
"Sayang, jangan lupa, mulai hari ini aku tidak mau lihat ada yang membuntutiku lebih dari dua orang. Ok?" Ucap Naiki sebelum menginjak pedal gas mobilnya untuk berangkat ke kantor.
Darel hanya mengerucutkan bibirnya, merasa tidak senang bila istrinya tidak di bawah pengawasan penuhnya.
"Iya iyaaaa... Hati-hati, Sayang! Jangan lupa GPS yang aku berikan tadi malam." Ucap Darel sambil melambaikan tangannya.
Hari ini, Naiki berangkat lebih pagi dari biasanya. Ia juga menolak untuk di antar oleh Darel. Entah bagaimana jalan pikiran Naiki. Ia seakan sedang memancing bahaya untuk mendapatkan mangsa yang memuaskannya.
Beberapa menit melewati jalanan kota, Naiki akhirnya tiba di perusahaannya. Pagi ini ia selamat sampai tujuannya. Naiki pun keluar dari mobilnya dan memberikan kunci mobilnya kepada petugas seperti biasa agar memarkirkan mobilnya di parkiran.
Hari ini kali pertama Naiki memasuki gedung pencakar langit itu tanpa menutupi wajahnya dengan apa pun itu. Ia melangkah dengan anggun, di antara karyawan-karyawan yang mulai berdatangan walau pun belum terlalu banyak. Para staff keamanan juga telah menyambutnya seperti biasa. Ada karyawan yang sudah menebak bahwa Naiki adalah CEO mereka, namun ada juga karyawan yang menatap dengan ekspresi tidak percaya. Karena memang hari ini adalah hari pertama bagi sebagian karyawan dapat melihat wajah cantiknya.
Naiki terus berjalan tanpa senyuman sedikit pun di wajahnya, namun tetap memukau di mata orang yang melihatnya. Kemunculan Naiki sehari sebelumnya di meeting perusahaan itu bahkan menarik perhatian perusahaan-perusahaan lain yang penasaran dengan dirinya. Hingga saat Naiki tiba di ruangannya, Ivan dan Sisi pun langsung menyambutnya dengan beberapa daftar petinggi perusahaan lain yang ingin bertemu dengannya.
"Bila tidak ada hubungannya dengan kerjasama perusahaan, tolak saja semuanya!" Perintah Naiki pada Ivan dan Sisi.
"Beberapa dari mereka ada yang ingin bertemu untuk membicarakan kerjasama perusahaan mereka pada kita, Nona." Tukas Ivan.
"Ya sudah, kau saja yang menemui mereka. Aku tetap tidak berminat." Jawab Naiki lugas.
Ivan dan Sisi pun saling tatap, yang akhirnya membuat Sisi menahan tawanya karena melihat ekspresi Ivan yang merasa menjadi korban pagi itu. Sisi lalu memberikan jadwal Naiki untuk hari itu. Ternyata, Naiki harus berkunjung ke beberapa anak perusahaan Caraka.
"Benar-benar merepotkan. Harusnya aku tidak usah ke kantor saja hari ini." Ucap Naiki sambil memijat pelipisnya. "Bagaimana kalau aku berkunjung ke satu perusahaan saja? Sisanya undur ke hari lain, atau batalkan saja." Perintah Naiki.
__ADS_1
"Jadi, anda mau berkunjung ke mana hari ini, Nona?" Tanya Ivan.
"Ke rumah sakit saja. Kebetulan ada seseorang yang ingin aku jenguk." Ucap Naiki.
Ivan dan Sisi pun kembali ke meja masing-masing untuk mempersiapkan keberangkatan Naiki ke Rumah Sakit milik Caraka Corp. Untuk perjalanan Dinas nya menuju beberapa anak perusahaan, Naiki memutuskan agar Ivan yang menemaninya, bukan Sisi. Ia ingin, Sisi tetap berada di kantor seperti biasa agar tidak terlihat terlalu mencolok jika terus bersamanya.
Waktu mulai menunjukkan pukul 10.00 pagi, saatnya Naiki keluar bersama Ivan untuk menuju ke rumah sakit. Naiki sangat tertarik mengunjungi rumah sakit tersebut karena ia mendapat kabar bahwa Sonya dirawat di sana sejak beberapa hari yang laulu. Jadi, Naiki berinisiatif untuk melihat keadaannya secara langsung.
