Pewaris Asli

Pewaris Asli
36 Steffanie dan Sonya


__ADS_3

Sementara itu di kediaman Steffanie.


"Ibuuuuu..." Teriak Sonya saat tiba di rumahnya.


Ia berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya karena masih merasa kesal dengan kejadian tadi sore di kantor. Ia mencari Steffanie hampir ke seluruh ruangan dan akhirnya ia bertemu Steffanie di dapur.


"AAAAAHHH...." Pekik Sonya. "I-ibu, apa yang ibu lakukan?" Sonya bergidik ngeri karena melihat Steffanie sudah dalam kondisi kotor dan menggenggam pisau di tangannya.


Dapur mereka juga tampak berantakan. Noda darah dari ikan dan daging terciprat ke wajah Steffanie, pakaiannya, maupun tembok dan lantai dapur. Tomat yang hancur karena dicincang sembarangan juga tampak berserakan. Raut wajahnya tampak berbeda. Matanya memerah, nafasnya menderu kasar seperti akan mencabik-cabik seseorang.


"I-ibu... Ada apa denganmu?" Tanya Sonya ketakutan.


Steffanie tidak menghiraukan Sonya. Ia masih saja terus mencincang-cincang ikan segar yang baru saja ia beli tadi sore. Bau amis pun menyeruak ke hidung Sonya.


"Ibu...hentikan! Itu menjijikkan, Ibu." Seru Sonya. Ingin sekali ia menarik pisau di tangan Steffanie, namun rasa takut lebih dominan di hatinya saat ini.


Sonya mencari asisten rumah tangga di rumah itu, namun tidak terlihat satu pun dari mereka. Ia lalu pergi mengambil tasnya yang ia lemparkan sembarangan saat tiba tadi. Sonya kemudian meraih ponselnya di dalam tas. Cepat ia mencari kontak Niko dan menelepon kakaknya itu.


"Kakak, cepat pulang. Ibu terlihat aneh. Dia melakukan hal-hal mengerikan. Aku tidak **tah**u harus bagaimana." Ucap Sonya saat panggilannya sudah tersambung.


"Kau suntikkan saja obat penenang yang ada di laci meja rias ibu. Aku tidak bisa pulang sekarang. Ini sangat tanggung." Ucap Niko di seberang sana.


"Hei, pria gila! Apa yang sedang kau lakukan sekarang?" Teriak Sonya emosi. Ia mendengar ada suara wanita di sebelah Niko. Niko tidak menjawab, ia hanya tertawa lalu memutuskan sambungan telepon Sonya.


"BRENGSEK!" Umpat Sonya.


Ia lalu berlari menuju kamar Steffanie, mencari obat yang dimaksud Niko. Ada beberapa macam obat penenang di sana. Baik yang berupa tablet maupun suntikan. Sonya sendiri tidak tahu sejak kapan ibunya mulai mengonsumsi obat-obatan seperti itu. Yang ia tahu, baru kali ini ibunya benar-benar di luar kendali seperti saat ini.


Sonya lalu bergegas berlari menuju ke dapur. Ia lalu menyuntikkan obat penenang yang diambilnya tadi ke otot lengan ibunya. Ia sebenarnya tidak tahu seberapa banyak dosis obat itu dan disuntikkan ke tubuh bagian mana. Sonya hanya mengira-ngira dan berharap tidak akan berdampak buruk pada ibunya.


Beberapa saat kemudian, tubuh Steffanie menjadi lemas, pisau di tangannya terlepas, dan brukkkk... Tubuh Steffanie ambruk ke lantai. Sonya kembali panik. Ia lalu berusaha menopang tubuh Steffanie dan membawanya ke kamar.


Setelah menaruh tubuh Steffanie di kasur dan membersihkannya, Sonya kembali ke kamarnya dan membersihkan diri. Tidak lupa ia menelepon salah satu asisten rumah tangganya yang ternyata diminta Steffanie pergi dan tidak diperbolehkan kembali hingga pukul 09.00 malam. Sonya lalu meminta asisten rumah tangga mereka kembali secepatnya dan membersihkan kekacauan yang telah diperbuat Steffanie.

__ADS_1


Beberapa menit berlalu, Sonya sudah selesai membersihkan diri. Ia lalu kembali ke kamar Steffanie, ingin mengecek keadaan ibunya itu. Sonya berjalan mendekati ranjang. Ia lalu duduk di pinggir ranjang, di samping tubuh Steffanie.


"Ibu, apa yang telah terjadi sebenarnya?" Lirih Sonya. "Apa yang sudah mengganggu pikiranmu hari ini?"


Sonya merasa sedih melihat kondisi ibunya saat ini. Namun ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia berharap ibunya akan kembali normal setelah bangun nanti.


Hari mulai larut. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 malam. Steffanie akhirnya sadar. Sepertinya emosinya sudah kembali normal. Ia melihat Sonya tertidur di sebelahnya.


