Pewaris Asli

Pewaris Asli
48 Serakah


__ADS_3

Brata terus mondar-mandir di ruang kerjanya. Sejak kemarin ia memikirkan bagaimana cara menghadapi pihak Caraka Corp malam ini hingga ia tidak terlalu memedulikan ponselnya. Hingga Sabtu siang pun Brata tidak mengetahui apa yang telah terjadi dengan adik dan keponakannya itu. Sekali pun ia tidak mengecek ponselnya.


Brata hanya memikirkan cara mempertahankan hartanya saja. Sesuatu yang ia puja dan ia bangga-banggakan. Di hati dan pikirannya hanya ada harta, tidak ada yang lain. Termasuk anak atau istrinya.


Brata akhirnya memutuskan untuk memberikan semua saham Steffanie, Sonya, dan Niko. Ia sungguh tidak rela jika saham miliknya harus dipertaruhkan. Ia tidak ingin persentase kepemilikan sahamnya akan sama dengan pihak Caraka Corp.


Pria paruh baya itu lalu mencari ponselnya. Saat layar ponsel menyala, Brata heran melihat panggilan tak terjawab yang sangat banyak dari adiknya satu-satunya, Steffanie. Brata lalu menelepon balik Steffanie, bukan karena perduli, melainkan untuk meminta persetujuan Steffanie agar menjual semua sahamnya kepada Caraka Corp.


"Kakak...Hiks...hiks...hiks..." Isak Steffanie di seberang sana. Brata diam, tidak perduli dengan isak tangis adiknya. Ia juga tidak berniat untuk bertanya akan hal itu.


"Di mana kau? Cepat kemari. Malam ini pertemuan dengan perwakilan Caraka Corp. Apa kau lupa itu? Kau harus memberikan semua sahammu dan anak-anakmu kepadaku." Ucap Brata dengan arogan.


Steffanie terbelalak. 'Dasar tua bangka serakah!' Umpat Steffanie dalam hati.


"Kak, kau bahkan tidak bertanya kondisiku sekarang. Apa kau tidak perduli dengan kami? Kau tahu, ada orang besar di belakang anak sialmu itu. Cepat atau lambat, dia akan mengincarmu." Hardik Steffanie.


Brata tidak perduli. Dia tidak percaya bahwa anaknya yang biasa saja seperti itu memiliki koneksi dengan orang-orang hebat dan berpengaruh.


"Aku tidak perduli. Dia pasti hanya sebatas jadi simpanan seseorang saja dan belum tentu lebih hebat dariku. Jadi, datang ke sini sekarang! Aku terburu-buru. Tidak ada waktu untuk menunggumu lebih lama lagi." Brata langsung mematikan sambungan telepon dengan angkuh.


Steffanie menjadi kesal. Ia mencaci, memaki, mengumpat, bahkan menyumpahi Brata dengan kasar.


Sementara itu di kediaman besar Caraka. Tampak Darel berdiri di gazebo belakang dan sedang menelepon seseorang yang tidak lain adalah asistennya, Berry.


"Bagaimana dengan sisa 20% lagi? Apa mereka belum bersedia menjualnya?" Tanya Darel.


"Sebagian dari mereka menjanjikan hari ini, Tuan." Sahut Berry.


"Ok. Pastikan semua berjalan dengan lancar dan tepat waktu. Selesaikan semuanya sebelum malam. Aku ingin, mulai hari ini istriku memiliki saham terbesar di Brata Corp." Perintah Darel.


Berry pun dengan yakin langsung menyanggupi perintah Tuannya itu. Darel lalu segera mematikan sambungan teleponnya dan pergi menyusul istrinya yang sedang istirahat di kamar.


Darel masuk ke kamar mereka di kediaman besar Caraka. Diperhatikannya Naiki yang sedang sibuk dengan laptopnya. Naiki duduk di atas karpet tebal di depan TV yang terdapat di kamar itu. Ia meletakkan laptopnya di atas sebuah meja kecil yang memang sering ia gunakan untuk bekerja. Naiki tidak menyukai bekerja di ruang kerja khusus yang menurutnya terasa tidak santai.


Di samping kanan meja itu, ditaruhnya segelas moccacino dingin yang ia minta dari Paman Wilson, kepala pelayan di sana. Naiki terus fokus ke pekerjaannya tanpa tahu Darel sudah berada di belakangnya.


Darel mencoba mengejutkan Naiki dengan mencengkeram bahu Naiki secara tiba-tiba. Namun nahas, Naiki reflek menangkap tangan Darel dan mendorong tubuh Darel dengan keras ke lantai dan menekannya. Darel terlonjak, begitupun dengan Naiki.

__ADS_1


"Da-rel?" Ucap Naiki kaget. Darel meringis kesakitan di bagian punggungnya. Segera Naiki melepaskan tangannya.


"Hiisssh...Kau ini." Rutuk Darel sambil berusaha duduk sembari menahan sakit di punggung dan tangannya.


"Kau yang salah, jadi aku tidak perlu minta maaf." Celetuk Naiki lalu kembali fokus ke laptopnya.


"Tapi ini sungguh sakit, Sayang..." Rengek Darel. "Kau bahkan tidak hafal dengan wangi tubuh suamimu sendiri." Darel mulai bersungut-sungut. "Kau harus minta maaf padaku. Aku terluka."


