Pewaris Asli

Pewaris Asli
71 Makan Siang Di Gerandra Corp


__ADS_3

Kabar kedatangan Nyonya muda Gerandra pun dengan cepat tersebar ke setiap divisi di perusahaan itu. Jadi, saat Naiki dan Darel keluar dari lift khusus dan melewati beberapa staff yang bekerja di lantai paling atas itu, semua mata tertuju pada mereka.


"Apa yang sebenarnya mereka pelototin? Apakah istri dinginku ini?" Gumam Darel dalam hati.


Darel lalu menghentikan langkahnya, membuat para staff tersebut menundukkan pandangan dan berpura-pura mengerjakan sesuatu. Darel tersenyum dingin melihat tingkah para karyawannya itu. Naiki yang sudah mengerti dengan gerak-gerik suaminya itu hanya memutar bola matanya malas.


"Dasar es batu posesif." Umpat Naiki dalam hati.


Semenjak perjalanan mereka berbulan madu ke Santorini, Naiki jadi lebih banyak paham dengan sifat suaminya itu. Ia bahkan bisa cemburu hanya dengan pelayan restoran atau pun turis yang lewat dan tidak sengaja menatap Naiki. Suaminya itu juga bersikap dingin pada siapa saja, kecuali pada dirinya dan keluarga. Kedua sikap itu berbeda seratus delapan puluh derajat dan bila orang lain mengetahuinya mungkin sudah berpikir bahwa Darel berkepribadian ganda.


"Hei, es batu! Kau tidak berencana untuk memarahi mereka hanya karena tidak sengaja menatap ke arahku, kan?" Bisik Naiki sambil sedikit berjinjit. "Apa kau mau membuat istrimu ini malu pada hari pertamanya berkunjung ke sini? Kalau memang begitu, malam ini kau tidur di kamar tamu saja." Ancam Naiki masih dengan berbisik.


Darel merasa tubuhnya merinding. Ada perasaan seperti sebuah aura gelap sedang menyelimutinya dari samping. Darel mengurungkan niatnya untuk menghukum para karyawannya tersebut. Ia lalu menoleh ke arah Naiki dan menunjukkan deretan giginya yang putih itu dengan kaku. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Darel langsung merangkul bahu Naiki dan membawanya masuk ke ruangannya.


"Kenapa kau terlalu mengerikan di mataku, Sayang?" Rengek Darel setibanya di ruang kerjanya.


Ia lalu menutup tirai di seluruh kaca ruang kerjanya yang mengarah ke koridor depan dengan menggunakan sebuah remote, dan kemudian memeluk tubuh Naiki dari belakang. Naiki yang sudah terbiasa dengan sikap manja suaminya itu hanya menghembuskan nafasnya jengah.


"Kau bahkan cemburu saat para karyawan itu menatapku?" Cetus Naiki.


"Tidak." Darel mencoba mengelak sambil membantu Naiki melepas coat yang dikenakannya dan menaruh coat itu di sebuah gantungan.


"Kau bahkan cemburu pada turis yang lewat dan berpikir dia sedang menatapku, padahal dia melihat ke arah lain." Sindir Naiki. Ia mengingat dengan jelas peristiwa memalukan yang terjadi di Oia, Santorini.


"Hehehe...Maaf, Sayang. Tapi bule itu benar-benar sedang menatap mesum ke arahmu."


"Tapi para karyawanmu tidak, Sayang..." Tukas Naiki.


"Ok baiklah. Aku tidak akan mengulanginya. Lagipula, aku juga belum sempat mengatakan apa pun tadi, kan?" Darel semakin berusaha membela dirinya, membuat Naiki lagi-lagi harus menghela nafas dengan kasar.


Naiki lalu mendekati Darel dan melingkarkan tangannya di leher suaminya itu. Darel hanya diam, tidak berkata apa pun. Naiki lalu berjinjit dan mengecup bibir suaminya, kemudian tersenyum.


"Bukankah yang paling penting adalah tatapanku yang selalu tertuju padamu? Bukan tatapan orang-orang padaku. Karena tatapan mereka tidak akan dapat mengubah arah tatapanku padamu. Paham?" Ucap Naiki sambil menatap mata suaminya.


Darel tersipu dan tersenyum mendengar perkataan istrinya itu. Ia lalu membalas kecupan Naiki dengan ciuman yang lembut dan menuntut. Naiki tersengal dibuatnya.


"Stop, Sayang! Kau tidak berencana melakukan itu di sini, kan?" Cegah Naiki yang langsung melepaskan tautan bibir mereka karena panik.

__ADS_1


Darel hanya tersenyum dan mengerlingkan matanya. Ia lalu menggendong Naiki seperti anak koala dan membawanya masuk ke ruang istirahat yang berada di ruang kerjanya itu.


"Kata siapa? Aku akan tetap melakukannya, tapi di sini." Ucap Darel sambil menutup rapat pintu dan menguncinya dari dalam.


