Pewaris Asli

Pewaris Asli
50 Siapa Kau?


__ADS_3

"Apa maksudnya?" Teriak Brata menggelegar di seluruh ruangan.


Steffanie ikut kesal mendengar kabar itu. Bukankah itu artinya Brata Corp sudah ganti pemilik? Pikirnya. Brata langsung memerintahkan asistennya untuk menghubungi orang kepercayaannya di luar. Ia sengaja menyuruh orang-orangnya itu menunggu di luar untuk mengatasi kemungkinan terburuk yang akan terjadi.


Brata yakin Nona Rhea dan Ivan belum beranjak dari cafe mewah tersebut. "Suruh mereka hadang dua orang itu. Aku ingin meminta penjelasan." Perintah Brata.


Justin yang mendengar, langsung bergegas pergi keluar, menyusul asisten Brata yang berlari sambil menelepon bawahan Brata yang berada di luar. Justin berharap ia dapat melakukan sesuatu yang menarik perhatian Nona Rhea Caraka atau pun Brata dengan kemampuan menjilatnya.


Sementara itu, Naiki dan Ivan berjalan dengan santai menuju pintu keluar Cafe. Mereka melewati lorong yang terdapat pintu-pintu yang berjajar rapi. Itu adalah lorong menuju private room dengan beberapa tingkatan.


"Panjul, kita berpisah di sini. Kau pergilah lewat pintu lain." Perintah Naiki.


"Baik, Nona. Tapi, apakah tidak apa? Sepertinya mereka sudah mengetahuinya dan pasti mulai bergerak sekarang." Sahut Ivan. Ia ingat beberapa waktu lalu, ia telah mengatur hacker perusahaan untuk menerobos website Brata Corp dan memposting berita saham terbaru di sana.


Naiki tetap berjalan dengan tenang. "Tidak apa. Percayalah padaku."


"Kalau begitu saya pamit, Nona." Ucap Ivan lalu pergi ke arah lain, menuju pintu darurat.


Naiki kembali melanjutkan langkahnya. Ia berjalan dengan tenang menuju pintu keluar. Saat ia baru saja melangkah satu langkah dari pintu, tiba-tiba ia dihadang beberapa orang bertubuh besar dan mencurigakan. Naiki menatap tajam ke arah orang-orang itu yang berjarak lima meter dari tempatnya berdiri. Ia lalu menuruni tiga buah anak tangga yang terdapat di depan pintu keluar cafe.


"Nona, bos kami ingin bicara denganmu. Menurutlah selagi kami masih bicara baik-baik." Ucap salah satu dari mereka yang terlihat seperti pemimpin dari rombongan itu.


Naiki menyeringai di balik maskernya. Ia tidak menyangka Brata akan menahannya pulang dengan menggunakan orang-orang ini. Dari kejauhan tampak beberapa pengawal bayangan Naiki telah bersiap dengan posisi siaga tanpa diketahui orang lain.


"Ok baiklah. Aku akan menunggunya di sini." Ucap Naiki tenang.


Sementara itu, di area parkir Cafe tampak Darel, Antony, dan Jonathan baru tiba dan hendak turun dari mobil. Melihat sosok istrinya berada di depan pintu masuk cafe, Darel mengurungkan niatnya, dan menahan kedua temannya untuk tetap berada di dalam mobil.


"Kenapa? Aku mau turun, Manusia Es!" Sungut Antony tanpa melihat situasi.


"Sssttt...Kau tidak lihat di sana ada siapa?" Celetuk Jonathan.


Mata Antony membulat. Dia berpikir Naiki sedang dalam masalah karena ada beberapa pria bertubuh kekar dan menyeramkan yang menghadangnya.


"Hei, kenapa kau diam saja? Istrimu dalam bahaya, Kunyuk!" Hardik Antony.

__ADS_1


"Diamlah, bule KW! Yang dalam bahaya itu mereka, bukan istriku." Ketus Darel sambil terus menatap ke arah Naiki di luar sana. Antony dan Jonathan pun saling pandang. Merasa aneh dengan perkataan Darel.


"Suami macam apa Kunyuk ini." Umpat Antony dalam hati.


Beberapa saat kemudian tampaklah sosok Justin dan Asisten Brata muncul dari balik pintu Cafe.


"Maaf, Nona. Tuan Brata ingin bicara pada Anda. Terima kasih karena sudah bersedia menunggu." Ucap Justin seramah mungkin dan berjalan mendekat ke arah Naiki yang menatapnya datar.


Justin semakin mendekat dan seperti mengatakan sesuatu dengan lirih. "Aku bisa menolongmu malam ini, tapi dengan satu syarat, makan malam lah denganku besok, Nona."


Mata Naiki memicing. Ada perasaan jijik di hatinya saat ini. Tangannya lalu mengepal dengan kuat. Begitu pun dengan Darel, hatinya panas melihat pria lain berdiri kurang dari satu meter dari istrinya.


"Brengsek!" Umpat Darel sambil memukul setir mobil. Tangannya menegang dan mengepal dengan kuat.


