Pewaris Asli

Pewaris Asli
70 Langkah Pertama Brata


__ADS_3

"Wanita tengik!" Umpat Brata, selepas Naiki pergi.


Dadanya terlihat naik turun karena menahan emosi yang meluap-luap. Ingin sekali rasanya Brata menyakiti Rhea Caraka tadi. Karena ada Ivan di sisi Rhea, Brata pun mengurungkan niatnya.


"Aku akan buat hidupmu tidak tenang mulai hari ini." Rutuk Bata.


Di tengah pikiran jahatnya yang menari-nari di otaknya, tiba-tiba Steffanie datang. Ia seperti terburu-buru dengan amplop coklat di tangannya.


"Kak, aku tahu dia siapa!" Ucap Steffanie sesaat setelah menerobos masuk.


"Apa maksudmu?" Tanya Brata.


Steffanie bergegas duduk di kursi depan meja kerja Brata. Ia lalu menyerahkan amplop coklat tadi kepada Brata.


"Lihatlah!" Ucap Steffanie.


Brata lalu membuka amplop coklat tersebut yang ternyata berisi beberapa lembar foto. Ia melihat satu per satu foto tersebut dengan kening berkerut.


"Jadi Rhea Caraka adalah anak sial itu?" Hentak Brata saat melihat foto-foto yang ternyata adalah foto Naiki.


Ia tidak menyangka telah dipermainkan seperti itu oleh putrinya sendiri. Putrinya yang hilang dan dianggapnya sudah tiada.


"Benar. Bukankah dia sudah memancing kita dengan kemunculannya di kantor ini sebagai karyawan baru? Dia juga tidak mengubah namanya. Naiki Rhea adalah orang yang sama dengan Rhea Caraka." Sahut Steffanie.


"Tapi bagaimana bisa dia menyandang nama keluarga Caraka?" Selidik Brata. Steffanie pun menggeleng.


"Orang-orangku tidak bisa mengorek informasi tentang keluarga itu, Kak." Jawab Steffanie lesu.


Brata terdiam. Ia memutar keras otaknya. Berusaha berpikir cara apa yang paling tepat untuk menyingkirkan Naiki. Ia juga penasaran, bagaimana bisa Naiki menyandang nama belakang "Caraka". Jika memang ada keluarga Caraka yang melindungi Naiki, entah kapan Brata berhasil menjatuhkan wanita itu. Terlebih lagi sekarang ada Darel di sampingnya. Brata hampir putus asa memikirkan hal itu.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan selanjutnya?" Tanya Brata.


"Aku sedang memikirkannya juga, Kak. Sangat sulit menyingkirkan wanita ini. Ada Tuan Muda Gerandra yang melindunginya." Ujar Steffanie.


"Sepertinya kita harus mengubah target kita." Tukas Brata.


"Maksudmu?" Tanya Steffanie bingung.


"Cari tahu orang terdekatnya yang paling lemah yang bisa kita jadikan target. Culik dia, dan kita pancing anak sial itu menuruti kemauan kita. Kalau tidak, kita bunuh saja orang itu." Ucap Brata dengan nada penuh ambisi.


Steffanie menganggukkan kepala tanda mengerti. Ia lalu kembali ke ruangannya dan langsung melaksanakan perintah Brata. Ia lalu menghubungi orang yang selama ini memata-matai Naiki dari kejauhan. Memerintahkan padanya agar mengorek informasi tentang orang terdekat Naiki, seperti yang diperintahkan oleh Brata.

__ADS_1


"Kami pasti menemukan kelemahanmu, anak sial!" Umpat Steffanie.


*********


Setelah Naiki keluar dari Brata Corp, Darel menelponnya dan mengajaknya untuk makan siang bersama. Maka dari itu saat ini Naiki sedang dalam perjalanan menuju Gerandra Corp.


Dalam perjalanan itu, Naiki tersenyum dingin sambil sesekali tertawa kecil mendengar percakapan Brata dan Steffanie dari ponselnya. Ia tidak menyangka Brata dan Steffanie masih berusaha untuk menghilangkan nyawanya. Untung saja Naiki sudah menaruh alat perekam mini di ruangan Brata. Jadi dia dapat mengatur strategi untuk merusak rencana Brata dan Steffanie itu.


"Ambisius sekali Pak tua ini." Ucap Naiki sambil terus menyetir mobilnya. "Ck! Akhirnya sadar juga mereka siapa aku sebenarnya."


Beberapa menit kemudian, mobil Naiki tiba di Gerandra Corp. Ia lalu turun dari mobilnya tanpa menggunakan masker, dan berjalan dengan anggun di dalam perusahaan suaminya itu. Naiki lalu berhenti di meja resepsionis.


"Permisi." Ucap Naiki.


"Ada yang bisa dibantu, Nona?" Tanya salah seorang karyawan di bagian resepsionis. Naiki tersenyum tipis ke arah karyawan yang bertanya.


"Saya ingin bertemu Tuan Darel. Apakah Tuan Darel sudah selesai meeting?" Ucap Naiki.


"Saya akan menghubungi Asisten Tuan Darel terlebih dahulu, Nona. Silahkan menunggu di ruang tunggu sebelah sini. Nanti saya akan mengabari anda kembali." Sahut resepsionis itu. Naiki hanya tersenyum dan mengangguk.


