
Hari yang ditunggu Naiki pun tiba. Sejak pagi ia sudah berangkat menuju kediaman Caraka. Sedangkan Darel, harus menghadiri meeting terlebih dahulu di perusahaannya hingga siang nanti.
"Aku akan menyusulmu nanti." Ujar Darel tadi pagi sebelum berangkat ke kantornya.
Karena masih pagi, Naiki berniat untuk olahraga sebentar di ruangan gym pribadi miliknya di kediaman itu. Naiki pun bergegas ke kamarnya dan mengganti bajunya menjadi baju olahraga.
Baru lima belas menit berolahraga, Elis tiba-tiba menerobos masuk mencari Naiki. Wajahnya terlihat pucat, karena memang Elis sedang mengalami morning sickness yang lumayan parah saat ini.
"Manusia salju! Apa kau benar-benar sudah sehat sekarang?" Teriak Elis mengagetkan Naiki.
Naiki pun menghentikan aktifitasnya dan mengelap keringatnya dengan handuk kecil. Ia lalu duduk di lantai yang berlapis karpet di ruangan itu untuk beristirahat. Elis pun menyusulnya dan duduk di samping Naiki.
"Kau benar-benar sudah sehat, Nai?" Tanya Elis kembali.
"Iiii-yaaaa..." Sahut Naiki penuh penekanan.
"Hiishhh...." Sungut Elis. "Terus, kenapa tidak datang padaku untuk memulai terapi lagi?"
"Kau sendiri, bukankah sedang tidak fit?" Ucap Naiki balik bertanya.
Elis hanya menghembuskan nafasnya tanpa berkata apa pun. Ia memang sering merasakan mual ditrimester pertama kehamilannya ini. Usia kandungannya sekarang sudah masuk lima minggu. Masih terlalu rentan apabila dipaksa beraktifitas terlalu berat. Hal inilah yang menjadi alasan Naiki untuk menunda pengobatannya lagi.
"Apa Kak Rhe sudah cerita padamu masalah mata-mata pak tua itu, El?" Tanya Naiki.
Elis pun menoleh ke arah Naiki. Ia tahu, adik iparnya itu pasti sangat khawatir dengan orang-orang di sekitarnya. Termasuk dirinya sendiri. Elis pun mengangguk.
"Tidak usah khawatir, Nai. Akhir-akhir ini aku jarang keluar rumah. Kalau pun terpaksa keluar, aku akan membawa beberapa pengawal di sampingku." Ujar Elis.
"Ok baiklah. Aku percaya padamu. Hubungi aku cepat jika dalam bahaya. Kau harus membawa GPS ke mana pun kau pergi, Elis." Ucap Naiki serius.
"Dasar lebay!" Ejek Elis yang langsung berdiri dan pergi meninggalkan Naiki di ruang gym itu.
**********
Menjelang sore hari, Naiki masih fokus pada laptopnya. Seperti biasa, ia akan menyelesaikan pekerjaannya apabila memiliki waktu senggang seperti saat ini. Naiki juga mengecek keamanan apartment yang sudah mulai ditempati Sisi dari kemarin malam.
Saat sedang serius menatap laptopnya, Darel tiba-tiba datang dan memeluknya dari belakang.
"Daaareeeellll..." Pekik Naiki. "Kenapa tidak ketuk pintu sebelum masuk?" Protesnya.
__ADS_1
"Kenapa aku harus mengetuk pintu dahulu sebelum masuk kamarku dan istriku sendiri?" Ucap Darel sambil menggosok-gosokkan wajahnya di pipi Naiki.
"Hiiish..."
"Kau tidak lupa makan siang kan, Sayang?" Tanya Darel yang sudah melepaskan pelukannya dan berbaring di karpet yang sama dengan Naiki.
"Hhmmm." Sahut Naiki malas.
"Hei, aku serius. Bagaimana kalau ada calon anakku di dalam sana? Dia pasti kelaparan karena mamanya lupa makan." Oceh Darel yang berakhir dilempar bantal kecil oleh Naiki.
Tok tok tok...
"Permisi, Nona. Tamu yang anda tunggu baru saja tiba." Ucap Wilson, kepala pelayan di kediaman itu.
"Ok, Paman. Aku akan segera turun." Sahut Naiki. Ia lalu membereskan laptopnya dan menarik tangan Darel untuk ikut ke bawah menemui Wisnu.
Naiki setengah berlari menuju ruang tamu kediaman itu. Langkahnya pun terhenti saat ia sudah melihat sosok pria paruh baya yang benar-benar adalah Wisnu. Seorang pria yang terakhir ketemu dengannya 15 tahun yang lalu. Naiki terpaku, ingatannya kembali ke beberapa tahun yang lalu. Ia mencoba mengingat bagaimana sosok Wisnu ketika terakhir ia lihat saat itu.
"Paman Wisnu?" Lirih Naiki dengan mata berkaca-kaca.
Jujur, Naiki sangat merindukan sosok Wisnu. Orang kepercayaan mamanya yang selalu membantunya selama ini. Orang yang juga membawanya dan Rhean kepada kakek Caraka saat itu. Seorang pria yang setia tidak hanya pada Alya, namun juga pada anak-anak Alya.
