
Naiki beringsut ke sudut kasur besar itu dan bersandar di sandaran ranjang. Matanya lalu beralih ke pakaiannya yang belum terkancing sempurna.
"Jangan bergerak! Diam di sana!" Naiki memberi peringatan pada Darel.
Darel hanya tersenyum menahan tawa melihat kelakuan istrinya. Ia duduk dengan santai di tengah kasur sambil terus menatap istrinya dan sesekali terkikik geli. Naiki lalu mengancing piyamanya dengan cepat. Matanya lalu beralih ke bagian bawah tubuhnya. Seketika Naiki terbelalak melihatnya.
"Kau bahkan memakaikanku celana?" Jerit Naiki kemudian.
"Seperti yang kau lihat. Hehehe..." Kekeh Darel sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Tapi aku menutup mataku. Aku tidak mengintip. Sungguh!"
Naiki mendelik kesal. Dari ekspresinya, sepertinya Naiki menolak untuk percaya pada ucapan Darel.
"Ayolah....Sayang! Aku tidak bohong. Aku hanya melihat sedikit sewaktu mengancingkan piyamamu. Se-dikit." Ucap Darel penuh penekanan di akhir.
Darel lalu menunduk dan memainkan jari telunjuknya di atas kasur. "Lagian, kita kan sudah halal, Sayang." Lirihnya dengan wajah menggemaskan.
Naiki termangu melihat tingkah Darel. Ia tidak menyangka pria yang biasanya dingin di depan orang lain, tapi malah bertingkah menggemaskan seperti ini di depannya. "Ah, aku salah. Kenapa aku harus marah, ya? Toh dia juga suamiku. Dia berhak atas diriku." Batin Naiki.
Naiki menghembuskan nafasnya kasar. Ia lalu merentangkan kedua tangannya dan memanggil Darel yang masih menunduk.
"Ssst....sini!" Ucap Naiki.
Darel pun menoleh. Matanya berbinar melihat Naiki merentangkan kedua tangannya. Ia pun lekas menggeser tubuhnya dan mengambur ke pelukan Naiki.
"Maaf ya, aku lupa kita ini suami istri." Ucap Naiki seenaknya.
Kening Darel mengernyit mendengar perkataan Naiki. "Hiiisssh..." Desis Darel sedikit kesal.
Mendengar keluhan Darel, Naiki langsung tertawa. Ia lalu hendak melepas pelukannya, namun Darel menolak dengan terus mengeratkan pelukannya pada Naiki.
"Sebentar lagi, please!" Lirih Darel lalu memejamkan matanya, wangi tubuh Naiki seolah memberi kenyamanan di dirinya.
"Ok baiklah." Ucap Naiki pasrah.
Keduanya kemudian sama-sama diam. Kamar pun menjadi hening. Hembusan nafas Darel yang hangat menyapu tengkuk Naiki. Suara detak jantungnya juga terdengar sangat jelas di telinga Nyonya muda itu.
"Terima kasih untuk hari ini." Lirih Naiki, memecah keheningan.
"Hhhmmm..." Darel hanya merespon dengan deheman.
__ADS_1
"Kau pasti mau tanda terima kasih, kan?" Tebak Naiki.
Mata Darel langsung terbuka, ia lalu melepaskan pelukannya dan menatap Naiki dengan penasaran.
"Apa ada hadiah untukku?" Tanya Darel penuh harap.
Cuupp...
Dengan berani Naiki mengecup bibir Darel. Hanya kecupan ringan dan sekilas, namun sudah membuat hati Darel berbunga-bunga. Wajahnya pun merona.
"Kau menggodaku, Sayang?" Ucap Darel dengan mata yang memicing ke arah Naiki.
"Apaan? Aku hanya mengucapkan terima kasih saja. Kenapa? Tidak suka?" Cebik Naiki sambil membuang muka ke arah lain.
Darel tersenyum, kemudian menarik tengkuk Naiki. Mendekatkan wajah Naiki ke wajahnya hingga bibir mereka bertemu. Darel lalu mencium bibir istrinya dengan lembut dan melepaskannya sejenak.
"Aku akan mengajarimu caranya." Lirih Darel lalu langsung ******* bibir ranum Naiki kembali.
Bibir mereka saling bertaut dan saling bertukar saliva. Nafas Darel mulai menderu. Ia semakin berg4irah ketika Naiki membalas sesapannya. Hasr4tnya mulai membuncah. Nafas Naiki pun mulai tersengal. Darel lalu melepaskan tautan bibirnya. Naiki buru-buru menarik oksigen sebanyak-banyaknya. Darel tersenyum melihat tingkah istrinya itu.
Melihat Naiki masih berusaha bernafas normal, ia lalu beralih menciumi bagian wajah Naiki yang lain. Darel lalu turun ke leher jenjang Naiki. Menyapu leher istrinya dengan deru nafasnya yang hangat. Naiki menggeliat.