Entah apa yang Naiki rencanakan. Padahal, ia bisa saja langsung naik ke atas dan menuju ruang kerja suaminya itu. Tapi apa yang dilakukannya sekarang? Ia seperti ingin bermain-main sebentar di sana.


Naiki lalu memasuki ruang tunggu yang dimaksud. Yang secara kebetulan hanya dirinya yang menunggu di sana. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Ternyata Darel meneleponnya.


"Apa yang kau lakukan di sana, Sayang? Cepatlah kemari!" Seru Darel. Ia tidak sengaja mengecek CCTV dan menangkap sosok istrinya sudah berada di lobby saat itu.


"Sabar, Sayang. Aku sedikit bosan. Aku ingin bermain-main sebentar dengan karyawanmu di sini." Sahut Naiki.


"Hiiiisssh...Apa yang ingin kau lakukan pada mereka?" Tanya Darel.


"Tenang saja, aku tidak akan menyakiti mereka." Tukas Naiki. "Apa belum ada yang memberitahumu perihal kedatanganku?" Tanya Naiki.


"Belum." Sahut Darel singkat. Naiki pun tersenyum. "Ya sudah, kalau sudah selesai bermainnya, lekaslah ke atas. Aku juga ingin bermain denganmu." Ucap Darel sekenanya.


"Ya ya ya...baiklah." Naiki lalu mematikan panggilannya.


Sepuluh menit berlalu, karyawan tadi tidak kunjung muncul ke hadapan Naiki. Naiki lalu berjalan dengan langkah pelan dan tanpa suara hingga ke ambang pintu. Ia pun dapat mendengar percakapan dua orang karyawan di meja resepsionis.


"Kau yakin, tidak apa membiarkan Nona itu menunggu tanpa kabar seperti itu?" Tanya seorang resepsionis yang berbicara dengan Naiki sebelumnya.


"Kau tenang saja. Paling juga dia bakal ditolak Tuan Darel. Jadi, percuma saja kita menghubungi Tuan Berry di atas. Kau tidak lihat? Dia tampak sangat menantikan pertemuan dengan Tuan Darel yang tampan dan rupawan itu. Dia pasti sama saja seperti wanita-wanita lain yang berusaha mendekati Tuan Darel." Oceh seorang resepsionis lagi.

__ADS_1


Naiki menyeringai mendengar perkataan para resepsionis itu. Ia lalu sengaja memberi kode akan kehadirannya diketahui mereka dengan berpura-pura batuk.


"Ehem..."


Kedua resepsionis itu pun menjadi salah tingkah. Mereka berusaha tersenyum walaupun terasa canggung. Naiki lalu berjalan mendekat ke meja resepsionis.


"Jadi, kenapa kalau saya sangat menantikan bertemu dengan CEO kalian?" Tanya Naiki dengan aura mengintimidasi.


"Ma-maaf, Nona. Tuan Darel selalu menolak bertemu wanita selama ini. Jadi kemungkinan...." Kalimat wanita itu menggantung karena tiba-tiba Darel muncul di hadapan mereka.


"Kemungkinan apa?" Tanya Darel dingin.


"Kemungkinan Nona ini juga akan ditolak oleh Tuan." Lirih wanita itu sambil menunduk.


"Kalian perhatikan baik-baik wajahnya. Semua wanita yang ingin bertemu dengan saya secara pribadi segera kalian tolak, kecuali wanita ini, karena dia adalah istriku. Paham?" Perintah Darel dengan wajah dinginnya.


Kedua karyawan itu langsung mengangguk pelan. Mereka tidak menyangka, ternyata CEO mereka sudah menikah. Naiki pun tersenyum. Ia lalu mendekati Darel dan meraih tangan Darel, lalu menautkan jari jemari mereka berdua.


"Sudahlah, ayo kita ke atas." Ucap Naiki. "Kalian lanjutlah bekerja. Maaf sudah mengusili kalian tadi." Ujar Naiki lalu bergegas menarik tangan Darel menuju lift.


"Nafasku... Oh tidak, jantungku." Seru kedua resepsionis tadi bergantian. Mereka langsung terduduk karena kaki mereka mendadak terasa lemas.


"Apa tadi itu raja dan ratu es?"


"Mereka benar-benar pasangan yang menyeramkan. Aura macam apa yang keluar tadi? Apa kau merasakannya? Jantungku terasa berhenti berdetak."


"Iya, aku juga. Aku akan mengingat wajah Nyonya Gerandra dengan baik mulai sekarang."


Kedua resepsionis itu saling mengingatkan satu sama lain. Mereka juga mengingatkan karyawan lainnya agar tidak sembarangan lagi apabila ada wanita yang datang mencari CEO mereka. Mulai saat itu mereka kembali menjalankan pekerjaan sesuai aturan. Mereka berjanji akan selalu mengabari Asisten Berry bila ada tamu yang mencari CEO mereka.


*********


💙💙💙💙💙


Buat yang udah baca, makasih yaa...


Buat yang udah vote, makasih banyak yaa...


Buat yang udah favoritin novel ini, makasih juga...


Buat yang udah like dan kasih bunga, kopi, dsb, thanks a lot guys...

__ADS_1


lope lope buat kalian semua 💙💙💙💙💙


__ADS_2