
Hari beranjak malam. Naiki sudah siap dengan tampilannya sebagai Rhea Caraka. Naiki yang sebenarnya. Dia tampak cantik, bahkan dengan masker yang menutupi wajahnya. Rambutnya tergerai indah menjuntai di bahunya. Naiki selalu suka menggunakan sepatu yang tertutup. Agar ia tidak ragu jika harus menerjang seseorang dengan kakinya. Kali ini ia menggunakan dress berwarna putih tulang dan sepatu sneakers. Menurutnya, mengenakan sepatu sneakers memang yang ternyaman.
(Ini visual fashionnya aja, ya...)
Mata Darel terus mengikuti ke mana pun Naiki melangkah. Merias diri, mengambil tas, mengambil sepatu, mengenakan sepatu, semua diikuti bola mata Darel tanpa terlewat satu pun. Darel duduk di ranjang sedari tadi. Ia juga merengek-rengek ingin ikut sejak sore hari. Namun, Naiki menolaknya.
"Naiiii..." Rengek Darel.
"Tidak Darel. Kau terlalu mencolok." Sahut Naiki sambil mengikat tali sepatunya.
"Mencolok?" Tanya Darel bingung.
"He-em. Kau terlalu mencolok di kalangan pebisnis, sosialita, atau pun konglomerat-konglomerat lainnya. Apalagi wanita muda. Ck!" Sungut Naiki.
"Mengantar pun tidak boleh?" Darel benar-benar pantang menyerah.
"Iya, tidak boleh." Jawab Naiki sambil berjalan menuju pintu kamar.
"Hiiisssh..." Rutuk Darel.
"Aku pergi, ya!" Ucap Naiki lalu menghilang di balik pintu kamar.
Darel terpaku, memikirkan bagaimana cara agar dia dapat menyelinap masuk ke lokasi meeting Naiki tanpa diketahui istrinya itu. Ia lalu merogoh kantongnya, mengeluarkan ponsel.
"Eh, pengantin baru nelepon. Kenapa?" Sahut Antony di seberang.
"Apa kau sibuk malam ini?" Tanya Darel kemudian.
"Tidak. Aku berencana bertemu Jonathan di Cafe miliknya."
"Oh baguslah kalau begitu. Bagaimana kalau ganti tempat?" Saran Darel dengan senyuman licik di wajahnya.
"Ini malam minggu, Bro! Istri mana istri?" Ledek Antony.
Darel mencebik. "Banyak bertanya, membahayakan jiwa, paham?" Ancam Darel dingin.
Antony komat-kamit mengumpat Darel tanpa suara di seberang sana. Darel akhirnya memutuskan untuk menjemput pria blesteran itu di rumahnya dan bersama menuju lokasi meeting Naiki dan Brata.
********
Di sebuah private room Cafe yang biasa digunakan pebisnis untuk mengadakan pertemuan, tampak empat orang sudah menunggu perwakilan dari Caraka Corp di sana. Seorang pria paruh baya yang berpakaian formal dan masih terlihat gagah diumurnya yang sudah tidak muda sedang berdiskusi serius dengan seorang wanita yang tidak lain adalah Steffanie. Sedangkan dua orang lainnya adalah Justin dan Asisten Brata.
__ADS_1
Ruangan itu sangat luas. Terdapat satu set sofa yang letaknya sejajar dengan meja makan bulat berukuran besar. Satu sisi ruangan itu berdinding kaca, dan akan sangat indah bila malam hari tiba. Biaya sewa private room seluas itu tentu saja tidak murah, dan Naiki sengaja melakukannya. Ia ingin menunjukkan pada Brata, Caraka Corp bukanlah perusahaan biasa dan dia tidak bisa menekannya.
"Apa kau benar-benar yakin akan memberikan 30% pada mereka, Kak?" Tanya Steffanie entah untuk ke berapa kali. Penampilannya tidak se-glamour biasanya. Wajahnya terlihat lelah karena menjaga Sonya di rumah sakit. Pikirannya kalut, karena Niko menghilang sejak kemarin.
"Aku terpaksa, Steffanie. Lebih baik kehilangan 30% itu, daripada harus kehilangan semuanya." Ujar Brata.
"Tapi, itu sahamku dan anak-anakku, Kak." Celetuk Steffanie.
"DIAM!" Bentak Brata. "Aku sudah berbaik hati menyisakan 5% untukmu dan merelakan 5% saham milikku. Apa kau tidak juga berterima kasih?" Gertak Brata mendengus kesal.
Steffanie terdiam. Ia tidak berani berkata apa pun lagi. "Harusnya aku singkirkan saja dia dari dulu." Batin Steffanie.
"Tenanglah, Pa! Sebentar lagi mereka datang. Jangan biarkan kita terlihat ribut di hadapan mereka." Celetuk Justin. Brata pun diam. Begitu pun dengan Steffanie yang tidak ingin memperpanjang masalah lagi.
Beberapa saat kemudian terdengar suara pintu terbuka. Masuklah Ivan ke ruangan luas itu dengan langkah tegasnya. Ia berpakaian formal seperti biasanya. Terlihat tampan dengan setelan navy-nya itu. Ia lalu memberi salam kepada Brata.
"Selamat malam Tuan Brata." Ucap Ivan sembari menjabat tangan Brata. Sedangkan tangan satu lagi memegang koper kecil berisikan dokumen penting dengan kuat.
Brata pun menjabat tangan Ivan sembari tersenyum ramah. Brata sungguh lihai untuk mencari muka.
"Selamat malam Tuan Ivander. Apa kabar?" Sapa Brata seramah mungkin.
"Kabar saya luar biasa, Tuan." Sahut Ivan dengan senyum tipisnya. "Silahkan duduk." Ucap Ivan kemudian.