"Sonya." Panggil Steffanie. Sonya terbangun. "Kenapa kau tidur di sini?" Tanya Steffanie.


Sonya merasa senang melihat ibunya sudah kembali normal. Ia lalu memeluk tubuh Steffanie.


"Apa kau baik-baik saja, Ibu? Aku sangat takut melihatmu seperti tadi." Ucap Sonya.


"Aku baik-baik saja." Sahut Steffanie. Ia sadar dengan apa yang telah ia lakukan. Namun, ia tidak tahu bagaimana dirinya bisa sampai di kamar seperti saat ini.


"Apa yang sudah terjadi, Ibu?" Tanya Sonya penasaran.


"Oh, bukan apa-apa. Mana Niko?" Jawab Steffanie. Menurutnya, belum waktunya Sonya tahu masalah perusahaan.


"Dia pasti sedang berbuat yang tidak-tidak. Dasar anak brengsek. Dia ternyata menuruni sifat ayahnya yang bejat." Geram Steffanie.


Suami Steffanie sudah lama meninggal secara misterius. Tidak ada yang tahu penyebab kematiannya, kecuali Steffanie. Ia menutup kasus kematian suaminya dengan rapat. Entah apa yang sudah ia perbuat pada suaminya itu.


Sebelum kematian suaminya, mereka sempat ribut masalah orang ketiga, keempat, dan kelima dalam rumah tangga mereka. Steffanie merasa sakit hati karena dikhianati. Beberapa hari setelah perdebatan mereka, suami Steffanie ditemukan tewas di dalam kamar mandi. Steffanie selaku keluarga saat itu menolak bila suaminya harus diautopsi. Entah bagaimana, kasus tewasnya suami Steffanie pun dianggap selesai, tanpa ada satu orang pun yang menjadi tersangka, termasuk Steffanie.


"Maksud ibu apa?" Tanya Sonya.


"Hari ini ada seseorang yang mengirimkan video tidak pantas kakakmu dengan beberapa wanita." Sahut Steffanie geram. Ingin sekali rasanya ia menyingkirkan anak kandungnya itu.


Sonya hanya diam. Dia sudah tidak terkejut bila hal ini terjadi. Karena ia juga tahu bagaimana kelakuan bejat kakaknya itu. Ia juga mengerti jika ibunya sangat membenci pria tipe ini karena pengalaman pribadinya dahulu.


"Sudahlah, Bu. Lebih baik ibu istirahat sekarang. Jangan terlalu banyak pikiran." Ucap Sonya akhirnya.

__ADS_1


"Sebenarnya ada satu masalah lagi, Sonya. Ini menyangkut perusahaan." Ucap Steffanie.


"Ada apa, Bu?" Tanya Sonya penasaran.


"Sepertinya kau harus merelakan saham milikmu, Sonya."


Sonya terbelalak mendengar perkataan ibunya. "Kenapa?"


"Karena pihak Caraka menginginkan 30% saham Brata Corp sebagai syarat kerjasama mereka pada kita." Ujar Steffanie. "Ibu hanya memiliki 20% saham saat ini. Tidak mungkin ibu memberikan semuanya. Selain saham milikmu dan Niko, Ibu juga akan meminta pamanmu merelakan sebagian sahamnya juga."


Sonya tertegun mendengar perkataan ibunya. Ia sebenarnya tidak rela jika sahamnya yang hanya 5% itu diserahkan kepada Caraka Corp. Namun, ia tahu posisinya. Dan ia juga sangat tahu kepribadian pamannya. Jadi, Sonya merasa ia tidak memiliki pilihan lain kecuali merelakan sahamnya itu.


"Baiklah ibu. Aku akan merelakan sahamku." Ucap Sonya lirih. Steffanie langsung tersenyum mendengar perkataan Sonya.


"Tapi dengan satu syarat." Ucap Sonya kemudian.


"Apa itu?"


"Bantu aku menyingkirkan wanita bernama Naiki Rhea." Ucap Sonya.


Steffanie mengernyitkan dahinya. "Kenapa dengan wanita itu?"


"Aku seperti melihat ponakan sial ibu jika melihatnya. Entah kenapa aku sangat tidak menyukainya. Dia juga terlalu banyak menarik perhatian orang-orang, terutama lelaki. Aku benci itu." Celoteh Sonya.


Steffanie menganggukkan kepalanya. "Ok baiklah, serahkan pada ibu. Wanita itu akan segera kita bereskan. Kau tenang saja."


Sonya tersenyum sumringah mendengar perkataan ibunya. Ia tahu, ibunya akan selalu mendukungnya dan membuat ia merasa lebih baik. Sonya lalu memeluk tubuh ibunya dengan erat.


"Terima kasih ibu."


***********


💙💙💙💙💙

__ADS_1


Yang mau lihat perkembangan hubungan Naiki dan Darel, baca terus yaa...


makasih buat yang udah baca dan like...


__ADS_2