Antony dan Jonathan semakin bingung dengan situasi di depan mereka. Mereka merasa seperti sedang menguntit istri teman yang sedang selingkuh saat ini. Ingin bertanya, mereka sudah tahu jawaban apa yang akan keluar dari mulut pria dingin itu. 'Banyak bertanya, akan menemui bahaya.'


"Apa aku terlihat seperti wanita yang membutuhkan bantuan?" Tanya Naiki dingin tanpa melihat Justin.


"Percayalah, kau akan menyesalinya jika tidak menerima tawaranku sekarang. Sebentar lagi pria tua itu akan muncul. Aku bisa menipu orang-orang itu dan membawamu pergi sekarang. Tapi sepertinya hanya tersisa beberapa detik saja lagi." Celoteh Justin panjang lebar. Urat malunya benar-benar sudah putus.


Justin mencoba meraih tangan Naiki. Tapi Naiki menghindar. Justin tidak menyerah. Dia lalu mengincar tangan Naiki yang lain. Namun dengan cepat Naiki mencengkeram tangan Justin dan memelintirnya ke belakang.


Bugh...


Satu tendangan Naiki mendarat di punggung pria itu hingga ia pun tersungkur dan meringis kesakitan.


"Aku peringatkan, jangan coba-coba memprovokasiku, bajing4n!" Ucap Naiki sambil sedikit menunduk ke arah Justin.


Tidak ada pergerakan dari bawahan-bawahan Brata yang terlihat menyeramkan itu. Mereka merasa tidak berkewajiban untuk melindungi Justin, anak tiri dari Tuan mereka.


"Bro, dia benar Nona Rhea Caraka?" Tanya Antony. Mulutnya terbuka melihat aksi Naiki di sana. Begitupun dengan Jonathan.


"Sudah kubilang, yang di posisi berbahaya itu mereka, bukan istriku." Ucap Darel sambil memutar bola matanya.


"Bolehkah aku ngefans dengannya?" Ucap Antony sambil terus menatap Naiki di ujung sana.

__ADS_1


Plaaakkkk...


Satu pukulan mendarat di belakang kepala Antony. "Dasar bodoh!" Ledek Jonathan kemudian. Ia lalu memberi kode pada Antony untuk menutup mulutnya rapat sebelum manusia es itu mengamuk. Antony pun diam.


Di kejauhan, tampak Brata dan Steffanie melangkah keluar dari Cafe sesaat setelah Justin tersungkur ke aspal. Naiki menoleh, dan menunggu pergerakan dari Brata atau pun Steffanie.


Prok prok prok...


Brata bertepuk tangan pelan sebanyak tiga kali sambil tersenyum sinis pada Naiki. Sedangkan Justin, diam-diam beringsut menjauh dari sana.


"Kau memang luar biasa, Nona Rhea." Ucap Brata dengan tatapan sinis.


"Terima kasih pujiannya, Tuan." Sahut Naiki tanpa ekspresi.


"Kau bahkan bisa merebut Brata Corp dariku. Siapa kau sebenarnya?" Selidik Brata dengan penuh penekanan. Ia mulai menuruni anak tangga dan mendekati Naiki.


"Aku? Bukankah kau sudah tahu?" Sahut Naiki sambil membenarkan pakaiannya yang dirasa kurang rapi setelah mengerjai Justin tadi.


Brata geram. Emosinya seakan mau meledak. Rahangnya mengeras. Urat-urat di lehernya bermunculan. Ia lalu mendekat dan menerkam rahang Naiki.


"Katakan kau siapa, atau kau akan menyesalinya nanti." Ancam Brata sambil terus menekan rahang Naiki dengan jari-jarinya yang kuat.


Naiki hanya tersenyum sinis di balik maskernya.


"JAWAB!!!" Teriak Brata.


Naiki mulai meringis kesakitan karena Brata menguatkan cengkeramannya. Ia mencoba melepaskan tangan Brata dari rahangnya, namun gagal. Naiki lalu menghantam leher Brata dengan tangannya dengan sangat keras hingga cengkeraman itu melemah. Sekejap kemudian Naiki menghantam pelipis Brata dengan sikunya. Brata pun terhuyung beberapa langkah ke belakang.


"Aaaarrrghhh..." Rintih Brata sambil memegangi kepalanya.


"Kau tidak akan bisa melukaiku, Pak Tua Bodoh." Hina Naiki sambil memegangi rahangnya yang masih terasa sakit. "Ah, brengsek! Ini sakit sekali." Batin Naiki.


Melihat majikan mereka terluka, beberapa pria bertubuh besar itu langsung bergerak ingin menyerang Naiki. Beberapa lagi membuat sebuah benteng agar Naiki tidak bisa kabur dari tempat itu.


"Kalian yakin ingin menyerangku di tempat umum seperti ini?" Ucap Naiki. "Apa kau sudah bosan hidup, Brata?" Naiki beralih ke Brata yang masih meringis kesakitan. Ia lalu berjalan mendekati Brata. "Atau....aku harus memanggilmu PA-PA?"

__ADS_1


***********


💙💙💙💙💙


__ADS_2