Ceklek...
"Wah...dia sangat cantik!" Gumam Justin dalam hati. "Apakah dia Nona Rhea pewaris Caraka Corp? Aku harus mendapatkannya dan melupakan Naiki yang miskin itu."
Naiki berjalan semakin dekat. Langkahnya sangat anggun. Walaupun ia hanya menggunakan sneakers, tapi tetap terlihat elegan di mata orang yang melihat. Ivan berdiri dan menyambutnya.
"Selamat malam Nona Rhea. Selamat datang." Sambut Ivan sambil menunduk hormat. Brata dan tiga orang lainnya juga ikut berdiri menyambut Naiki.
"Selamat malam semuanya." Sahut Naiki. "Apa kabar, Tuan Brata?" Sapa Naiki sambil menatap dingin ke arah Brata.
Brata tersentak. Entah mengapa, terasa seperti ada tekanan yang menekannya saat Naiki menatapnya tajam.
"Ba-baik, Nona Rhea. Senang bertemu dengan anda." Sahut Brata setengah terbata.
Brata tidak menyangka yang akan datang malam ini adalah Nona Rhea langsung. Padahal menurut informasi yang Brata terima, Nona Muda Caraka tidak pernah melakukan meeting tatap muka dengan kliennya seperti saat ini. Brata merasa tersanjung dibuatnya.
"Silahkan duduk!" Ucap Naiki kemudian.
Hati Naiki sebenarnya panas saat ini. Darahnya terasa mendidih saat melihat Brata dan Steffanie di hadapannya masih tampak kuat dan sehat. Namun ia berusaha sabar dan berusaha beracting sebaik mungkin.
"Perkenalkan Nona, ini Justin, Direktur Brata Corp dan ini Steffanie, Direktur Keuangan." Ucap Brata kemudian.
__ADS_1
Naiki hanya membalasnya dengan anggukan, bahkan tidak menoleh sedikit pun pada Steffanie atau pun Justin. Steffanie mendengus kesal.
"Cih...angkuh! Aku yakin, dia menyembunyikan wajahnya yang rusak di balik maskernya itu." Umpat Steffanie dalam hati.
"Dia bahkan tidak menoleh padaku." Batin Justin.
"Mari kita mulai." Perintah Naiki pada Ivan. Ivan pun mengangguk lalu mengeluarkan berkas-berkas dari dalam kopernya.
"Apakah Tuan sudah menyiapkan syarat-syarat yang sudah kami berikan tempo hari?" Tanya Ivan.
"Sudah saya siapkan. Anda bisa mengeceknya di sini, Nona Rhea." Ucap Brata sembari menyerahkan dokumen-dokumen yang diminta Ivan dan Rhea.
Naiki lalu membaca dengan teliti setiap dokumen yang Brata berikan. Termasuk surat serah terima saham sebesar 30% kepada Nona Rhea Caraka. Ia tidak ingin kecolongan, karena Brata terkenal memiliki tipu muslihat yang banyak.
Setelah kedua pihak merasa semua berkas sudah lengkap dan jelas, mereka pun melakukan tandatangan perjanjian kerjasama. Surat perjanjian kerjasama disiapkan oleh Ivan dengan point-point penting yang sangat jelas. Naiki puas dengan hasil kerja asistennya itu.
Di lain pihak, Brata merasa lega karena perusahaannya terselamatkan, tanpa tahu nasib 30% saham lainnya yang tersebar pada beberapa orang investor. Bodohnya Brata, ia tidak berpikir bahwa 30% saham tersebut dapat berpindah tangan dengan mudah ke tangan rekan bisnisnya itu. Yang ia tahu, para investor itu adalah orang-orang yang keras dan sulit untuk diajak negosiasi. Bahkan ia pun tidak pernah berhasil membujuk salah seorang dari mereka untuk menjual saham kepadanya.
Brata menandatangani surat perjanjian kerjasama itu dengan perasaan bahagia, dilanjutkan dengan Naiki dengan seringai di wajahnya. "Jackpot." Gumam Naiki dalam hati.
"Terima kasih atas kerjasamanya Nona Rhea, Tuan Ivan." Ucap Brata kemudian.
Ivan dan Naiki pun mengangguk. Ivan lalu membereskan berkas-berkas tersebut, dan menyimpannya kembali dengan rapi di koper kecilnya.
Naiki lalu berdiri dan pamit kepada Brata, begitupun dengan Ivan. Ia mengekori Nonanya dengan setia di belakang. Brata menghela nafas setelah kepergian Naiki dan Ivan.
"Ternyata benar, tidak ada pengawal di sisi mereka." Ucap Brata. "Tapi kenapa rencana kita gagal saat itu?" Tanya Brata sambil menoleh dan menatap tajam ke arah Steffanie.
"Aku tidak tahu, Kak." Sahut Steffanie sambil menunduk.
Tiba-tiba Asisten Brata terlonjak saat menerima sebuah email masuk di komputer tabletnya. Merasa tidak percaya, ia lalu mengecek website perusahaan, seperti yang dikatakan dalam email tersebut.
[Selengkapnya, klik di sini]
"Tu-Tuan..." Ucap asisten itu terbata.
"Ada apa? Apa ada masalah?" Tanya Brata tenang.
"I-ini Tuan." Asisten itu menyodorkan komputer tabletnya. "Nona Rhea Caraka adalah pemegang saham terbesar Brata Corp mulai malam ini."
Brata tersentak. Ia menggebrak pinggiran sofa di sampingnya.
"Dengan total saham 60%, Tuan." Ucap Asisten itu melanjutkan.
"APAAAA???"
__ADS_1
********
💙💙💙💙💙