"Bolehkah?" Darel bertanya sambil menatap mata Naiki dalam.
Mata Naiki membulat sambil memerhatikan bahasa tubuh suaminya itu. Ia langsung mengerti keinginan Darel. Naiki merasa Darel sudah tidak dapat menahannya. Tampak dari sorot mata dan nafasnya yang mulai menderu. Ia pun mengangguk pelan. Darel tersenyum menerima persetujuan Naiki.
Ia lalu mengecup kening Naiki, turun ke hidung, lalu menyesap bibir Naiki kembali. Saling bertaut dan saling menyesap satu sama lain. Darel lalu turun ke leher jenjang Naiki, kembali menciuminya dan meninggalkan jejak di sana. Ia lalu merebahkan tubuh istrinya di kasur dengan perlahan kemudian mengungkungnya di bawah tubuh tingginya.
Darel mulai menyibak piyama Naiki dan menyelusupkan tangannya. Ia bergerilya disetiap inchi tubuh Naiki. Membuat wanita itu menggeliat karena gelenyar-gelenyar aneh yang timbul dari sentuhan Darel.
Darel lalu melepas kemeja yang ia pakai yang belum sempat digantinya saat tiba tadi. Ukiran otot di tubuh Darel membuat wajah Naiki merona. Jujur, sudah sejak lama Naiki ingin menyentuhnya.
Pria tampan itu lalu membuka kancing piyama Naiki dengan perlahan sambil terus menyesap bibir istrinya. Ia melucuti piyama Naiki dengan cepat dan membuangnya ke sembarang arah.
Darel menelan salivanya dengan kasar saat melihat pemandangan di bawahnya. Ia kemudian melanjutkan aksinya kembali ke gundukan kembar milik istrinya itu. Naiki menggigit bibir bawahnya, menahan suara yang dari tadi memaksa lolos dari mulutnya. Darel tersenyum melihat ekspresi Naiki yang menahan des***nnya lengkap dengan wajahnya yang merona karena malu.
"Lepaskan, Sayang!" Bisik Darel dengan suara beratnya.
"Darellll..." Ucap Naiki yang terdengar seksi di telinga Darel.
__ADS_1
Darel semakin menggebu. Dalam sekejap tubuh mereka pun sudah sama-sama polos. Darel lalu menarik selimut yang sudah terlempar ke pinggir kasur. Tangannya lalu beralih ke bagian tubuh Naiki yang menjadi tujuannya malam ini. Merasa sudah cukup siap, Darel lalu berbisik kembali di telinga Naiki.
"Aku mulai, ya? Akan aku lakukan dengan perlahan." Bisik Darel. Naiki pun mengangguk.
Darel mencoba menghujamkan miliknya, namun ternyata pertahanan Naiki sangat kuat. Darel terus mencoba untuk menembusnya dengan menambah kekuatan di sana, namun Naiki mulai kesakitan.
"Darellll...sakiiiitt... Darel hentikan, aku mohon." Rintih Naiki.
"Maaf Sayang." Lirih Darel sambil terus berusaha di bawah sana.
"Hwaaaa...Dareeellll... Jahaaattt..." Pekik Naiki kemudian. Namun Darel tidak merespon. Ia terlalu berkonsentrasi dengan misinya.
Naiki tidak tahan, dan reflek mendorong tubuh Darel sekuat mungkin menggunakan tangan dan kakinya. Darel pun terdorong hingga hampir terjatuh dari ranjang.
"Sakit Darelll... Hiks..." Isak Naiki sambil duduk memeluk kakinya.
Darel tersentak, ada perasaan bersalah dalam dirinya. Ia lalu mendekati Naiki dan memeluk istrinya.
"Maaf Sayang. Maaf tidak mendengarkanmu." Ucap Darel sambil mencium pucuk kepala Naiki dan memeluknya erat.
Darel terus menenangkan Naiki dengan menepuk-nepuk punggung istrinya itu. Naiki lalu mengerucutkan bibirnya, membuat gemas Darel yang melihatnya.
"Tapi itu tadi tanggung, Sayang." Goda Darel.
Buuughh...
Naiki memukul bahu Darel. Darel terkekeh dan langsung merangkul bahu Naiki. Ia tidak ingin memaksa istrinya, karena ia tahu Naiki sensitif dengan rasa sakit. Naiki mungkin tidak masalah disentuh oleh Darel, namun ia masih sedikit trauma bila merasakan sakit di tubuhnya, seperti yang ia rasakan malam ini.
"Bukankah ini namanya, gagal karena istriku barbar?" Ucap Darel dengan nada mengejek.
"Dareeeellll...." Teriak Naiki. Wajahnya merona karena malu.
"Hahahaha...."
*********
💙💙💙💙💙
Yah, gagal dong... 😂
__ADS_1