"Ini hukuman karena kau sudah pintar menggodaku sekarang." Imbuh Darel dengan senyum menyeringai.


"Tapi bukankah kita mau makan siang?" Protes Naiki yang sudah dibaringkan Darel di ranjang.


"Maaf Sayang, sepertinya menu makan siangku ada di depan mataku sekarang." Sahut Darel lalu langsung ******* bibir Naiki sambil tangannya membuka satu per satu kancing kemeja yang Naiki gunakan.


Setelah selesai dengan pergumulan panas di dalam ruang istirahat, Darel dan Naiki merapikan kembali penampilan mereka dan keduanya keluar dari ruangan itu. Darel lalu meminta Berry untuk membelikan makan siang untuknya dan Naiki. Beberapa menit menunggu, makan siang Naiki dan Darel pun tiba. Mereka lalu menikmati makan siang mereka dengan Darel yang bertingkah manja minta disuapin istrinya.


"Ok, ini yang terakhir bayi besarku." Ucap Naiki sambil menyuapi Darel. "Habis, ya! Jangan minta lagi, ya!" Ucapnya lagi.


Darel terkikik geli mendengar perkataan istrinya dengan wajah tanpa ekspresi itu. Ia lalu membantu Naiki untuk membereskan sisa-sisa makan siang mereka lalu menelpon cleaning service untuk ke ruangannya.


"Sayang, apa kau mau mendengar sesuatu?" Tanya Naiki yang duduk di samping suaminya di sofa.


"Hhm, apa itu? Coba aku dengar." Ucap Darel.


Naiki lalu memutarkan rekaman percakapan Brata dan Steffanie yang berencana akan menculik orang terdekat Naiki.


Brata : "Apa maksudmu?"


Steffanie : "Lihatlah!"


.... .... ....


Brata : "Jadi Rhea Caraka adalah anak sial itu?"


Steffanie : "Benar. Bukankah dia sudah memancing kita dengan kemunculannya di kantor ini sebagai karyawan baru? Dia juga tidak mengubah namanya. Naiki Rhea adalah orang yang sama dengan Rhea Caraka."


Brata : "Tapi bagaimana bisa dia menyandang nama keluarga Caraka?"


Steffanie : "Orang-orangku tidak bisa mengorek informasi tentang keluarga itu, Kak."


Brata :"Lalu, apa yang harus kita lakukan selanjutnya?"

__ADS_1


Steffanie : "Aku sedang memikirkannya juga, Kak. Sangat sulit menyingkirkan wanita ini. Ada Tuan Muda Gerandra yang melindunginya."


Brata : "Sepertinya kita harus mengubah target kita."


Steffanie : "Maksudmu?"


Brata : "Cari tahu orang terdekatnya yang paling lemah yang bisa kita jadikan target. Culik dia, dan kita pancing anak sial itu menuruti kemauan kita. Kalau tidak, kita bunuh saja orang itu."


Naiki lalu mematikan rekaman suara tersebut dan menatap Darel serius. Mereka diam beberapa saat. Memikirkan siapa kira-kira yang bakal dijadikan target oleh Brata dan Steffanie.


"Jadi, apakah kau memikirkan sebuah nama?" Tanya Naiki serius.


Darel menggeleng, bukan karena tidak terlintas satu nama pun di pikirannya, melainkan terdapat dua nama.


"Maksudku bukan tidak ada, tapi menurutku ada dua nama yang berisiko tinggi." Ujar Darel.


"Siapa?" Tanya Naiki penasaran. Ia ingin mencocokkan pikirannya dan suaminya itu.


"Elis dan Sisi." Sebut Darel. Mata Naiki membulat.


Perkataan Darel memang benar. Dua orang terlemah yang selalu di sisinya adalah Elis dan Sisi. Elis yang terlalu santai dan merasa tidak pernah ada musuh jadi tidak pernah diawasi secara ketat, dan Sisi yang memang tidak ada kekuatan selain dua orang yang diperintahkan Naiki untuk mengawal Sisi dari jauh. Namun, siapakah di antara dua orang itu yang akan menjadi target nyata Brata dan Steffanie? Darel dan Naiki sepertinya harus memikirkannya dengan matang sebelum menyusun strategi untuk menggagalkan rencana Brata itu.


*********


💙💙💙💙💙


Ada yang mau bantuin aku ngga yaa... Kira-kira Sisi atau Elis nih yang bakal diincar si tua bangka Brata? 🤭🤭


Komen dong Guys...


Buat yang udah baca, makasih yaa...


Buat yang udah vote, makasih banyak yaa...


Buat yang udah favoritin novel ini, makasih juga...


Buat yang udah like dan kasih bunga, kopi, dsb, thanks a lot guys...

__ADS_1


lope lope buat kalian semua 💙💙💙💙💙


__ADS_2