"Begini ya, Su-a-mi-ku." Naiki menoleh ke arah Darel. "Waktu aku salah saja, aku tidak mau disalahkan. Apalagi kalau aku tidak salah. Paham?" Ujar Naiki lalu kembali bekerja.


"Ck!" Darel menekuk wajah tampannya. Ia lalu memeluk tubuh Naiki dari belakang dan menyandarkan dagunya di bahu Naiki. "Kalau begitu, apa yang harus aku lakukan biar istri dinginku ini minta maaf padaku?"


Naiki menghentikan aktifitasnya. Ia lalu menoleh ke arah Darel yang bersandar di bahunya dan menatap suaminya dengan tajam. Sedetik kemudian, cuuupp... Darel mengecup bibir Naiki dengan ringan.


"Aku sudah mendapatkannya. Permohonan maaf darimu." Ucap Darel terkekeh lalu berlari ke luar.


Naiki memutar bola matanya malas saat melihat tingkah suaminya yang aneh bila sedang berdua dengannya. Ia lalu beralih ke laptopnya lagi. Menyelesaikan pekerjaan yang belum sempat ia selesaikan beberapa hari ini. Terlebih lagi nanti malam adalah waktunya ia akan muncul di hadapan Brata sebagai Rhea Caraka. Ia harus benar-benar mempersiapkan dirinya untuk pertemuan itu.


Sesekali Naiki menghubungi Ivan dan Sisi untuk menanyakan sesuatu pada mereka. Malam ini Ivan yang akan mendampinginya, Sisi tidak. Karena menurut Naiki, itu akan berbahaya untuk Sisi, bahkan keluarga Sisi.


"Ada apa?" Tanya Naiki.


"Apa anda sudah lihat, Nona? Anda mendapatkan 20% saham lagi saat ini." Ucap Ivan bersemangat.


Naiki tidak percaya. Bagaimana bisa ia mendapatkan 20% saham lagi? Setahunya, para pemilik saham tersebut adalah orang-orang yang sulit diajak negosiasi, setelah Naiki memeriksa dan mempelajari laporan dari Ivan tempo hari. "Pasti karena pria aneh itu." Batin Naiki sambil tersenyum.


"Nona Rhea." Panggil Ivan kemudian.


"Oh, ya. Maaf. Aku terlalu bahagia. Hahaha..." Sahut Naiki salah tingkah. "Terima kasih infonya, Panjul." Ucap Naiki lalu mematikan panggilan telepon dari Ivan.


Naiki sungguh merasa bahagia saat ini. Dengan mendapatkan 20% saham itu, artinya Naiki akan memiliki total 60% saham Brata Corp. Artinya lagi, Brata Corp akan segera dikuasai Naiki. Ia tersenyum puas dengan pengaturan suaminya yang dia bilang aneh itu. Naiki mematikan laptopnya. Ia lalu bergegas mencari Darel.


"Di mana Si Pria aneh itu?" Batin Naiki sambil terus berjalan ke sana ke mari mencari Darel.


"Kau mencari siapa, Gadis Tengil?" Terdengar suara seseorang tidak jauh dari Naiki berdiri.


"Eh, Kakak. Apa kau lihat pria es itu?" Tanya Naiki pada Rhean yang sudah berada di dekatnya.

__ADS_1


Pletaaakkk....


"Awww..." Naiki meringis kesakitan karena Rhean menyentil dahinya dengan keras. "KAKAK...! Apakah seperti itu caramu menyentuhku setelah sekian lama?" Ketus Naiki seraya menggosok-gosok dahinya yang memerah.


"Hahaha..." Rhean tertawa melihat tingkah Naiki. Ia lalu mengusap kepala adiknya itu. "Aku terlalu bahagia mendengar kabarmu dari Elis."


"Sudahlah. Jadi, apa kau lihat suamiku yang tampan dan mempesona itu, Kak?" Naiki mengulangi pertanyaannya.


"Dasar tengil! Darel sedang bermain catur bersama kakek di taman." Sahut Rhean.


"Oh, baiklah. Terima kasih, Kak." Ucap Naiki sambil berlalu meninggalkan Rhean.


Dengan cepat Naiki melangkah menuju taman belakang. Namun ternyata, Darel telah selesai bermain catur dan sedang berjalan ke arahnya.


Grepppp....


Mata Darel membulat karena mendapat pelukan tiba-tiba dari Naiki.


"Terima kasih telah membantuku." Lirih Naiki.


Darel tersenyum mendengarnya. Ia lalu mengusap punggung Naiki perlahan tanpa mengucapkan kata apa pun. Namun tiba-tiba Naiki mendorong tubuh Darel.


"Jam berapa sekarang?" Ucap Naiki cepat. Darel tertegun mendengarnya. "Aaaahh...aku harus siap-siap." Pekik Naiki lalu pergi meninggalkan Darel yang terpaku.


"Ini definisi dari....dibawa terbang tinggi, lalu dihempaskan ke bumi." Umpat Darel dalam hati.


**********


💙💙💙💙💙


Haiii...makasih yang sudah baca ya...🥰


Besok apa ya yang akan dialami Brata?


Atau besok malah Nona Rhea yang mengalami bahaya?


Nantikan besok yaa...

__ADS_1


__ADS_2