Pewaris Asli

Pewaris Asli
40 Keluarga


__ADS_3

"Hiiisshhh memang lebih enak di rumah sendiri." Gerutu Darel sambil berjalan menuju pintu kamar.


Naiki hanya bisa terpaku di tempatnya. Wajahnya masih merona. Badannya pun masih terasa panas. Buru-buru ia merapikan rambutnya yang sedikit kusut karena ulah Darel tadi.


Darel lalu membuka pintu kamar dengan malas. "Hhhmmm?"


"Hiiissshh...kenapa malah Kakak yang muncul?" Ketus Killa. Ia berusaha untuk menerobos masuk ke dalam kamar, namun Darel menghalanginya.


Darel hanya membuka pintu sedikit, dan tubuhnya menghalangi jalan masuk. Ia sama sekali tidak membiarkan Killa melangkah masuk dan merusak atmosfer di dalam sana.


"Mau ke mana?" Tanya Darel sambil terus menahan Killa agar tidak masuk ke kamarnya.


"Aku mau masuk, mau ketemu Kak Nai." Ujar Killa.


"No no no. Ini kamar pengantin baru. Anak kecil dilarang masuk." Larang Darel dan berusaha menutup pintu kamar, namun Killa menahannya dengan sekuat tenaga.


"Pengantin baru apaan." Umpat Killa. "Kak Naiiii....Kak Naiiii bantu aku, Kak. Ada pria jahat di sini." Teriak Killa tanpa henti.


Naiki yang masih duduk di sofa mendengar teriakan Killa. Ia pun berjalan mendekati pintu dan berdiri di belakang Darel.


"Kau apakan adikku, Tuan?" Ucap Naiki. Darel terkejut. Ia tidak tahu Naiki sudah berada di belakangnya saat ini.


Killa yang sejak awal sudah melihat kedatangan Naiki, langsung memasang wajah bangga penuh kemenangan.


"Eeee...Dia yang mulai, Sayang." Kata Darel membela diri.


Killa mencebik mendengar perkataan Darel. Ia lalu mendorong pintu dan memaksa untuk masuk. "Kak Nai..." Seloroh Killa.


"Kakak tidak apa-apa, kan? Tadi Kak Nai pergi ke mana? Apa ada masalah?" Tanya Killa bertubi-tubi. "Lho, wajah Kak Nai kenapa merah gitu?"


Naiki salah tingkah mendengar kalimat terakhir Killa. "Ayo duduk dulu!" Sahut Naiki lalu bergegas berjalan menuju sofa. Darel yang sedari tadi dicuekin, lebih memilih keluar dari kamar dan pergi ke tempat lain.


"Kak Nai baik-baik saja Killa. Terima kasih sudah ngajak Kak Nai lihat foto-foto lama tadi." Ucap Naiki sambil duduk di sofa. Terlihat kebahagiaan di raut wajahnya.

__ADS_1


"Syukurlah. Hmmm...jadi itu benar foto Kak Nai dan Kak Darel?" Tanya Killa. Naiki mengangguk.


"Akhirnya aku bertemu lagi dengannya setelah 20 tahun." Ucap Naiki sambil tersenyum. Killa yang dulu memang masih bayi, tidak tahu kalau gadis kecil di foto itu adalah Naiki. Yang ia tahu, ia bahagia melihat kakak iparnya tersenyum seperti saat ini.


Naiki dan Killa lalu melanjutkan obrolan mereka hingga waktu makan malam tiba. Killa adalah gadis yang berkepribadian hangat dan ceria. Sangat cocok dengan Naiki yang dingin dan sedikit memiliki ekspresi di wajahnya. Hal itu lah yang membuat Naiki merasa nyaman berada di dekat Killa.


Seluruh anggota keluarga sudah berkumpul di ruang makan. Mereka menyantap makan malam dengan tenang. Sesekali Vanya menawarkan Naiki untuk mencoba menu lain yang belum dicicipinya dan Darel pun merengek minta ditawarkan menu yang sama juga. Sedangkan Killa hanya bisa mengumpat kakaknya itu dengan perkataan tidak jelas. Kakek Gerandra tertawa melihat kelakuan cucu-cucunya.


Setelah selesai menikmati makan malam, mereka duduk berkumpul di ruang keluarga. Mengobrol santai tentang keseharian mereka.


"Apakah Darel suka merepotkanmu, Sayang?" Tanya Vanya pada Naiki. Cara bicaranya sungguh lembut, seperti ia bicara dengan anak kandungnya sendiri.


"Tidak, Ma. Tapi kadang-kadang ia sedikit menyebalkan." Sahut Naiki sambil melirik ke arah Darel. Mata Darel membulat mendengar perkataan Naiki.


"Apa?" Celetuk Darel yang langsung diberi jelitan oleh Vanya.


Diam-diam Naiki dan Killa saling melirik dan terkikik di tempatnya masing-masing.


