
Wisnu kembali melanjutkan ceritanya.
Hari yang ditunggu pun tiba. Wisnu kali ini menyamar sebagai petugas servis AC. Pria itu sengaja merusak 1 unit AC pada saat ia menyamar sebagai petugas cuci AC tiga hari sebelumnya. Dengan alasan itulah, akhirnya Wisnu dapat datang kembali ke kediaman Brata. Hari itu Wisnu membawa dua orang rekannya untuk membantunya membawa Alya kabur.
Setelah berhasil masuk dengan mobil khas tukang servis AC, Wisnu meminta Alya berganti pakaian sama sepertinya dan dua rekan yang lain. Alya pun bergegas mengganti pakaian tersebut dan menutupi mukanya dengan masker. Mereka akhirnya berhasil lolos dari pemeriksaan security di kediaman Brata dan pergi menuju tempat di mana Wisnu menitipkan mobilnya.
Setelah mengantar dua rekan lain kembali dan mengambil mobil miliknya yang ia titipkan di tempat servis AC, Alya meminta Wisnu untuk mengantarnya ke panti asuhan.
"Ada yang ingin aku ambil di sana." Ucap Alya kala itu.
Sesampainya di panti, Alya pun turun dan masuk ke panti tersebut diikuti oleh Wisnu di belakangnya. Alya lalu menemui ibu kepala panti. Beberapa saat kemudian, Alya pergi menuju sebuah ruangan kecil di sudut aula panti. Ia pun masuk. Ternyata itu adalah ruang baca yang mungil dengan dua rak buku di kanan dan kirinya. Alya lalu menarik salah satu rak seperti membuka pintu, hingga tampaklah sebuah pintu di balik rak yang ditarik Alya.
Pintu itu terbuat dari bahan metal yang kuat dan memiliki kunci dengan standar keamanan yang tinggi. Hanya Alya yang dapat membukanya dengan scan retina matanya dan juga scan sidik jarinya. Alya pun masuk ke ruangan itu bersama Wisnu. Sebuah ruangan tempat Alya menyimpan berbagai macam benda-benda penting dan bernilai. Termasuk surat-surat berharga miliknya.
Ia lalu mengemasi surat berharga yang penting dan menyimpannya dalam sebuah koper kecil. Sebelum menutup kopernya, Alya sempat menuliskan sebuah surat untuk Naiki dan Rhean. Setelah itu, ia menyimpan surat tersebut ke dalam koper dan berjalan keluar ruangan tanpa membawa koper tadi. Sebelum pergi meninggalkan tempat itu, Alya mengubah pengaturan keamanan pintu rahasia miliknya dengan merekam retina mata dan sidik jari Wisnu. Wisnu pun menuruti kehendak Nyonya-nya itu walaupun dengan berbagai pertanyaan di otaknya.
"Wisnu, kalau terjadi apa-apa padaku, serahkan koper tadi pada Naiki atau Rhean. Tapi, aku minta padamu untuk menyerahkannya saat salah satu dari mereka berhasil memiliki saham mayoritas di perusahaanku. Aku ingin mereka berjuang terlebih dahulu untuk mendapatkan hak mereka nantinya. Dan satu lagi, jagalah panti ini untukku. Bawalah mereka ke sini setelah kau menyerahkan koper ini, dan bukalah ruangan ini untuk mereka." Perintah Alya.
"Tapi Nyonya, bukankah kita akan segera ke kediaman Caraka setelah ini?" Tanya Wisnu yang bingung dengan perkataan Alya.
"Kita tidak tahu apa yang akan terjadi setelah kita melangkah keluar dari panti ini Wisnu. Aku hanya memberikan instruksi sebelum terjadi sesuatu, sebelum semuanya terlambat." Ucap Alya.
Wisnu akhirnya menuruti apa yang dikatakan Alya. Ia mengingat dengan baik apa saja yang dikatakan Alya padanya. Mereka lalu pamit pada ibu kepala panti dan bergegas menuju kediaman Caraka. Namun, kejadian tidak terduga mereka alami dalam perjalanan menuju kediaman Caraka. Mobil yang Wisnu kendarai tiba-tiba saja ditabrak oleh sebuah truk kontainer dari arah berlawanan. Mobil Wisnu seketika hancur dan terseret hingga ke pembatas jalan.
Ketika kesadarannya hampir hilang, Wisnu masih sempat menoleh ke arah Alya, dan melihat Alya yang berkata lirih dan terbata padanya.
"Tolong jaga mereka!"
__ADS_1
Setelah itu, semua menjadi gelap. Wisnu tidak sadarkan diri dan tidak tahu apa yang terjadi setelah kecelakaan itu. Saat Wisnu terbangun, ia sudah berada di sebuah ruang ICU rumah sakit. Salah satu bawahannya mengatakan, Nyonya Alya telah tewas dalam kecelakaan mobil yang menimpa mereka. Untung saja waktu ituWisnu sadar dengan cepat walaupun kondisinya sendiri sangat mengkhawatirkan.
