
Waktu hampir menunjukkan jam makan siang. Naiki diminta salah satu seniornya untuk mengantarkan berkas cuti karyawan ke Department HRD. Total ada dua orang karyawan yang akan mengambil cuti pada bulan ini. Naiki berjalan santai menuju Department HRD. Ketika ia tiba, tampak beberapa karyawan wanita sedang membicarakan Tuan Muda Gerandra. Entah kenapa Naiki tertarik mendengarnya.
"Iya, ya ampun... Kira-kira siapa ya, tunangannya?" Ujar satu karyawan wanita.
"Eh, bukannya Bu Sonya tergila-gila dengannya?" Bisik satu orang lagi.
"Iya iya. Tapi kan Bu Sonya seksi, body nya aduhai, orang kaya juga. Cocok cocok aja sih menurut aku."
Naiki terus memerhatikan sekelompok karyawan wanita itu. Mereka terlihat bergosip sambil mengerjakan sesuatu. Tiba-tiba Sonya keluar dari ruangannya.
Tak tok tak tok...
Sonya jalan berlanggak-lenggok mendekati salah satu staffnya.
"Saya mau ke Gerandra Corp. Ada janji makan siang dengan CEO Gerandra. Kau tahu kan, siapa dia?" Ucap Sonya berdusta dan sedikit mengeraskan suaranya agar karyawan-karyawan di sana mendengar perkataannya.
Naiki menyeringai mendengar perkataan Sonya. Ia lalu berjalan mendekat dan menyerahkan berkas yang dibawanya tadi kepada staff di sana. Sonya berlalu di sampingnya sambil melirik dengan pandangan mengejek pada Naiki.
"Dasar j4l4ng." Rutuk Naiki sambil berjalan kembali ke Department pemasaran.
Ia sangat paham kalau Sonya hanya membual. Tapi entah mengapa, ada perasaan dongkol di hatinya saat ini. Perasaan yang sulit diartikannya. Perasaan yang mengatakan ia cemburu, namun otaknya menyangkal itu.
**************
Tok tok tok...
"Permisi Tuan." Ucap Berry yang langsung masuk ke ruangan Darel.
"Hhhmmm? Ada apa?" Tanya Darel tanpa menoleh. Ia sibuk memandangi laptopnya yang berisi dokumen penting. Kumpulan dokumen pengajuan kerjasama dari beberapa perusahaan, termasuk Brata Corp.
"Sesuai dugaan Tuan, pelakunya kali ini berhubungan dengan Brata Corp." Sahut Berry serius. Ia melaporkan hasil penyelidikan orang-orangnya mengenai penyerangan Darel tempo hari di G-Mall.
Darel menghentikan aktifitasnya. Ia tahu, Brata Corp adalah milik ayah kandung Naiki. Seorang ayah yang tega menyakiti anak-anaknya tanpa belas kasih sedikit pun. Darel mengepalkan telapak tangannya geram.
"Teruskan." Ucapnya dingin.
"Karena melihat Tuan sering jalan seorang diri tanpa pengawal, mereka berencana menculik dan menjebak Tuan. Setelah menculik Tuan, mereka akan memberi Tuan obat perangsang, dan menyerahkan Tuan pada wanita yang bernama Sonya. Setelah...."
"Cukup cukup. Aku sudah paham." Darel menyela penjelasan Berry yang belum selesai.
"Kau tahu kan, aku bukan orang yang haus membunuh. Jika orang tidak menggangguku, aku juga tidak akan mengganggunya. Tetapi, jika seseorang menggangguku, aku akan menghabisinya." Ucap Darel dingin.
"Mari kita bermain dengan mereka." Lanjutnya sambil menyeringai. Tatapannya benar-benar menakutkan.
__ADS_1
"Orang-orang bodoh, bisa-bisanya memprovokasi singa yang lagi tidur." Batin Berry. Tubuhnya benar-benar merinding melihat Tuan mudanya saat ini.
"Ta-tapi Tuan, menurut informasi, No-Nona berada di kantor Brata Corp hari ini. Sepertinya dia terdaftar sebagai karyawan baru di Brata Corp." Ujar Berry tergagap.
Darel tersentak. Ia heran, apa yang sebenarnya dilakukan tunangannya di sana? Bukankah itu sangat berbahaya? Dia seperti masuk ke sarang penyamun, pikir Darel.
"Ok baiklah. Tunggu instruksi selanjutnya. Dan terus awasi para bajing4n itu."
Mendengar perintah tuannya, Berry langsung undur diri dan kembali ke ruangannya.
Darel mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja. Ia berpikir, apakah sebaiknya ia menelpon Naiki dan bertanya langsung padanya? Darel pun mengambil ponselnya dan menghubungi Naiki.
["Hmmm..." Sahut Naiki malas.]
["Bisakah kau tidak sedingin es cendol pada calon suamimu ini, Sayang?" Goda Darel.]
Naiki memutar bola matanya malas. Ia sedang berjalan menuju kantin untuk makan siang.
["Ada apa?" Tanya Naiki tanpa basa-basi.]