"Kasihan Kak Nai..." Ucap Killa dengan wajah iba dan semakin menyulut emosi Vanya agar memarahi Darel.


Waktu terus bergulir, hari sudah semakin larut. Darel dan Naiki akhirnya memutuskan untuk kembali ke kediaman mereka. Karena hari telah larut, Darel lebih memilih mengendarai mobil dan meninggalkan sepeda motornya di sana. Mereka berdua lalu berpamitan dengan Kakek Gerandra, Mama Vanya, dan Killa.


Empat puluh menit berlalu, Naiki dan Darel akhirnya tiba di rumah mereka. Namun ternyata Naiki telah terlelap di bangkunya. Darel lalu bergegas turun dan menggendong tubuh Naiki hingga ke kamar. Ditaruhnya tubuh istrinya itu dengan perlahan di atas ranjang, kemudian diselimutinya. Darel lalu pergi menuju ruang kerjanya.


Ia lalu menelepon salah satu pengawal yang ia tugaskan untuk menjaga istrinya.


"Halo Tuan." Sahut pengawal tersebut.


"Laporkan tentang kejadian hari ini dengan detail." Perintah Darel. Wajahnya tampak serius.


"Mereka berasal dari Geng Macan Kumbang, Tuan. Tujuan mereka adalah untuk menghabisi Nyonya. Mereka adalah pembunuh bayaran yang disewa oleh wanita yang bernama Steffanie, Tuan."


Tangan Darel mengepal dengan kuat saat mendengar nama Steffanie. "*Lanjutkan!"

__ADS_1


"Setelah kami selidiki lebih jauh, awalnya Steffanie hanya ingin mengabulkan permintaan putrinya yang bernama Sonya. Namun, tiba-tiba ia tahu identitas Nyonya sebagai anak kandung dari Brata. Jadi kemungkinan besar, motivasinya untuk membunuh Nyonya semakin kuat*." Ujar pengawal tersebut panjang lebar.


Darel semakin emosi mendengar penjelasan dari pengawalnya. Terlebih lagi saat mendengar nama Sonya. Darel sudah lama mengawasi gerak-gerik keluarga Brata yang terkenal kejam itu. Salah satunya adalah Sonya.


Wanita bermuka dua yang selalu ingin menjadi yang terbaik di antara para wanita. Orang yang selalu dengki bila melihat wanita lain lebih unggul darinya terutama masalah fisik. Ia tidak akan segan menyingkirkan wanita yang dianggapnya sebagai saingannya.


Lalu sekarang, Naiki menjadi salah satu wanita yang ingin dia singkirkan. Darah Darel seakan mendidih. Rahangnya mengeras saat mengingat kekejaman Steffanie dan Sonya. Ular betina berkepala dua.


"Kirim beberapa orang untuk mengerjai mereka besok. Ingat, jangan dibunuh! Terlalu mudah bagi mereka jika langsung menjemput kematian." Perintah Darel pada pengawalnya.


"Baik, Tuan."


Darel pun memutuskan sambungan teleponnya. Ingin sekali rasanya ia memusnahkan Brata, Steffanie, beserta keluarga mereka dengan kekuasaan dan kekayaan yang ia miliki. Namun, Naiki pernah mengatakan padanya ingin membalas setiap kejahatan orang-orang tersebut dengan caranya sendiri.


Darel lalu menelepon asistennya Berry. Hari sudah sangat larut, namun Berry tetap menjawab teleponnya.


"Selamat malam, Tuan." Sahut Berry di seberang.


"Berry, tolong kau cari tahu siapa saja pemegang saham di Brata Corp selain Brata dan keluarganya. Buat orang-orang tersebut menjual saham-saham mereka kepada istriku segera." Perintah Darel.


"Ah, aku ingin segera menyelesaikan mereka rasanya. Bulan maduku selalu tertunda karena mereka. Cih!" Umpat Darel kemudian.


"Baik, Tuan. Akan segera saya kerjakan." Sahut Berry. Diam-diam ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal saat mendengar ocehan CEO-nya itu.


"Satu lagi, berikan aku informasi tempat yang bagus untuk bulan madu." Perintah Darel lagi. Berry terdiam.


"Hmmm...apakah Tuan akan memperpanjang waktu cuti anda, Tuan?" Tanya Berry hati-hati.


"Sepertinya begitu. Kau tenang saja, aku akan meminta Kakek menggantikanku sementara di sana." Ucap Darel. Mata Berry membulat. Ingin rasanya ia teriak. Karena menurutnya, bekerja di bawah perintah Tuan Besar Gerandra adalah siksaan batin yang luar biasa kuat. Berry menangis dalam diam.


"Ba-baik, Tuan." Sahut Berry lirih.


Darel pun menutup panggilannya. Ia lalu kembali ke kamar dan menuju ke ranjang. Darel pun naik ke atas ranjang dan memeluk tubuh Naiki hingga tertidur lelap.

__ADS_1


***********


__ADS_2