Pewaris Asli

Pewaris Asli
42 Cambukan


__ADS_3

Sonya dibawa ke suatu tempat misterius oleh orang-orang berpakaian hitam yang tidak lain adalah para pengawal yang ditugaskan Darel.


Sonya diikat di sebuah kursi. Tangan dan kakinya pun diikat dengan sangat kuat. Ia masih tidak sadarkan diri saat ini. Sonya dibawa ke sebuah gedung. Terdapat beberapa lantai di sana. Cukup besar bila hanya sebuah markas biasa. Hanya orang-orang kepercayaan Gerandra Corp yang sudah terlatih yang dapat masuk ke sana, dan Sonya sekarang sedang disekap di sebuah ruangan yang lebih mirip dengan ruang isolasi di sana.


Sonya ditinggalkan hingga satu jam di ruang tertutup itu. Hingga akhirnya dua orang pria bertopeng masuk ke ruangan itu membawa dua ember air dingin. Bila diperhatikan, masih terdapat bongkahan es yang belum mencair sempurna di dalam ember-ember itu.


BYUUURRR...


Salah satu pria mengguyur tubuh Sonya yang tidak sadarkan diri dengan seember air dingin. Sonya tersentak. Ia mencoba membuka matanya walaupun masih terasa berat. Saat pandangannya mulai jelas, satu pria lagi kembali mengguyur Sonya dengan satu ember air dingin yang tersisa.


"ARRRRGGHHH..." Sonya menjerit histeris.


"Hahahah...." Kedua pria bertopeng tadi tertawa melihat respon Sonya yang ketakutan.


"Si-si-siapa kalian?" Sonya terbata. Ia benar-benar ketakutan saat ini. Habis sudah keangkuhannya.


Airmatanya tumpah begitu saja. "Ibuuuu tolong aku!" Rintih Sonya dalam hati. "Kenapa malah aku yang ngalamin ini? Seharusnya anak sial itu." Sonya masih sempat mengumpat Naiki dalam hatinya.


Salah satu dari pria itu lalu mendekati Sonya yang tidak berdaya di tempatnya. Kakinya ia naikkan satu ke gagang kursi tempat Sonya diikat. Tangannya lalu menarik dagu Sonya agar menatapnya.


"Kau tahu kesalahanmu?" Tanya pria bertopeng itu. Sonya menggeleng cepat. Matanya sudah memerah. Tubuhnya mulai menggigil kedinginan.


"Kau telah menyinggung orang yang seharusnya tidak kau singgung." Ucap Pria itu. "Oh salah, bukan kau saja. Tapi kau dan ibumu."


PLAKKKKK....


"ARGGGHHHH..." Pekik Sonya. Pria itu tiba-tiba menampar wajah Sonya dengan keras. Tampak darah mengalir di sudut bibir wanita itu.


Sonya menangis. Ia terus menangis hingga pria yang satunya lagi bergantian mendekatinya.


"Bro, sepertinya kulitnya terlalu mulus. Apa cocok dengan cambukku itu?" Ucap pria itu sambil menyeringai.

__ADS_1


"TIDAKKKK... JANGAAANNN... Aku mohon... Jangan lukai aku!" Sonya histeris. Ia terus-terusan memohon pada kedua pria bertopeng di depannya. Namun sia-sia.


"Harus dites biar kita tahu cocok atau tidaknya." Sahut satu pria lagi.


Sonya menangis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku mohon jangaaannn! Aku mohon...."


Namun percuma. Pria bertopeng itu lalu berjalan ke sudut ruangan, mengambil cambuknya. Sebuah senjata yang biasa mereka pakai untuk menginterogasi tangkapan mereka.


CETAR...


Pria bertopeng itu mulai memainkan cambuknya hingga mengenai lengan dan kaki Sonya secara bersamaan. Sonya kembali menjerit dengan sangat keras. Kulitnya perih. Goresan cambuk bewarna kemerahan mulai tampak di kulitnya. Tubuh Sonya sekarang menggigil sekaligus menahan sakit karena cambukan.


Tidak cukup sampai di situ, pria bertopeng itu kembali menyambuk Sonya hingga beberapa kali. Sonya mulai lemah. Tubuhnya penuh dengan luka cambukan. Bahkan terdapat beberapa robekan di pakaiannya. Sonya sudah tidak sanggup menahan sakit dari cambukan pria itu.


Satu pria bertopeng kemudian berjalan keluar. Beberapa saat kemudian ia kembali dengan membawa seember air yang telah ia campur dengan garam. Ia lalu menyeringai dan menyiram tubuh Sonya yang penuh luka dengan air garam.


Sonya berteriak sangat keras. Ia merasa seperti sedang dikuliti hidup-hidup saat ini. Sonya sungguh tidak kuat lagi dan akhirnya pingsan di tempatnya.


"Hissshhh dia pingsan, Bro!"


"Sudahlah. Yang pentingkan tidak sampai mati. Kita kembalikan saja dia sekarang. Tapi sebelumnya kita tulis dulu pesan untuk ibunya di lengan wanita ini."


