
"Ma-maksud Kakek?" Tanya Darel terbata.
"Naiki baik-baik saja saat disentuh olehmu Darel. Kakek, Rhean, dan Elis juga merasa heran. Bahkan kami bertiga pun tidak berani lagi menyentuhnya. Nai akan segera kambuh bila kami sentuh." Jawab Kakek Caraka. Raut wajahnya tampak begitu sedih.
"Jadi, setelah mendengar kekurangan Naiki ini, apakah kau berubah pikiran dan akan mundur dari pernikahan?" Tanya Kakek Caraka.
Darel diam, otaknya terus bertanya-tanya, apakah benar Naiki memiliki ketakutan akan sentuhan, apakah benar hanya dirinya yang dapat menyentuh Naiki? Namun, bagaimana itu bisa terjadi? Mengapa selama ini Darel tidak memperoleh informasi mengenai phobia Naiki ini? Kakek Caraka benar-benar menutupi kekurangan cucunya dengan sangat baik.
"Tidak Kakek. Aku tetap memilihnya." Ucap Darel yakin.
Terlihat binar di wajah kakek Caraka. Ia tahu, cucu sahabatnya itu tidak akan mengecewakannya. Kakek Caraka pun berdiri dari duduknya dan memeluk Darel.
"Terima kasih." Ucap Kakek Caraka haru.
*************
Naiki telah selesai membersihkan diri dan mengganti bajunya. Ia kemudian keluar dari kamarnya. Ia mencari keberadaan Kakek Caraka, namun nihil. Naiki kemudian turun ke lantai bawah. Ia menuju dapur dan mengambil air minum.
"Hei, gadis barbar." Tegur seseorang yang tiba-tiba sudah berada di dapur. Naiki menoleh dan memutar bola matanya malas.
"Benar tebakanku, kau pasti baik-baik saja." Ledek orang itu. "Apa rencanamu selanjutnya untuk para penjahat itu Nai?"
"Sepertinya mereka pantas dike*iri, Kakak Ipar." Sahut Naiki dengan senyuman licik.
"Buseeeettt...." Ucap Elis terkejut.
Tiga orang pria yang menghadang Naiki di dekat Cafe CBA sudah diamankan pengawal bayangan Naiki. Mereka sekarang disekap di sebuah gedung khusus yang disediakan Kakek Caraka untuk membina orang-orang terpilih agar bisa ditempa menjadi pengawal bayangan keluarga besar Caraka.
Kakek Caraka sendiri tidak berniat melepaskan ketiga pria tadi, mengingat mereka masih berguna untuk diinterogasi. Kakek Caraka meminta agar para pengawal tidak langsung menyiksa mereka. Ia memutuskan untuk memberikan pengobatan pada ketiga pria itu dengan mendatangkan dokter dari rumah sakit miliknya. Tentunya dokter yang sudah biasa menangani situasi seperti saat ini. Kakek Caraka khawatir kalau kondisi ketiganya mendadak parah sebelum Kakek Caraka mendapatkan informasi yang pasti dari ketiganya.
__ADS_1
Naiki lalu pergi meninggalkan Elis di dapur tanpa basa-basi. Ia lalu berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Tiba-tiba Naiki melihat sosok Darel dan Kakek Caraka berjalan keluar dari ruang kerja. Ia lalu menghentikan langkahnya.
"Nai, temani Darel ngobrol ya!" Pinta Kakek Caraka saat menangkap sosok Naiki tidak jauh darinya.
"Hhhm? Bukankah dia sudah mau pulang, Kek?" Sahut Naiki tak acuh.
"Ngobrol lah sebentar, Nai. Beberapa hari lagi kalian akan menikah. Tidak ada salahnya kalian mengobrol agar menjadi lebih dekat lagi." Perintah Kakek Caraka. Naiki lalu mengangguk patuh.
Naiki dan Darel kemudian berjalan ke teras belakang. Mereka duduk di gazebo, menghadap kolam renang yang tampak tenang. Lampu-lampu di taman belakang kediaman Caraka terlihat sangat indah bila malam. Dekorasi outdoor yang sangat menarik bila dilihat pada malam hari, karena banyak lampu-lampu kecil yang digantung dan menghiasi taman di pinggir kolam renang.
"Mau minum apa?" Tawar Naiki.
"Tidak usah, aku sudah minum teh bersama kakek tadi." Sahut Darel datar.
Mereka lalu diam. Naiki menatap ke arah kolam renang. Dia bingung akan membahas apa dengan Darel.
Celetakkkk....
"Hei, apa yang kau lakukan es batu?" Semprot Naiki. Ia mengusap-usap dahinya sambil mengomel.
"Kau tahu yang tadi itu berbahaya?" Ucap Darel dingin.
"Apaan?" Naiki pura-pura tidak paham.
"Kenapa kau menolak ketika Kakek memintamu menggunakan pengawal ke mana pun kau pergi?" Tanya Darel. Ia menatap Naiki tajam.
"Itu juga pertanyaan yang sama untukmu Tuan Es Batu." Ketus Naiki. Darel melotot mendengar jawaban Naiki. Tapi dia tidak menepisnya.
"Kau tahu mereka siapa?" Tanya Darel. Naiki mengangguk, kemudian menggeleng. Darel gemas melihatnya.
__ADS_1
"Apa maksudmu mengangguk kemudian menggeleng Nona Es cendol?" Geram Darel. Dia benar-benar geregetan melihat tingkah calon istrinya.
"Yang pasti orang jahat hahaha...." Kekeh Naiki sambil melempar pandangan ke arah lain.
"Mereka dikirim oleh orang yang sama dengan yang menyerangku tempo hari di G-mall Nai." Ucap Darel kemudian. Naiki sedikit terkejut. Ia memang belum mengetahui kelanjutan dari penyerangan Darel waktu itu.
"Mereka semua dikirim oleh Brata."
Naiki terkejut mendengar ucapan Darel. Ia langsung menoleh pada Darel dengan wajah tidak percaya. Banyak pertanyaan muncul di benaknya.
"Apa yang sebenarnya ia inginkan? Apakah kau sudah tahu, hubunganku dengan Brata?" Tanya Naiki. Ia menatap dalam ke manik mata Darel. Darel mengangguk pelan.
"Perusahaannya membutuhkan investasi yang tidak sedikit. Jadi dia mengincar Gerandra dan Caraka. Penyerangan yang kita alami ada hubungannya dengan rencana busuk mereka." Jelas Darel.
"Maksudmu?" Naiki masih belum mengerti. Rencana busuk apa yang akan dilakukan Brata.
"Sebelumnya mereka berencana menculikku dan membiusku. Selanjutnya memberikanku obat perangsang, dan menjebakku bersama Sonya. Kau tahu, wanita itu benar-benar j4l4ng." Ucap Darel dan tiba-tiba merasa jijik membayangkan wajah Sonya.
"Mereka sepertinya juga akan melakukan hal yang sama padamu. Tapi siapa laki-laki yang akan mereka jebak bersamamu Nai?" Selidik Darel.
Ia sebenarnya sangat kesal memikirkan hal itu. Ingin rasanya Darel mencari laki-laki yang dimaksud, dan membuangnya ke Samudera Hindia.
"Hmmm....Sepertinya aku tahu." Jawab Naiki. Terlihat seringai di wajahnya.
"Mereka sudah salah sasaran kali ini. Lihatlah singa yang sudah bangun itu. Benar-benar mengerikan." Batin Darel.
***********
Dukung author terus yuk...
__ADS_1
jangan lupa like dan komen yaa.. thanks