["Kau sedang berada di mana sekarang, Sayang?" Selidik Darel.]
["Kenapa? Apakah kau takut aku memergokimu sedang bermesraan dengan perempuan aneh itu?" Naiki terlihat sewot dan tanpa sadar menjawab pertanyaan Darel dengan kalimat seperti itu. Darel yang mendengar pun menjadi bingung.]
["Maksudmu?" Tanya Darel.]
Tut...tut...tut...
"Dasar es cendol aneh." Umpat Darel sambil memandangi ponselnya.
Tiba-tiba telepon di meja Darel berbunyi, salah satu sekretarisnya memberitahu bahwa ada seseorang dari Brata Corp ingin menemuinya, ia bernama Sonya.
Darel langsung menolak untuk bertemu. "Dasar J4l4ng." Umpatnya.
"Usir ia segera." Perintah Darel lantang dan langsung menutup teleponnya.
Beberapa saat kemudian, ia tersenyum. "Ternyata itu maksud si es cendol tadi." Gumamnya.
Darel benar-benar bahagia memikirkan kalimat tunangannya ditelpon tadi. Kalimat yang menandakan bahwa Naiki mulai menaruh perasaan pada dirinya.
"Apa sebaiknya pernikahan kami dipercepat saja ya?" Lirihnya sambil tersenyum.
************
__ADS_1
Di kantin Brata Corp...
Naiki sedang berjalan membawa nampan makanannya. Ia sedang celingak-celinguk mencari tempat untuk duduk. Tiba-tiba netranya menangkap sosok Sisi yang sedang terpojok dengan tiga orang karyawan wanita. Sisi terlihat sangat ketakutan. Entah apa kesalahannya, sehingga harus berurusan dengan tiga orang senior yang terlihat mendominasi itu.
Mereka adalah tiga orang senior di Tim Pemasaran. Ketiga wanita yang merasa hebat karena selalu dibela oleh Niko, seorang manager yang minus akhlak.
"Kau tahu berapa harga sepatu dan bajuku ini? Ayo cepat ganti rugi!" Hentak Helen. Tubuh Sisi semakin gemetar.
Sisi tidak sengaja menumpahkan lauk makan siangnya ke baju dan sepatu yang dikenakan Helen. Sebenarnya, tadi ketika ia sedang berjalan mencari tempat duduk yang kosong, tiba-tiba Helen menabraknya.
Naiki berjalan cepat ke arah Sisi yang semakin ketakutan. Helen dan kedua temannya yang lain terlihat mulai bermain fisik. Naiki menaruh nampan yang dibawanya tadi ke sembarang meja yang dilewatinya.
"Ternyata terlalu banyak orang busuk di perusahaan ini." Batin Naiki. Ia lalu menarik Sisi ke belakang tubuhnya.
"Oh, ada satu lagi perempuan kampungan yang datang ternyata. Kenapa? Mau sok-sok'an jadi pahlawan?" Cetus Helen sambil memangku kedua tangannya.
Naiki diam. Ia tidak ingin menghabiskan tenaganya untuk orang-orang rendahan seperti itu.
"Apakah kau meminta ganti rugi untuk pakaian dan sepatumu yang murahan itu?" Celetuk Naiki. Ia menatap dingin ke arah Helen.
"Heiii...bukankah pakaianmu lebih murah daripada pakaianku? Halaaaah...Paling juga KW. Wanita miskin seperti kalian berdua tidak mungkin mampu membeli pakaian dan sepatuku ini." Hina Helen.
Naiki menyeringai. Ia tahu, barang-barang yang digunakan Helen adalah barang tiruan. Bahkan selembar kemeja yang Naiki kenakan saat ini, dapat membeli 5 pasang sepatu yang dikenakan Helen.
Naiki lalu menarik kemeja Helen di bagian lengan hingga robek.
Sreeeeekkk....
Helen dan kedua temannya terbelalak tidak percaya.
"Wow, sepertinya ini bahan yang sangat mahal. Benar-benar rapuh seperti kertas." Seru Naiki dengan seringai liciknya. Ia lalu meniup telapak tangannya, seperti merasa jijik karena telah memegang kemeja seorang wanita jahat.
"KAU...." Helen mulai murka. Ia berteriak seperti wanita gila dan ingin menyerang Naiki.
"Eit, tunggu! Karena bajunya sudah aku robek, aku akan segera membayarnya. Kau tenang saja, baju robek ini akan aku beli dengan harga tinggi, dan kau boleh membuangnya ke tempat sampah." Ucap Naiki dan langsung melemparkan 10 lembar uang pecahan Rp 100.000 tepat ke wajah Helen.
Naiki lalu berbalik dan mengajak Sisi pergi.
Helen terdiam di tempatnya. Karyawan lain yang menonton kejadian itu mulai berbisik tentangnya. Ada yang menghujat, ada juga yang menertawainya. Helen benar-benar malu dibuatnya.
"ARRRGH...." Pekiknya histeris.
*********
__ADS_1
Jangan lupa dukung author terus yaa...
thanks