Mereka lalu menyeringai dan mulai menyoret lengan Sonya menggunakan spidol permanent. Mereka menulis sebuah pesan untuk Sonya dan Steffanie. Tubuh Sonya yang sudah tidak berdaya itu kemudian dibawa keluar dan dimasukkan kembali ke mobil van hitam yang para pengawal itu gunakan. Mereka lalu mengantar Sonya kembali ke basement Brata Corp dan tidak lupa untuk melepas ikatan di tubuh Sonya.


Para pengawal itu menyelesaikan misi mereka dengan sangat bersih. Setelah mengantar Sonya, rekan mereka yang lain yang bertugas sebagai hacker pun menjalankan tugasnya. Menghapus setiap CCTV yang menurutnya telah merekam pergerakan mereka sejak awal.


Mereka adalah orang-orang terpilih dan terlatih. Menjalankan misi dengan penuh perhitungan. Mereka bahkan mengetahui titik buta CCTV hanya dengan mengamati posisinya. Tidak heran jika mereka adalah salah satu pasukan pengawalan terbaik yang dimiliki pihak swasta seperti Gerandra Corp.


Sonya mulai sadarkan diri. Ia merintih kesakitan di basement Brata Corp yang sudah tampak sepi. Hari mulai larut, namun tidak ada satu orang pun yang menemukannya di sana.


Pakaian yang Sonya kenakan mulai mengering di tubuhnya. Sonya lalu berusaha mengeluarkan suaranya untuk meminta tolong. Tangannya terasa sangat lemah, hingga ia tidak kuat untuk meraih tasnya yang terletak tidak jauh dari sana.

__ADS_1


"To-to-long." Rintih Sonya.


Tubuhnya masih menggigil dan tidak bertenaga. Seluruh badannya terasa sakit saat ini. Ia terus berusaha untuk meraih ponsel yang terdapat di dalam tasnya. Sonya menyeret tubuhnya dengan perlahan dengan sisa tenaga yang ia miliki. Setelah beberapa menit, ia akhirnya berhasil meraih tasnya dan bergegas mengeluarkan ponselnya.


Sonya mengusap ponselnya dengan perlahan. Tangannya bergetar karena kedinginan. Ia lalu menelepon ibunya.


"Hallo Sonya." Sahut Steffanie.


"I-ibu. To-long." Rintih Sonya.


Steffanie langsung panik saat mendengar suara Sonya. Suara seseorang yang tengah merintih menahan sakit. Ia sangat hafal itu. Karena ia sudah sering mendengar rintihan yang sama seperti itu. Termasuk rintihan Alya, Naiki, dan Rhean kala itu.


"Apa yang terjadi, Sonya? Kau di mana sekarang?"


"Basement kantor." Lirih Sonya dan kembali pingsan.


Steffanie terus-menerus memanggil nama Sonya saat tidak mendengar jawaban lagi dari anaknya. Padahal panggilan di ponselnya belum terputus. Sonya lalu bergegas keluar rumah dan memacu mobilnya menuju Brata Corp.


Di perjalanan, ia mencoba menelepon security yang bertugas malam itu di Brata Corp dan meminta mereka untuk mengecek keberadaan Sonya di basement. Beberapa saat sebelum tiba di Brata Corp, Steffanie menerima panggilan kembali dari security yang bertugas. Security itu memberitahu Steffanie bahwa Sonya sudah ditemukan namun keadaannya tidak baik-baik saja.


Steffanie semakin panik. Ia lalu memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi dan berhasil tiba di Brata Corp dalam waktu singkat. Ia bergegas menuju tempat ditemukannya Sonya.


Steffanie gemetar melihat kondisi putrinya. Banyak terdapat luka di tubuh putrinya itu. Badannya dingin, wajahnya pucat, dan terdapat lebam di pipinya. Sudut bibirnya juga terluka. Ada darah mengering di sana. Pergelangan tangan dan kakinya pun jelas terlihat ada bekas ikatan yang kuat di sana. Steffanie menangis. Hatinya sakit melihat kondisi putrinya. Ia lalu melihat lengan putrinya yang terdapat sebuah tulisan dengan spidol bewarna hitam.


[BERHENTI MENGGANGGU NONA NAIKI, ATAU KALIAN AKAN MATI!!!]


Tangan Steffanie bergetar dengan kuat. Emosinya membuncah. Ia tidak menyangka Naiki memiliki orang hebat di belakangnya. Padahal yang ia tahu, Naiki hanyalah karyawan biasa. Steffanie sungguh tidak peduli dengan peringatan yang tertulis di lengan putrinya. Kebenciannya pada Naiki semakin meningkat saat ini. Ambisinya untuk melenyapkan Naiki pun semakin tinggi.


Steffanie lalu berdiri dan meminta dua orang security untuk mengangkat Sonya ke dalam mobilnya. Ia ingin membawa Sonya ke IGD terdekat.


"Awas kau, anak sial! Aku akan mengejarmu sampai ke ujung dunia sekali pun." Rutuk Steffanie dalam hati. Ia lalu masuk ke mobil dan melajukan mobilnya menuju IGD terdekat.

__ADS_1


*********


💙💙💙💙💙


__ADS_2