sangat menyedihkan, Sayang. Aku harap, masa depanmu akan semakin indah nantinya." Ucap Darel lalu memeluk istrinya dengan erat.
**********
💙💙💙💙💙
Aku up biar bisa nemenin kalian sahur... 🤠Selamat berpuasa yaa...
Buat yang udah baca, makasih yaa...
Buat yang udah vote, makasih banyak yaa...
Buat yang udah favoritin novel ini, makasih juga...
__ADS_1
Buat yang udah like dan kasih bunga, kopi, dsb, thanks a lot guys...
lope lope buat kalian semua 💙💙💙💙💙