Tidak banyak yang tahu jika Caraka Corp juga memiliki rumah sakit. Hal itulah yang membuat Steffanie tanpa ragu memindahkan putrinya ke rumah sakit tersebut, karena ia memang benar-benar tidak tahu kalau rumah sakit tersebut juga dimiliki oleh Naiki.
Pukul 10.30 wib, Naiki dan Ivan akhirnya tiba di rumah sakit besar itu. Mereka disambut dengan hangat oleh para petinggi rumah sakit. Naiki pun diajak masuk ke sebuah ruang meeting untuk membahas tentang kinerja rumah sakit. Banyak sekali yang mereka bahas, salah satunya adalah rencana untuk memperbarui seluruh peralatan medis yang ada dengan yang lebih canggih lagi.
Setelah selesai melakukan tugasnya di sana, Naiki akhirnya pamit. Ia berpisah dengan Ivan yang masih mengobrol dengan beberapa pejabat rumah sakit tersebut. Naiki lalu pergi meninggalkan ruang meeting, namun bukan untuk kembali ke perusahaan, tetapi Naiki berbelok ke ruang rawat dan mencari ruang rawat Sonya yang ternyata sudah dipindahkan ke ruang rawat biasa.
"Oh, dia sudah sadar ternyata." Batin Naiki sambil terus berjalan menuju ruang rawat Sonya.
"Ibu, kau kah itu?" Lirih Sonya dari atas brankarnya.
Naiki tidak menjawab, ia terus melangkah pelan melewati lorong kecil sebelum memasuki ruangan sebenarnya. Ia lalu berjalan menuju brankar Sonya. Wanita yang terbaring lemah dan belum menyadari Naiki telah berdiri di samping brankarnya.
"Nyawamu ternyata sama banyaknya dengan kucing ya, Sepupuku." Ucap Naiki, yang berhasil membuat Sonya tersentak dan ketakutan.
"Pe-per-gi! Ja-jangan de-dekati aku!" Ucap Sonya terbata. "PERGIIIII!!!!" Teriak Sonya tiba-tiba sambil memegangi kepalanya dan menarik rambutnya.
__ADS_1
Naiki hanya diam tanpa ekspresi. Ia terus menatap dingin Sonya yang terus saja bertingkah seperti wanita gila. Naiki memerhatikannya dengan seksama. Ia lalu meraih ponsel di sakunya dan menelepon Ivan untuk meminta agar dokter yang bertanggungjawab atas Sonya dapat meneleponnya sekarang juga.
Tidak sampai lima menit setelah Naiki menutup teleponnya pada Ivan, ada seseorang yang meneleponnya dengan nomor tidak dikenal. Dengan cepat Naiki pun menerima panggilan itu. Sang dokter lalu menjelaskan bahwa kondisi fisik Sonya semakin hari memang semakin membaik, hanya saja karena peristiwa yang pernah ia alami, disertai kelumpuhan yang ia derita, membuat mentalnya sedikit terganggu. Menurut diagnosa, Sonya membutuhkan konsultasi psikiater agar ia dapat menjalani hidup normal.
"Ok baiklah, Dokter. Terima kasih atas penjelasannya." Ucap Naiki, lalu memutuskan panggilan teleponnya.
Naiki lalu menyimpan kembali ponselnya. Ia lalu mendekati brankar Sonya dan membisikkan sesuatu ke telinga Sonya, saat Sonya duduk sambil menutup telinganya di atas brankar itu.
"Kau terlalu lemah, Sonya! Aku bahkan belum puas bermain denganmu. Bagaimana kalau lain kali kita bermain lagi?" Bisik Naiki dengan seringai liciknya.
**********
💙💙💙💙💙
Hai guys... hari minggu nih, aku up lho... Jangan lupa yaa, besok senin! 😉
(reviewnya lama banget! ampe senin. padahal up nya hr minggu.)
Buat yang udah baca, makasih yaa...
Buat yang udah vote, makasih banyak yaa...
Buat yang udah favoritin novel ini, makasih juga...
__ADS_1
Buat yang udah like dan kasih bunga, kopi, dsb, thanks a lot guys...
lope lope buat kalian semua 💙💙💙💙💙