Ia baru saja menjalani operasi dan harus ikhlas kehilangan sebelah kakinya yang rusak karena terjepit saat terjadi kecelakaan. Di tengah kesedihannya itu, Wisnu langsung memerintahkan bawahannya untuk mengurus pemakaman Alya dengan layak dan tanpa diketahui oleh Brata.
Tangis Naiki pecah mengetahui kenyataan bahwa mamanya telah tewas dalam kecelakaan menuju kediaman kakeknya. Begitupun dengan Kakek Caraka. Ia tidak menyangka, putrinya akan bernasib seperti itu. Baru kali ini Darel melihat istrinya menangis, hatinya ikut terasa sakit saat melihatnya.
"Setelah Nyonya dimakamkan, saya langsung menyelidiki truk kontainer yang menabrak kami, Tuan. Hasilnya, supir truk adalah pembunuh bayaran yang telah dikirim oleh Brata dan Steffanie." Ujar Wisnu.
Tidak ada jawaban atau pun respon apa pun dari kakek Caraka dan Naiki. Namun, dari ekspresi wajah mereka saja sudah tampak bahwa hati mereka sungguh sakit mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Entah apa yang terlintas di pikiran Kakek Caraka, Naiki, dan Darel saat ini. Harapan mereka bahwa Alya masih hidup pun sirna seketika.
"Lalu bagaimana dengan kakimu?" Tanya Kakek Caraka.
Wisnu pun sedikit menunduk dan menggulung celananya di kaki kiri hingga ke lutut. Kemudian ia melepas kaos kaki yang ia kenakan di kaki kirinya itu. Setelah itu ia pun kembali duduk dengan posisi semula.
"Saya menggunakan ini, Tuan. Karena luka yang sangat parah akibat kecelakaan itu, kaki kiri saya terpaksa harus diamputasi." Ujar Wisnu.
"Apa yang kau lakukan setelah kejadian itu?" Tanya kakek Caraka kembali.
Wisnu lalu memberi kode kepada pengawalnya untuk menyerahkan koper kecil tadi kepada Naiki. Pria muda itu lalu berjalan ke arah Naiki dan memberikan koper tersebut.
"Ini adalah koper yang dititipkan Nyonya untuk Nona kecil dan Tuan muda Rhean. Di dalam koper itu ada sepucuk surat yang Nyonya tuliskan untuk kalian." Ucap Wisnu. "Kalau boleh tahu, di mana Tuan muda Rhean sekarang?"
"Aku di sini, Paman Wisnu." Tiba-tiba Rhean muncul di ambang pintu.
Ia memang diminta Naiki untuk pulang lebih awal agar bertemu dengan Wisnu. Tapi karena jalanan sedikit macet, Rhean sedikit terlambat tiba di rumah.
Rhean lalu menghampiri Wisnu dan memeluknya erat. Rhean dan Wisnu memang sangat akrab sejak dulu. Di mata Rhean, Wisnu adalah sosok pengganti ayahnya jika ia butuh perhatian seorang ayah.
__ADS_1
"Apa Paman sehat?" Tanya Rhean saat melepas pelukannya, lalu tersentak ketika matanya menatap kaki Wisnu yang menggunakan kaki palsu. "Kaki Paman?"
"Tidak apa. Paman baik-baik saja. Duduklah!" Tukas Wisnu. Ia lalu menyeritakan kembali dengan singkat bagaimana kakinya bisa menjadi seperti itu.
Rhean mengerti. Ia bahkan lebih terlihat tenang dibandingkan Naiki. Rhean juga menerima bahwa mamanya sudah tiada. Walaupun sebenarnya jauh di lubuk hatinya, rasa sakit masih tetap ada.
"Karena Rhean sudah di sini, bukalah koper itu, Nona Kecil." Ujar Wisnu dengan tersenyum. "Kodenya adalah tanggal dan bulan kalian tiba di sini." Imbuhnya.
"Baiklah, Paman." Jawab Naiki.
Naiki lalu meminta Rhean untuk duduk di sampingnya dan membuka koper tersebut bersama. Perasaan Naiki campur aduk. Begitupun dengan Rhean. Hanya beberapa detik, koper itu pun terbuka.
"Ini..." Ucap Naiki saat melihat isi dalam koper tersebut.
***********
💙💙💙💙💙
Hayoooo tebak isinya apa? ðŸ¤
hhhmmm...ada yang kecewa ngga sih Mama Alya ternyata sudah meninggal?
Buat yang udah baca, makasih yaa...
Buat yang udah vote, makasih banyak yaa...
Buat yang udah favoritin novel ini, makasih juga...
__ADS_1
Buat yang udah like dan kasih bunga, kopi, dsb, thanks a lot guys...
lope lope buat kalian semua 💙💙💙💙💙