"Aku baik-baik saja, Paman. Masuk dan duduklah." Ucap Naiki.
Wisnu pun masuk bersama pria yang tampak seperti orang kepercayaannya. Pria itu membawa sebuah koper kecil di tangannya.
"Paman, kenalkan ini suamiku." Ucap Naiki.
Darel pun berdiri dan menjabat tangan Wisnu yang duduk di sofa di seberang mereka. Wisnu tersenyum ramah.
"Tuan Muda Gerandra, kau sudah dewasa sekarang." Ucap Wisnu.
Darel dan Naiki tersentak. Tidak percaya bahwa Wisnu mengetahui latar belakang Darel yang belum menyebutkan namanya.
"Apa kabar Nyonya Vanya?" Tanya Wisnu.
Darel dan Naiki pun paham, mengapa Wisnu bisa mengenali Darel dengan baik, bahkan seolah ia sudah pernah bertemu dengan Darel sejak kecil. Vanya dan Alya adalah sahabat karib. Mereka selalu bersama sejak kecil hingga dewasa. Bahkan Alya masih sering diam-diam bertemu dengan Vanya saat ia sudah menikah dengan Brata. Dan Wisnu selalu di sisi Alya saat itu.
Setelah beberapa saat bercengkrama, Tuan besar Caraka pun hadir. Ia tahu dari Naiki bahwa Wisnu, orang kepercayaan putrinya akan berkunjung ke kediamannya. Wisnu yang melihat kedatangan Tuan Besar Caraka langsung berdiri dari duduknya.
"Selamat sore, Tuan. Bagaimana kabarmu?" Sapa Wisnu dengan rasa hormat yang tinggi.
__ADS_1
Kakek Caraka pun tersenyum dan menjawab sapaan Wisnu dengan sangat ramah. Ia lalu duduk di sofa tunggal kemudian mempersilahkan Wisnu untuk duduk kembali.
"Sudah lima belas tahun saya tidak datang mengunjungimu dan Nona kecil, Tuan. Maafkan saya." Ucap Wisnu dengan ekspresi sendu.
"Tidak apa, Wisnu. Aku mengerti. Kau pasti memiliki alasan sendiri." Ujar Kakek Caraka.
"Kedatangan saya kali ini untuk menyeritakan semua apa yang sudah terjadi pada putrimu, Tuan Caraka. Termasuk menyerahkan titipan Nyonya Alya untuk anak-anaknya." Ucap Wisnu.
Air mata Naiki sudah tidak terbendung lagi. Terlebih saat mendengar kalimat Wisnu bahwa kedatangannya adalah untuk menyerahkan titipan mamanya. 'Apakah mama benar-benar sudah meninggal?' Pikir Naiki. Darel yang melihat istrinya menangis pun langsung merangkul tubuh istrinya dan menepuk-nepuk bahu Naiki lembut.
Wisnu pun memulai ceritanya saat ia kembali dari kediaman Caraka setelah mengantar Naiki dan Rhean ke sana atas perintah dari Alya. Hari sudah semakin larut. Namun, Wisnu yang merasa khawatir pada Alya, kemudian kembali ke panti untuk menemui Nyonya-nya tersebut.
Wisnu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar dia sempat bertemu dengan Alya, sebelum Alya dibawa pergi oleh para pengawal Brata. Setelah satu jam perjalanan, Wisnu pun tiba kembali di panti asuhan itu. Ia bergegas berlari masuk ke dalam panti yang sudah tampak sepi karena hari telah larut. Ia pun mencari petugas panti dan menanyakan keberadaan Alya. Ternyata ia terlambat, Alya telah dibawa paksa oleh orang-orang Brata untuk kembali ke kediaman Brata.
Berhari-hari Wisnu mencoba menghubungi Alya, namun nomor Alya tidak pernah aktif. Ia lalu berusaha menyusup masuk ke dalam kediaman itu dengan cara menyamar sebagai petugas cuci AC dan Wisnu pun akhirnya dapat bertemu dengan Alya.
Pada saat itulah akhirnya Wisnu mendapat ide untuk membawa Alya keluar dari kediaman tersebut. Mereka berdua lalu menyusun rencana untuk kabur pada saat Brata perjalanan dinas ke luar kota. Tepatnya tiga hari setelah Wisnu datang sebagai petugas cuci AC.
Di sela ceritanya, Wisnu mengatakan, "Keadaan Nonya saat itu sangat mengkhawatirkan. Wajah dan tubuhnya banyak terdapat luka lebam. Namun semangatnya untuk berkumpul kembali dengan anak-anaknya masih sangat tinggi."
"Mama pasti sangat menderita, Paman." Lirih Naiki.
"Benar." Ucap Wisnu.
"Lalu, bagaimana cara Paman menyusup untuk kedua kalinya ke sana?" Tanya Naiki Penasaran.
***********
💙💙💙💙💙
Cerita Wisnu lanjut next chapter yaa...😉
Buat yang udah baca, makasih yaa...
Buat yang udah vote, makasih banyak yaa...
Buat yang udah favoritin novel ini, makasih juga...
Buat yang udah like dan kasih bunga, kopi, dsb, thanks a lot guys...
lope lope buat kalian semua 💙💙💙💙💙
__ADS_1